a shot in arm

Sejak lahir, manusia dianugerahkan sistem imunitas untuk melindungi tubuhnya dari paparan penyakit. Sebagian orang percaya bahwa sistem imunitas ini sudah cukup untuk melindungi tubuh mereka terhadap penyakit. Namun seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, pada tahun 1790an ditemukan vaksin pertama di dunia oleh Edward Jenner. Penemuan ini lahir akibat adanya wabah penyakit cacar yang telah merenggut banyak nyawa. Cara yang disebut vaksinasi atau imunisasi ini kini menjadi salah satu metode pencegahan kesakitan dan kematian, terutama pada anak-anak, di seluruh dunia.

Hingga saat ini penemuan vaksin telah banyak mengalami perkembangan, meskipun demikian tidak semua penyakit dapat dicegah oleh vaksin. Berikut adalah jenis vaksin yang ada di Indonesia : Hepatitis B, Polio, BCG (untuk tuberculosis), DTP, HiB (Hemophilus Influenzae tipe B), PCV (untuk infeksi pneumokokus), rotavirus, influenza, campak, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, HPV, Japanese Encephalitis (untuk daerah yang pernah mengalami wabah), Dengue.

Anak-anak khususnya bayi rentan terkena infeksi, maka untuk anak yang berusia < 1 tahun, wajib memperoleh imunisasi dasar. Jenis imunisasi tersebut antara lain : BCG, DPT, Hepatitis B, polio, dan campak. Sebagai panduan untuk imunisasi, biasanya dokter akan memberikan kartu imunisasi. Pada kartu ini akan tercantum imunisasi apa saja yang telah diberikan.

Tidak hanya anak-anak, dewasa pun masih memerlukan imunisasi. Bila akan bekerja atau pergi ke daerah epidemik tertentu, imunisasi untuk meningitis menjadi suatu hal yang wajib bagi calon Jemaah haji atau imunisasi hepatitis B untuk calon pekerja kesehatan. Bagi calon ibu, penting untuk mendapatkan informasi mengenai imunisasi apa saja yang perlu diberikan selama kehamilan.

Pada tahun 2017, Indonesia menghadapi kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di beberapa daerah. Kala itu kementrian kesehatan giat sekali mensosialisasi mengenai pentingnya imunisasi DTP, bahkan beberapa puskesmas sampai mengadakan program imunisasi DTP gratis untuk anak 1-18 tahun. Pada saat terjadi wabah, orang dewasa pun dianjurkan untuk melakukan imunisasi DTP ulang atau dikenal dengan istilah ‘booster’ vaksin. Tujuannya adalah untuk menjaga sistem kekebalan tubuh terhadap difteri.

Proses infeksi dapat menyebabkan masalah yang serius (seperti kecacatan) atau bahkan dapat mematikan. Oleh sebab itu penting untuk melakukan imunisasi. Bila ada hal yang masih membuat Anda ragu, silahkan ditanyakan terlebih dahulu kepada dokter atau bidan.

 

Refrensi

  1. Edward Jenner, Bapak Vaksinasi [internet]. Kompas. 2011 Jan 19 [cited 2018 Oct 29]. Available from :

https://lifestyle.kompas.com/read/2011/01/19/1013081/edward.jenner.bapak.vaksinasi

  1. Stern Alexandra S dan Markel H. The History of Vaccines and Immunization : Familiar Patterns, New Challenges. Health Affairs. 2005; 24(3) : 611-21
  2. Understanding How Vaccines Work [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2018 July [cited 2018 Oct 29]. Available from :

https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/conversations/downloads/vacsafe-understand-color-office.pdf

  1. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun [Internet]. IDAI. 2017 [cited 29 Okt 2018]. Available from :

https://www.ibudanbalita.com/aplikasi/jadwal-imunisasi

  1. Difteri akan Dapat Diatasi [Internet]. Kemenkes. 30 Des 2017 [cited 29 Okt 2018]. Available from :

http://www.depkes.go.id/article/view/18010200005/difteri-akan-dapat-diatasi.html

  1. Growing Up with Vaccines : What Should Parents Know? [Internet]. Centers for Disease Control and Prevention. 2018 July [cited 2018 Oct 29]. Available from :

https://www.cdc.gov/vaccines/growing/images/global/CDC-Growing-Up-with-Vaccines.pdf

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr