Sekarang ini sering sekali kita jumpai tawaran cek kolesterol, gula darah, asam urat, menggunakan strip yang ditancapkan ke alat elektronik yang kemudian hasilnya akan keluar dalam beberapa menit. Alat ini dikenal dengan nama GCU singkatan dari Glucose,  Cholesterol, Uric Acid – bahasa inggris dari Glukosa atau gula darah, kolesterol, dan asam urat.

Pemeriksaan dengan memakai strip dan alat GCU ini disukai karena kemudahannya dalam memperoleh hasil tanpa harus diambil darah dengan jarum suntik dan menunggu waktu yang lama untuk diperiksa di lab. Dengan menusuk ujung jari, diperoleh darah kapiler (darah pada jaringan) lalu tempelkan strip dan akan muncul berapa nilai gula darah anda. Namun, benarkan hasilnya akurat?

 Standar ISO sebagai acuan

Adanya berbagai produk GCU di masyarakat tidak membuat adanya variasi pada hasil pengukuran selama alat GCU tersebut telah distandardisasi sesuai standar ISO, sebuah organisasi internasional yang bekerjasama dengan standardisasi berbagai alat-alat yang ada di Indonesia. Di Indonesia sendiri, ISO diwakili oleh BSN – badan standar nasional yang dibentuk tahun 1997 dan fungsinya diatur oleh UU nomor 20 tahun 2014. Untuk glukosa, standar yang digunakan adalah  ISO 15197:2013 dan masih berlaku hingga sekarang.

Akurasi Pengukuran Glukosa

Sesuai dengan ISO 15197:2013, akurasi dari GCU untuk pengukuran glukosa adalah:

  • 95% dari seluruh tes yang memiliki nilai aktual* > 5,5 mmol/L ( > 99,10 mg/dL) harus memiliki hasil + 15% dari nilai aslinya
  • 95% dari seluruh tes yang memiliki nilai aktual* < 5,5 mmol/L ( < 99,10 mg/dL) harus memiliki hasil + 0,83 mmol/L (+ 14,94 mg/dL) dari nilai aslinya
  • Harus disertakan pemberitahuan apakah terdapat pengaruh perubahan hasil pada kondisi hemoglobin yang berbeda

* = Nilai aktual yang dimaksud adalah nilai hasil pengukuran dengan metode standar (yakni pemeriksaan lab konvensional)

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan:

  • Alat GCU dianggap akurat apabila hasilnya masih dalam rentang 15% dari nilai asli atau dalam rentang 14,94 mg/dL (mana yang lebih besar, yang digunakan)
  • Maksimal 1 dari 20 percobaan (5%) akan menghasilkan hasil pemeriksaan yang tidak akurat (yakni hasil berbeda lebih dari 15% atau 14,94 mg/dL)

Apabila dibuat dalam bentuk grafik, maka hasilnya adalah seperti berikut. Di bawah ini adalah hasil plotting dari tiga contoh GCU, dengan garis kuning sebagai batas kesalahan sesuai standar ISO.

Grafik yang menggambarkan batas akurasi GCU

Grafik yang menggambarkan batas akurasi GCU

Kali ini, kita tidak akan membahas mengenai akurasi alat yang diukur dalam grafik, namun perhatikan garis kuning sebagai batas kesalahan pengukuran, di mana pada nilai di atas 200, rentang kesalahan meluas hingga + 30 mg/dL. Sebagai ilustrasi kasus, gula darah aktual 200 mg/dL dapat menunjukkan angka 170 hingga 230.

Apakah berarti GCU tidak dapat digunakan?

Tujuan utama GCU adalah membantu pasien mengukur gula darah, bukan menegakkan diagnosis bahwa seseorang menderita diabetes mellitus tipe 2. Berdasarkan konsensus Diabetes Mellitus tipe 2 Perhimpunan Dokter Endokrin Indonesia (PERKENI), target kontrol gula darah 1-2 jam pasca makan dengan darah kapiler adalah <180 mg/dL. Artinya, hasil ini dapat jatuh di antara 153-207. Dengan demikian, pada pasien DM tipe 2 yang menggunakan GCU, gula darah masih dapat dipantau menggunakan GCU dengan cukup akurat. Namun, tetap disarankan untuk tetap kontrol ke dokter secara rutin tiap 2-3 bulan.

 

Referensi:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2845057/

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5951056/#bibr2-1932296817727550

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr