Oleh Stephen Diah Iskandar

Masalah stunting (kondisi gagal tumbuh) pada anak-anak Indonesia cenderung terabaikan, terbukti dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang menunjukkan bahwa tidak ada penurunan jumlah balita stunting sejak tahun 2007 hingga 2013. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa 19,2% balita masuk kategori pendek dan 18% masuk kategori sangat pendek.1

Indonesia harus segera mengatasi permasalahan stunting karena dampak yang ditimbulkan, terutama jika terjadi pada anak usia di bawah 2 tahun, sangat fatal. Stunting menyebabkan penurunan IQ 5-11 poin, kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah, serta gangguan psikologis (kecemasan, depresi, rasa percaya diri lebih rendah, dan hiperaktif).2,3 Dalam jangka panjang, gangguan kognitif dan psikologis ini akan menyebabkan kesulitan untuk bersaing dalam dunia kerja. Ditambah lagi, ternyata dampak stunting yang ditimbulkan juga mempengaruhi generasi berikutnya. Anak yang lahir dari orang tua dengan riwayat stunting cenderung mengalami gangguan perkembangan psikomotor dan kognitif.4

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mengatasi stunting di Indonesia. Pertama, memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai dampak stunting dan pentingnya nutrisi yang baik (nutrisi selama kehamilan, ASI eksklusif, dan MPASI yang berkualitas). Kedua, sosialisasi penggunaan kurva growth velocity untuk deteksi dini kemungkinan bayi berisiko mengalami stunting. Kurva tinggi/panjang badan, status gizi, dan kartu menuju sehat (KMS) memerlukan pemeriksaan serial untuk menentukan seorang anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Padahal, seringkali orang tua tidak rutin membawa anaknya ke posyandu atau puskesmas karena merasa anaknya sehat. Dengan menggunakan kurva growth velocity, bayi yang berisiko dapat ditangani lebih awal sebelum terjadi stunting.5 Ketiga, anak yang diketahui mengalami stunting atau berisiko stunting harus segera dirujuk ke dokter spesialis anak supaya mendapat terapi khusus (susu formula, perhitungan diet, stimulasi, dan terapi lainnya).6 Keempat, anak yang sudah terlanjur stunting perlu dioptimalkan tingginya dengan memanfaatkan lonjakan pertumbuhan pada masa pubertas.7 Anak-anak tersebut perlu diberikan nutrisi yang seimbang, aktivitas fisik yang cukup, dan tidur dengan kuantitas dan kualitas yang baik.8 Terakhir, meminimalkan risiko infeksi pada anak dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan makanan, minuman, dan sanitasi tangan.7

Referensi

  1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013.
  2. Walker SP, Chang SM, Powell CA, Simonoff E, Grantham-McGregor SM. Early childhood stunting is associated with poor psychological functioning in late adolescence and effects are reduced by psychosocial stimulation. J Nutr. 2007;137(11):2464-9.
  3. Levinson FJ, Bassett L. Malnutrition is still a major contributor to child deaths [Internet]. 2007 [disitasi pada 3 November 2018]. Dapat diakses di: https://www.prb.org/wp-content/uploads/2007/08/Nutrition2007.pdf
  4. Walker SP, Chang SM, Powell CA, Simonoff E, Grantham-McGregor SM. Early childhood stunting is associated with lower developmental levels in the subsequent generation of children. J Nutr. 2015;145(4): 823-8.
  5. Haymond M, Kappelgaard AM, Czernichow P, Biller BMK, Takano K. Early recognition of growth abnormalities permitting early intervention. Acta Pediatr. 2013;102(8):787-96.
  6. Dewey KG. Reducing stunting by improving maternal, infant and young child nutrition in regions such as South Asia: evidence, challenges and opportunities. Matern Child Nutr. 2016;12(Suppl 1):27-38.
  7. Jee YH, Baron J, Phillip M, Bhutta ZA. Malnutrition and catch-up growth during childhood and puberty. World Rev Nutr Diet. 2014;109:89-100.
  8. Butte NF, Puyau MR, Wilson TA, Liu Y, Wong WW, Adolph AL, et al. Role of physical activity and sleep duration in growth and body composition of preschool-aged children. Obesity (Silver Spring). 2016;24(6):1328-35.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr