Sarapan sering kali dilewatkan karena orang ingin menurunkan berat badan. Namun, melewatkan sarapan ternyata membawa diabetes semakin dekat.

 

Tubuh yang langsing tentu menjadi dambaan banyak orang terutama milenium baru yang menjadikan kurus sebagai salah satu standar kecantikan. Cara termudah yang dipahami oleh masyarakat untuk mencapainya adalah mengurangi makan. Masalahnya, tidak banyak orang paham bagaimana cara mengurangi makan yang benar.

Mengurangi makan secara mentah didefinisikan sebagai mengurangi frekuensi makan dan sarapan menjadi makan yang paling sering dikorbankan. Padahal, diet paling ideal adalah menghitung jumlah kebutuhan kalori per hari dan makan secara teratur dalam porsi yang cukup, bukan melewatkan salah satu porsi makan.

Melewatkan Sarapan Meningkatkan Risiko Diabetes

Melewatkan Sarapan Berhubungan dengan Meningkatnya Risiko Diabetes; Sumber: https://med.news.am/eng/news/20606/skipping-breakfast-raises-the-chance-of-type-2-diabetes-by-a-third.html

 

Sarapan, Asupan Terpenting

Sejak sekolah dasar, sarapan telah dipromosikan sebagai asupan terpenting. Sarapan memiliki peran yang vital dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Penelitian selama bertahun-tahun membuktikan bahwa sarapan menjadi sumber energi awal dalam memulai aktivitas dan melewatkannya dapat membawa hal yang buruk. Apabila kita berpikir dengan melewatkan sarapan berarti mengurangi asupan makan dan menurunkan berat badan, hal tersebut ternyata keliru 180 derajat. Penelitian menunjukkan orang yang melewatkan sarapan cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi.

Apa hubungannya dengan diabetes?

Selain IMT yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko diabetes, sebuah tinjauan sistematis yang dilakukan di Jerman akhir tahun lalu membuktikan melewatkan sarapan meningkatkan risiko Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2). Risiko DMT2 meningkat sebesar 6% pada mereka yang melewatkan sarapan sekali dalam seminggu dan naik secara tidak linier seiring semakin sering melewatkan sarapan dalam seminggu. Peningkatan risiko dapat mencapai angka puncak 55% pada orang yang melewatkan sarapan lebih dari lima kali seminggu. Ini menandakan pentingnya sarapan.

Nah, biasanya mereka yang melewatkan sarapan biasanya akan “mengompensasi” dengan kebiasaan ngemil. Padahal, ngemil juga salah satu faktor risiko DMT2. Bagaimana hal paradoksal ini dapat terjadi? Bukankah dengan tidak adanya asupan glukosa tubuh akan menggunakan lemak sebagai cadangan energi yang baik untuk menurunkan berat badan?

Ternyata hal ini berhubungan dengan metabolisme tubuh yang kaku sehingga terganggu saat harus merombak lemak menjadi energi. Perombakan lemak akan menyebabkan ketosis (peningkatan jumlah badan keton hasil metabolisme lemak di jaringan) yang dalam jangka panjang berperan dalam inflamasi. Inflamasi akan mengganggu metabolisme glukosa karena merusak sensitivitas reseptor insulin. Akibatnya, resistensi insulin terjadi ditambah dengan lonjakan glukosa darah saat makan siang pada orang yang melewatkan sarapan sehingga meningkatkan risiko DMT2.

Sekarang yang menjadi pertanyaan besar dan mendasar adalah sampai di mana batas sarapan?

Menurut sebuah tinjauan dari empat belas studi yang dilakukan O’Niel dkk pada 2014, sarapan adalah makanan pertama pada hari tersebut setelah waktu tidur terlama dan dikonsumsi 2-3 jam setelah bangun tidur. Seberapa banyak porsi sarapan yang ideal tentunya bergantung kebutuhan kalori orang tersebut.

Memang, bagi banyak orang sarapan sangatlah merepotkan. Kesibukan ditambah sedikitnya pilihan makanan di pagi hari membuat sarapan terkorbankan untuk mengejar waktu kerja dan sekolah. Namun, lebih baik mengeluarkan uang lebih dan repot sedikit untuk sarapan sejak dini ketimbang mengeluarkan uang lebih untuk kudapan dan repot di hari tua karena diabetes.

 

Referensi:

  1. Ballon A, Neuenschwander M, Schlesinger S. Breakfast skipping is associated with increased risk of type 2 diabetes among adults: a systematic review and meta-analysis of prospective cohort studies. J Nutr. 2019 Jan 1 [cited 2019 Mar 11]; 149(1): 106-113. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30418612
  2. Gibney MJ, Barr SI, Bellisle F, Drewnowski A, Faqt S, Livingstone B, et al. Breakfast in human nutrition: the international breakfast research initative. Nutrients. 2018 May [cited 2019 Mar 11]; 10(5): 559. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5986439/
  3. Mekary RA, Giovannucci E, Willett WC, van Dam RM, Hu FB. Eating patterns and type 2 diabetes risk in men: breakfast omission, eating frequency, and snacking. Am J Clin Nutr. 2012 May [cited 2019 Mar 11]; 95(5): 1182-9. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3325839/
Use No Limitation As Limitation
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr