“Dok, saya asam urat. Ga kuat berdiri atau jalan,” keluh sang Pasien. “Maksudnya asam urat bagaimana, Bu?” tanya saya. “Ini Dok, lutut saya sakit banget,” kata pasien sambil menunjuk lutut kirinya.

Capture

Nyeri lutut merupakan salah satu gejala yang sering dikeluhkan oleh pasien dewasa, khususnya yang berusia lanjut. Tidak jarang, pasien datang dengan anggapan bahwa dirinya mengidap asam urat atau rematik. Padahal, salah satu penyebab nyeri lutut terbanyak adalah osteoarthritis.

Osteoarthritis (OA) merupakan kondisi di mana tulang rawan pada permukaan sendi mengalami kerusakan progresif. Akibatnya, terjadi peningkatan gesekan antara dua permukaan tulang yang bertemu. Dua jenis osteoarthritis yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah osteoarthritis pada sendi lutut dan sendi panggul.

Di Indonesia, jumlah kasus OA tergolong cukup banyak. Menurut Soeroso, dkk. total penderita OA di Indonesia mencapai 5% populasi pria dan 12,7% populasi wanita. Berdasarkan data yang ada, memang diketahui bahwa jumlah penderita perempuan lebih banyak dibandingkan pria. Selain itu, usia lanjut, riwayat cedera persendian, kelemahan otot, berat badan berlebih, sindrom metabolik, serta gerakan menekuk sendi yang berulang juga meningkatkan risiko seseorang terkena OA.

Orang yang mengalami osteoarthritis biasanya datang ke dokter dengan keluhan nyeri pada persendian yang membatasi aktivitas. Contohnya, penderita hanya bisa berjalan hingga jarak tertentu karena tidak sanggup menahan nyeri. Keluhan tersebut seringkali diikuti dengan rasa kaku dan bengkak pada sendi yang nyeri. Pada malam hari atau saat beristirahat, umumnya nyeri tersebut tidak berkurang.

Untuk memastikan diagnosis osteoarthritis, diperlukan pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen atau magnetic resonance imaging (MRI). Apabila diagnosis sudah ditegakkan, dokter akan memulai pengobatan. Pengobatan untuk masalah osteoarthritis dapat dibagi menjadi dua, yaitu tata laksana non-operatif dan terapi bedah. Pada jenis OA ringan, terapi non-operatif menjadi pilihan utama. Beberapa modalitas yang tersedia meliputi:

  • Pemberian obat anti inflamasi non-steroid, seperti ibuprofen, asam mefenamat, natrium diklofenak, piroksikam, dsb.,
  • Rehabilitasi, edukasi, dan aktivitas fisik untuk melatih kekuatan dan gerak sendi yang bersangkutan,
  • Penurunan berat badan, terutama bagi pasien yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas 25.

Apabila terapi non-operatif tidak berhasil, tindakan pembedahan harus dipertimbangkan. Terapi bedah pada penyakit OA bertujuan untuk memperbaiki permukaan sendi yang rusak agar keluhan nyeri dapat berkurang.

Tidak mau dioperasi? Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah osteoarthritis? Beberapa faktor risiko yang dapat dicegah, antara lain menghindari cedera pada persendian, rutin berolahraga untuk memperkuat otot di sekitar sendi, menjaga berat badan agar tidak berlebih, dan menghindari gerakan repetitif yang berlebihan pada sendi.

 

 

Referensi:

  1. Watts, E. and Karadsheh, M. (2018). Knee Osteoarthritis – Recon – Orthobullets. [online] Orthobullets.com. Available at: https://www.orthobullets.com/recon/12287/knee-osteoarthritis [Accessed 14 Sep. 2018].
  2. Soeroso dkk J., Isbagio H., Kalim H., Broto R., Pramudiyo Osteoartritis, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi pertama. Jakarta: Internal Publishing, 2009.
  3. Zhang W, Nuki G, Moskowitz RW, Abramson S, Altman RD, Arden NK, et al. OARSI recommendations for the management of hip and knee osteoarthritis: part III: Changes in evidence following systematic cumulative update of research published through january 2009. Osteoarthritis Cartilage. 2010 Apr;18(4):476-99.
Dokter PTT RSUD Umbu Rara Meha Waingapu, NTT
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr