Vaccine-2

Wabah cacar yang terjadi pada akhir abad 17 telah menciptakan sejarah besar dalam dunia kesehatan. Tahun 1798 Edward Jenner dari Inggris menemukan bahwa cacar sapi yang diberikan sebagai inokulum dapat mencegah cacar pada manusia. Sejak itu, vaksin terus berkembang dan menjadi salah satu pilar utama untuk mencegah penyakit menular. Namun, perkembangan vaksin di dunia mendapatkan hambatan dengan lahirnya gerakan anti-vaksinasi yang secara terang-terangan menolak dan  menyuarakan  bahaya dari  vaksinasi. Tenaga medis merupakan sosok yang diharapkan menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan masyarakat dari paradigma yang keliru ini. Namun, beberapa tenaga kesehatan justru menjadi oknum yang mempropagandakan gerakan anti-vaksin dengan menerbitkan buku maupun mengeluarkan pernyataan yang dapat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap vaksin. Kalangan medis sendiri yang pada akhirnya memicu kontroversi vaksin-antivaksin.

Selain kalangan medis, pengaruh artis-artis tanah air yang ikut menyuarakan antivaksin perlu menjadi perhatian. Paradigma sang idola pasti sedikit banyak akan mempengaruhi cara berpikir penggemarnya. Kita tidak bisa terus berdiam diri menyaksikan perkembangan komunitas antivaksin yang terus menerus menggerogoti pemikiran masyarakat mengingat vaksin merupakan kebutuhan vital untuk mencegah penyakit menular. Paradigma antivaksin harus dilawan secepat mungkin, namun mengubah persepsi masyarakat yang telah banyak diracuni retorika menyesatkan bukanlah hal yang mudah. UUD 1945, UU Perlindungan Anak, dan UU Kesehatan beserta turunannya menjamin hak anak untuk mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Regulasi yang mengisyaratkan dilakukannya vaksinasi sebagai upaya mencegah penyakit harus kembali ditegakkan di negeri ini. Kebebasan kalangan medis mengeluarkan pendapat tanpa disertai bukti yang akurat pun harus mulai dibatasi dan diawasi hukum. UU No. 19 Tahun 2016 tentang Internet dan Transaksi Elektronik menyebutkan bahwa penyebaran berita bohong dapat diadukan untuk diproses secara hukum. Tenaga medis hendaknya dapat memanfaatkan media sosial dengan bijak dalam menyebarkan informasi yang berbasiskan bukti medis. Di sisi lain, masyarakat juga harus cerdas dalam memilih dan memilah informasi yang dibaca. Kerjasama tenaga kesehatan, penegak hukum, pemerintah, dan masyarakat sendiri merupakan merupakan solusi untuk melawan paradigma antivaksin di Indonesia.

 

Referensi :

Caulfield, Timothy. Injecting Doubt: Responding to The Naturopathic Anti-Vaccination Rhetoric. Journal of Law and the Biosciences. 2017; 4(2):229–249

Hotez, PJ. “Vaccine Diplomacy”: Historical Perspectives and Future Directions. PLoS Negl Trop Dis. 2014;8(6):e2808

Plotkin, Stanley. Vaccines, Vaccination, and Vaccinology. The Journal of Infectious Diseases. 2003;187(9):1349–1359

Sundoro, Julitasari. Kampanye Anti-Vaksin oleh Seorang Dokter, Apakah Melanggar Etik. JEKI. 2018;2(1):1–5

 

by Shan Nea

 

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr