Bertumbuh dan berkembang merupakan proses normal pada seorang anak. Masa anak-anak bisa dibilang merupakan masa tumbuh kembang yang paling pesat sekaligus paling rentan mengalami kelainan. Mengingat penanganan penyakit pada anak berbeda dengan orang dewasa, seorang dokter harus memiliki pengetahuan dan keterampilan spesifik dalam menangani anak.

Berkaitan dengan hal tersebut, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) VIII dengan tema Pediatric Clinical Updates in Daily Practices. Kegiatan simposium dan workshop yang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini diselenggarakan di Hotel Alana, Solo pada 10-11 Februari 2018. Acara PKB VIII ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para dokter, baik dokter umum maupun spesialis anak, terkait upaya optimalisasi tumbuh kembang anak.

Acara dimulai pada hari Sabtu 10 Februari 2018 pukul 08.00 pagi. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana PKB VIII dan perwakilan dari IDAI. Setelah itu, acara berlanjut ke presentasi sesi satu, yang salah satunya berjudul “Nutritional management of stunting in children”. Topik yang dibawakan oleh dr. Endang Dewi L, SpA(K) ini mengulas stunting mulai dari data epidemiologi secara global hingga pemberian asupan gizi yang esensial untuk anak-anak penderita stunting.

Secara klinis, stunting atau perawakan pendek merupakan kondisi ketika panjang atau tinggi badan seorang anak berada di bawah -2 SD pada grafik persentil panjang/tinggi badan per usia. “Menurut data WHO, kasus stunting di dunia mencapai angka 162 juta,” terang Dewi. Bahkan, kasus stunting juga sudah dialami oleh Indonesia. Menurut survei UNICEF pada tahun 2012, Indonesia menjadi negara dengan angka stunting balita tertinggi ke-5 di dunia.

Dampak stunting bisa dibagi menjadi dampak jangka panjang dan pendek. “Stunting dalam jangka pendek bisa menyebabkan kematian, penurunan aspek kognitif-motorik-bahasa, serta penurunan kualitas ekonomi akibat tingginya biaya kesehatan anak tersebut,” tutur Dewi. Penelitian juga menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, stunting bisa menyebabkan perawakan pendek menetap pada usia dewasa dan meningkatkan risiko munculnya penyakit seperti obesitas dan penurunan toleransi terhadap glukosa.

Lantas bagaimana penatalaksanaan yang tepat pada kasus stunting? “Yang paling utama, tata laksana stunting harus disesuaikan dengan penyebabnya,” ujar Dewi. Salah satu penyebab dari stunting adalah nutrisi yang tidak adekuat. Oleh sebab itu, pemberian nutrisi yang tepat dapat mencegah stunting pada anak.

Di akhir sesi, Dewi menerangkan beberapa zat gizi yang berperan dalam pertumbuhan linier seorang anak. Pertama, pemberian protein sebesar 12-15% total kalori mampu mempercepat pertumbuhan linier. Kedua, pemberian asupan seng sebesar 23-28 mg/hari mampu menstimulasi pertumbuhan sel tubuh sehingga mendukung pertumbuhan anak. Selanjutnya, pemberian suplemen vitamin A dengan dosis 5000-206.000 IU juga mampu meningkatkan tinggi dan berat badan anak. Selain kedua hal itu, pemberian mikronutrien seperti zat besi juga harus diperhatikan.

Menjadi negara dengan angka stunting tertinggi ke-5 bukanlah hal yang membanggakan. Sudah saatnya para dokter sadar akan pentingnya upaya screening tumbuh kembang anak untuk mencegah terjadinya stunting.leo

 

Lahir di Bogor pada 2 Januari 1999. Saat ini sedang menempuh perkuliahan semester 5 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Hobi menulis dan bernyanyi.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr