6a00d8357f3f2969e201b7c9125a4b970b

“Memangnya vaksinasi perlu ya dok?

Anak saya dua, dua-duanya nggak saya vaksin tapi sehat-sehat saja kok “

Begitulah pertanyaan seorang perawat senior di Puskesmas tempat saya internsip. Ya, kalau pertanyaan ini muncul dari orang awam mungkin kita masih bisa maklum, tapi kali ini, petugas kesehatan sendirilah yang mempertanyakan bahkan menentang vaksinasi. Pertanyaan ini menggelitik saya untuk kembali berpikir, apakah itu vaksinasi? Haruskah kita takut?

Vaksinasi sering disamaartikan dengan imunisasi. Padahal, vaksinasi merupakan imunisasi aktif dengan pemberian vaksin yang merangsang pembentukan antibodi tubuh. Imunisasi terdiri dari imunisasi aktif (memberikan antigen) dan pasif (memberikan antibodi). Imunisasi dan vaksinasi berfungsi untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita. Imunisasi anak di Indonesia diberikan dari umur 0-18 tahun dengan 5 imunisasi rutin yaitu BCG, polio, hepatitis B, DTP dan campak. Pemerintah saat ini sedang gencar melaksanakan program imunisasi MR (Measles/campak-Rubella/campak jerman) untuk mewujudkan Indonesia bebas MR tahun 2020.

Kelompok Anti-vaksin

Banyak orang tua menganut paham my kids my rules. Hal ini tentu sah-sah saja, namun alangkah bijaknya bila didasari oleh alasan dengan bukti yang kuat. Kelompok anti-vaksin sendiri tidak hanya berada di Indonesia, bahkan kita bisa menemukan berbagai situs web luar negeri yang mengkampanyekan anti-vaksin, lengkap dengan cerita kesaksian dari para “korban”. Mari kita coba telaah satu persatu alasan dari kelompok anti-vaksin ini.

Salah satu alasan yang populer di antara kelompok ini adalah vaksin menyebabkan autisme.  Hal ini marak diperbincangkan setelah pada tahun 1998, sebuah penelitian yang dilakukan oleh ilmuan Inggris tentang hubungan vaksin MMR dengan autisme dipublikasikan oleh The Lancet.  Penelitian ini dilakukan oleh dr. Andrew Wakefield terhadap 12 orang anak yang menderita autisme. Namun, pada tahun 2010 penelitian ini ditarik karena 12 studi lanjutan lainnya tidak menemukan hubungan antara vaksinasi dengan autisme. Selain itu, investigasi yang dilakukan oleh seorang jurnalis Inggris bernama Brian Deer menemukan bahwa Wakefield telah dibayar sebesar 400.000 pounds oleh seorang pengacara untuk menyatakan bahwa vaksinasi tidak aman.

Kandungan timerosal dalam vaksin juga sering dianggap sebagai penyebab dari autisme. Timerosal merupakan suatu bahan yang mengandung merkuri dalam pembuatan  dan penyimpanan vaksin yang berguna untuk  mencegah pertumbuhan bakteri patogen dan jamur. Timerosal dianggap dapat mencetuskan autisme. Namun, hal ini dibantah dengan berbagai penelitian yang dilakukan tahun 2003-2012 yang tidak menemukan hubungan antara timerosal dengan autisme. Selain itu, penggunaan timerosal dalam vaksin sudah dikurangi dan dihilangkan sejak tahun 1999-2000 untuk meminimalisir paparan merkuri pada anak.

Di Indonesia, kehalalan suatu vaksin menjadi alasan banyak orang menjadi kelompok anti-vaksin. Vaksin MR menggunakan  enzim tripsin yang berasal dari babi dalam proses pembuatannya, namun enzim ini kemudian mengalami pembersihan dan pencucian berkali-kali sebelum terbentuknya vaksin. Berkaitan dengan masalah kehalalan vaksin,  Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa No 33 tahun 2018 tentang penggunaan vaksin MR. Fatwa ini menetapkan walaupun vaksin MR haram, namun penggunaanya diperbolehkan (mubah). Hal ini disebabkan karena ada kondisi keterpaksaan, belum ditemukannya vaksin halal dan adanya bahaya yang dapat ditimbulkan bila tidak diberikan. MUI juga merekomendasikan kepada pemerintah dan produsen vaksin untuk segera mengupayakan produksi vaksin halal.

Lantas, apa akibatnya bila anak tidak divaksin?

Ternyata banyak sekali penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi. Masih jelas diingatan kita kasus KLB difteri atau KLB campak di Papua tahun 2017 lalu yang banyak memakan korban. Kedua penyakit ini merupakan penyakit menular yang tentu dapat dicegah dengan vaksinasi. Sayangnya, imunisasi campak rubella melalui Kampanye Nasional Imunisasi Campak-Rubella (Measles-Rubella/MR)  tahap II yang dilakukan di luar pulau Jawa hasilnya masih belum memuaskan. Hingga akhir September 2018, target 95 persen anak mendapat imunisasi MR masih belum tercapai.

Campak  dan rubella (campak jerman) merupakan penyakit yang mudah menular. Gejala rubella lebih ringan daripada campak, namun apabila menginfeksi ibu hamil terutama pada trimester pertama, dapat menimbulkan kelainan bahkan kematian pada janin. Sindrom rubella kongenital merupakan kumpulan penyakit yang menginfeksi janin dengan gejala kekeruhan lensa mata, penyakit jantung bawaan, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan termasuk keterlambatan bicara dan disabilitas intelektual.  Cakupan imunisasi yang rendah (kurang dari 95 persen) membuat herd immunity tidak terbentuk. Herd immunity adalah situasi dimana sebagian besar masyarakat terlindungi/kebal terhadap penyakit tertentu sehingga menimbulkan dampak tidak langsung yaitu turut terlindunginya kelompok yang bukan merupakan sasaran imunisasi. Jadi, dengan banyaknya anak yang kebal (diimunisasi) diharapkan dapat mencegah infeksi rubella ke ibu hamil dan janinnya. Kita bisa bayangkan bila herd immunity ini tidak terbentuk, bukan?

Bila kita telaah kembali, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak vaksinasi, apalagi mengingat begitu banyak manfaat dari pemberian vaksin pada anak. Argumen anti-vaksin juga sudah dapat dibantah dengan berbagai penelitian yang ada. Program imunisasi pemerintah sudah sepatutnya didukung, terutama oleh para petugas kesehatan diseluruh Indonesia. Jadi sekarang,  haruskah kita takut divaksinasi?

 

Referensi

Centers for disease control and prevention. Vaccines do not cause autism (Internet). 2016 (Disitasi pada 2 November 2018). Dapat diakses di https://www.cdc.gov/vaccinesafety/concerns/autism.html

Deer B. How the case against the MMR Vaccine was fixed. The BMJ. 2011; 342: 77-84

Deer B. How the vaccine crisis was meant to make money. The BMJ. 201; 342:52-8

Gunardi H, Karrtasasmita C B, Rezeki S, dkk. Jadwal imunisasi anak usia 0-18 tahun: rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Tahun 2017. Sari Pediatri. 2017;18: 417-22

Halim D. Capaian Baru 49 persen, program vaksin MR fase kedua dilanjutkan (Internet). 2018 (Disitasi pada 1 November 2018).  Dapat diakses di https://nasional.kompas.com/read/2018/09/19/07343291/capaian-baru-49-persen-program-vaksin-mr-fase-kedua-dilanjutkan

Lahbil D, Souldi L, Rais L, dkk. Manifestation of congenital rubella syndrome: clinical and epidemiologic aspects. Bull Soc Belge Opthalmol. 2007; 303:13-20

Majelis Ulama Indonesia. Fatwa MUI No 33 Tahun 2018.

Rao TSS, Andrade C. The MMR vaccine and autism: sensation, refutation, retraction and fraud. Indian J. Psychiatry. 2011;53:95-96.

Wakefield AJ, Murch SH, Anthony A, dkk. Ileal-lymhoid-nodular hyperplasia, non specific colitis, and pervasive developmental disorder in children. The Lancet.1998; 351 :638-41.

 

by Chindy A

 

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr