stop

 

“Rokok Membunuhmu”

Slogan di atas dapat kita jumpai di mana saja, terutama pada iklan terkait rokok. Frase singkat sarat makna ini menggantikan kalimat peringatan yang sebelumnya amat panjang berisi dampak negatif rokok bagi kesehatan. Sayangnya, banyak orang tetap bergeming, walaupun dengan jelas tertulis rokok mampu merenggut nyawa.

Sudah lama tenaga kesehatan berusaha menyadarkan masyarakat akan bahaya rokok. Organisasi kesehatan dunia juga sudah berjuang membujuk pengguna rokok melalui berbagai kampanye. Di lain pihak, pabrik rokok seakan tak mau kalah dengan semakin semangat menjual produknya.

Sebagai pihak yang diperebutkan, sebagian masyarakat mungkin menunjukkan niat untuk berhenti merokok, sebagian masih terlena nikmatnya menghembuskan asap rokok, sebagian lainnya hanya menjadi penonton. Berada di kelompok mana pun, tidak ada salahnya menambah wawasan bahwa rokok menyebabkan penyakit jantung, stroke, flek paru, maupun kanker.

 

“Saya akan berhenti ketika sudah tua”

Sebagian orang mungkin menganut prinsip seperti “hidup hanya sekali, nikmatilah selagi bisa”. Padahal dampak merokok tidak mengenal waktu. Tidak ada yang tahu kapan seorang perokok akhirnya mengalami gejala penyakit-penyakit di atas sebab ketahanan setiap orang berbeda. Oleh karena itu, perokok yang mengaku sehat bukan berarti tidak mengalami kerusakan dalam tubuhnya, melainkan belum tampak tandanya.

Pada orang muda yang merokok, dapat terjadi penurunan kebugaran tubuh. Denyut jantung perokok umumnya lebih cepat daripada bukan perokok, yaitu sebesar dua sampai tiga kali lipat. Napas yang terengah-engah juga lebih sering dialami oleh para perokok muda dibandingkan bukan perokok. Selain itu, remaja yang sudah merokok tidak jarang terlihat mengalami masalah psikologis dan emosional.

Jika diperhatikan, memang tanda-tanda tersebut tidak spesifik atau cukup penting hingga membuat seseorang membuang pikiran dari merokok. Namun, pada dasarnya asap dan zat-zat kimia rokok memang merusak secara perlahan, sedikit demi sedikit menyebabkan peradangan serta kerusakan struktur organ. Bila terlena dan semakin lama menunda saat untuk berhenti, akan muncul keluhan makin jelas yang mana merupakan peringatan bahwa penyakit sudah berkembang dalam tubuh.

 

“Hanya bicara memang mudah”

Keberhasilan untuk berhenti merokok selalu ditentukan oleh diri sendiri. Baik fisik maupun mental harus siap karena berhenti merokok bisa sangat menyiksa, terutama bila sudah sangat kecanduan. Selain itu, sering kali lingkungan dan orang terdekat tidak terlihat mendukung upaya ini.

Ada tiga cara berhenti, yaitu berhenti seketika, menunda, atau mengurangi. Dengan berhenti seketika, seseorang tidak boleh menyentuh rokok sama sekali. Cara penundaan dilakukan dengan memundurkan waktu pertama mengisap rokok setiap harinya selama dua jam, misalnya pertama kali merokok pukul 08.00 ditunda menjadi 10.00 di hari berikutnya, 12.00 keesokan harinya, dan seterusnya hingga tujuh hari. Teknik pengurangan dilakukan dengan menurunkan rokok yang diisap dengan jumlah yang sama setiap harinya.

Bicara tentang metode saja memang mudah maka meminta bantuan orang terdekat dan dokter untuk memovitasi serta memberikan penanganan sangatlah penting. Membuang segala hal terkait rokok membantu mengurangi godaan. Kapan harus memulai? Tetapkan saat yang tepat dalam waktu dekat.

Nikmatnya hidup adalah ketika bisa tersenyum sampai tua. Yakin masih bisa tersenyum jika mengalami kanker akibat merokok?

 

 

Pustaka

  1. World Health Organization. Tobacco free initiative (TFI) [Internet]. [cited 2018 Jun 8]. Available from: http://www.who.int/tobacco/research/youth/health_effects/en/
  2. Taufik FF. Program berhenti merokok. Lecture presented at; 2015; RS Harapan Kita
  3. Kementerian Kesehatan RI. Lima langkah cerdas berhenti merokok [Internet]. 2016 Oct 19 [cited 2018 Jun 8]. Available from: http://www.p2ptm.kemkes.go.id/artikel-sehat/lima-langkah-cerdas-berhenti-merokok
Veronika Renny Kurniawati
Pemimpin Redaksi Media Aesculapius FKUI
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr