“Saya sering sakit maag dan sudah minum macam-macam obat, tapi masih saja sering kambuh. Kira-kira kenapa ya?”

sakit maag

Sumber gambar: https://www.lifealth.com/wellness/healthy-living/foods-reduce-excess-acid-present-stomach-av/58427/

Sakit maag merupakan istilah yang tidak lagi asing di kalangan masyarakat Indonesia.  Dalam dunia medis penyakit ini lebih dikenal dengan istilah dispepsia. Dispepsia diartikan sebagai rasa tidak nyaman pada perut bagian atas.

Dispesia terbagi menjadi 2 tipe, dispepsia fungsional dan dispesia organik. Sebagian besar kasus dispepsia, sekitar 43-79,5%, sebenarnya merupakan kasus dispepsia fungsional yang berarti dispepsia  ini tidak disertai adanya kelainan organik pada organ lambung dan tidak disertai penyebab yang jelas.  Sebaliknya, dispepsia organik merupakan dispepsia yang disertai dengan adanya ulkus pada lambung, gastritis yang erosif, atau pun karena kanker lambung.

Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai  faktor antara lain:

  • Infeksi bakteri Helicobacter pylori
  • Penggunaan obat-obatan anti-inflamasi non-steroid (OAINS)
  • Peningkatan asam lambung
  • Faktor diet
  • Psikologis
  • Kelainan pada sistem pencernaan, berupa ulkus atau refluks

Gejala-gejala yang dapat timbul pada penderita dispepsia adalah:

  • Nyeri epigastrik
  • Rasa terbakar di perut bagian atas
  • Mudah kenyang dan terasa penuh setelah makan
  • Kembung,
  • Mual, muntah, dan sendawa.

Tanda Bahaya pada Dispepsia

Meskipun tidak umum, dispepsia dapat menjadi pertanda penyakit yang lebih serius. Pada beberapa kasus, kanker lambung dapat menjadi penyebab dispesia. Oleh karena itu, langkah pertama dalam menangani dispepsia adalah memperhatikan ada atau tidaknya tanda-tanda bahaya, yaitu:

  • Penurunan berat badan yang cukup drastis
  • Sulit menelan
  • Muntah berulang
  • Tanda perdarahan seperti muntah darah atau BAB berdarah
  • Anemia
  • Teraba massa pada abdomen bagian atas
  • Riwayat kanker lambung pada keluarga
  • Usia di atas 45 tahun

Jika dijumpai tanda-tanda di atas, sebaiknya segera dikonsulitasikan ke dokter.

Penanganan Dispepsia

Jika tidak ditemukan adanya tanda bahaya, pasien dapat diberikan terapi empirik selama 2-4 minggu. Obat yang diberikan dapat berupa antasida yang fungsinya menetralkan asam lambung, ataupun obat antisekresi asam yaitu PPI (proton pump inhibitor) seperti omeprazole, rabeprazole atau lansoprazole, dan H2-receptor antagonist seperti ranitidine dan cimetidine. Jika terjadi perbaikan, maka terapi tersebut dapat dilanjutkan sesuai kebutuhan.

Apabilatidak terdapat respons pasien perlu dirujuk untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan endoskopi. Jika ditemukan adanya lesi atau kelainan organik yang menjelaskan gejala, tata laksana yang diberikan akan disesuaikan dengan penyebabnya. Mengingat tingginya prevalensi H. pylori di Indonesia, pemeriksaan deteksi bakteri ini juga dapat dilakukan. Jika ditemukan H. pylori yang positif pada pasien dengan gastritis,pasien perlu diberikan kombinasi PPI dengan antibiotik seperti klaritromisin,amoksisilin, atau metronidazol.

Bagaimana dengan pasien yang hasil endoskopinya normal, namun masih terus menderita gejala “sakit maag”? Kemungkinan besar, kasus tersebut adalah kasus dispepsia fungsional. Hal utama yang perlu dilakukan adalah modifikasi diet. Pola diet yang dianjurkan pada penderita dispepsia fungsional adalah konsumsi makanan dengan porsi yang lebih kecil,serta menghindari makanan yang kaya lemak. Beberapa studi juga menganjurkan untuk mengurangi konsumsi makanan pedas, asam, kopi, dan alkohol.

Selain itu, obat-obatan juga dapat diberikan untuk membantu meringankan gejala dispepsia. Obat yang diberikan disesuaikan berdasarkan gejala mana yang lebih dominan. Jika gejala lebih mengarah ke nyeri dan rasa terbakar pada epigastrium, obat yang dapat digunakan adalah PPI. Namun, jika gejala lebih dominan ke arah kembung, kenyang dan rasa penuh setelah makan, maka terapi yang dianjurkan adalah prokinetik seperti domperidon, dengan atau tanpa PPI.

Setelah gejala membaik, sebaiknya coba untuk menghentikan obat-obatan. Jika gejala masih sering kambuh, gunakan terapi hanya sesuai kebutuhan. Apabila setelah 4-8 minggu, kondisi belum membaik, dapat pula ditambahkan antidepresan untuk membantu meredakan gejala. Pasien yang tidak merespons terhadap semua obat-obatan tersebut sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Referensi

  1. Simadibrata M, Makmun D, Abdullah M, Syam AF, Fauzi A, Renaldi K, et al, eds. Konsensus nasional penatalaksanaan dispepsia dan infeksi Helicobacter pylori. Jakarta: Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia; 2014.
  2. Yamawaki H, Futagami S, Wakabayashi M, Sakasegawa N, Agawa S, Higuchi K, et al. Management of functional dyspepsia: state of the art and emerging therapies. Ther Adv Chronic Dis. 2018 Jan; 9(1): 23-32.
  3. Madisch A, Andresen V, Enck P, Labenz J, Frieling T, Schemann M. The diagnosis and treatment of functional dyspepsia. Dtsch Arztebl Int. 2018 Mar; 115(13): 222-232.

 

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr