Dihadapi dilema, kita memikirkan bagaimana keputusan yang tepat, tapi apakah itu bahkan diperlukan?

 

Dilema adalah fenomena yang terjadi di setiap lapis kehidupan, menembus perbedaan ras, agama, status sosial, dan budaya, tidak terkecuali kehidupan sebagai tenaga medis. Dokter, pada khususnya, sering kali menghadapi dilema etis, yang tidak jarang bersinggungan dengan hidup matinya seseorang.

Kata orang, dokter adalah profesi yang mulia. Menyembuhkan penyakit, menyelamatkan nyawa, memperbaiki hidup, dan banyak lagi. Tidak jarang anak-anak pun bercita-cita menjadi dokter dengan membayangkan sosok ideal mereka. Namun, kenyataan ternyata tak semanis itu.

Jika dihadapkan pada kondisi ketika terdapat tiga orang korban kecelakaan dengan harapan hidup yang berbeda-beda, sebut saja urutan pertama hingga ketiga, apa yang akan kita lakukan? Gambaran ideal yang kita pikirkan adalah menyelamatkan ketiganya, menyelamatkan orang yang paling kritis terlebih dahulu, dilanjutkan menyelamatkan orang kedua, baru pertama. Apakah itu tindakan yang tepat?

Setelah layak menjadi dokter, kita mengucapkan sumpah dokter kita, baik itu Sumpah Hippokrates ataupun Sumpah Dokter Indonesia. “Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan” adalah bunyi lafal keenam Sumpah Dokter Indonesia. Kemudian, datang pada kita seorang calon ibu dengan usia yang terlalu muda untuk memiliki anak, meminta pada kita untuk mengaborsi janinnya. Sesuai sumpah, kita seharusnya menolak permintaan tersebut. Lagi, apakah itu tindakan yang tepat?

“Bukankah itu sama saja dengan melanggar janji yang telah kita ucapkan pada negara, pada masyarakat, terlebih lagi, pada diri kita sendiri?” Berkali-kali pertanyaan itu menghantui pikiran. Kala itu, saya mempertanyakan idealisme saya, meragukannya. Hingga suatu ketika, seorang teman menerangkan keyakinan ini.

Dokter bukanlah profesi seperti yang ada di mimpi masa kecil kita. Dokter bukanlah superhero, kita tidak memiliki kekuatan super. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebetulan kelebihan kita adalah kemampuan untuk menolong nyawa, namun kita hanyalah vektor. Tuhanlah yang memegang nyawa, baik nyawa mereka maupun nyawa kita.

Pada kasus ketiga korban kecelakaan, yang sepatutnya kita lakukan adalah menyelamatkan korban urutan pertama, yang memiliki harapan hidup paling tinggi. Jika kita memilih untuk tetap menyelamatkan orang yang paling sekarat, jikapun kita berhasil, keadaan orang kedua bisa memburuk, entah mendekati atau malah lebih gawat dari orang yang baru saja kita selamatkan. Begitu pula dengan orang pertama. Terlebih lagi, apakah kita sanggup menangani ketiganya sekaligus, tanpa membuang waktu sedetik pun yang sangat berarti?

Hal yang sama berlaku pada kasus aborsi. Jika kita memegang teguh sumpah kita—lafal keenam—berarti kita membiarkan calon ibu muda itu melahirkan anaknya. Namun, mengapa kita berpandangan sempit? Seorang ibu muda yang hamil secara tidak direncanakan dibiarkan melahirkan dengan risiko tinggi untuk wafat karena terlalu muda. Jika bayi itu lahir, lalu siapa yang akan mengurusnya hingga ia dapat memahami dunia? Sebut saja sang ibu berhasil hidup. Apa dengan usianya itu ia memiliki cukup sumber daya untuk menghidupi anaknya? Kita boleh jadi memegang satu sumpah, namun mungkin malah melanggar sumpah lainnya, tidak mengutamakan pasien.

Dokter juga adalah manusia, kita lahir dan hidup seperti pasien, tanpa kekuatan super, hanya diberikan secercah kelebihan dari Yang Mahakuasa. Dengan segala keterbatasannya, kita dibekali akal, hal yang membuat manusia istimewa—sebuah modal yang dapat membedakan dan menimbang hal yang baik dan buruk. Kita tidak harus memutuskan apa yang benar dan yang tepat karena terkadang kita hanya perlu membuat keputusan yang baik.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr