Siapa tak kenal Muhammad Ali, sang petinju legendaris Indonesia? Beliau meninggal pada Juni 2016 lalu karena penyakit Parkinson yang telah dideritanya sejak pensiun dari profesinya. Hal ini cukup mempopulerkan istilah Parkinson terutama di kalangan masyarakat Indonesia.

Penyakit Parkinson

Sumber: https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/15/09/14/numoef359-operasi-stimulasi-otak-harapan-baru-bagi-penderita-parkinson

Penyakit Parkinson merupakan penyakit degeneratif saraf kronik tersering kedua setelah penyakit Alzheimer. Penyakit ini ditemukan oleh seorang dokter bernama dengan nama yang sama, James Parkinson, pada tahun 1817. Parkinson paling sering menyerang kaum lanjut usia, terutama pada kelompok usia di atas 60 tahun. Oleh sebab itu, prevalensinya dikhawatirkan terus meningkat seiring dengan meningkatnya populasi lanjut usia. Sayangnya, pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan gejala Parkinson kini masih kurang. Padahal, diagnosis dini penyakit Parkinson sangat dibutuhkan untuk dapat menghambat progresivitasnya.

Hingga kini, penyebab pasti penyakit Parkinson belum diketahui. Timbulnya penyakit ini diduga merupakan hasil dari interaksi faktor genetik dan lingkungan. Riwayat keluarga diduga memiliki peran kuat dalam timbulnya penyakit ini. Penderita Parkinson mengalami kerusakan saraf yang memproduksi dopamin di substansia nigra, bagian dari otak yang mengontrol gerakan dan terhubung dengan korteks motorik. Dopamin merupakan suatu neurotransmiter yang berperan penting di otak. Kerusakan ini menyebabkan timbulnya gejala-gejala motorik yang khas dari Parkinson.

Gejala Klinis

Gejala-gejala motorik dari penyakit Parkinson dikelompokkan menjadi tiga triad klasik:  bradikinesia, kekakuan gerakan, serta gemetar atau tremor.

Tremor yang terjadi lebih terlihat saat keadaan istirahat, dan biasanya berkurang ketika melakukan gerakan. Kekakuan yang terjadi pada pasien Parkinson sering disebut sebagai “cogwheel rigidity”, yaitu kekakuan yang terlihat pada tangan atau kaki ketika digerakkan secara pasif, menghasilkan gerakan yang tersentak-sentak. Sementara itu, bradikinesia terlihat sebagai gerakan yang lambat, karena terjadi gangguan inisiasi gerakan pada sistem saraf pusat. Hal ini biasa menyebabkan kesulitan menggerakkan kaki ketika hendak berjalan, ataupun terlihat sebagai gaya jalan seperti diseret. Penderita juga sering mengalami instabilitas postur tubuh, sehingga mengalami gangguan keseimbangan dan menjadi rentan jatuh.

Selain gejala motorik yang disebutkan di atas, pasien Parkinson juga dapat mengalami gejala non-motorik. Hal ini mungkin terjadi karena gangguan pola persinyalan dopamin di luar korteks motorik atau gangguan pada neurotransmiter lainnya. Gejala-gejala tersebut antara lain adalah:

  • Disfungsi saraf otonom, misalnya terjadi konstipasi, hipotensi ortostatik, disfungsi seksual, atau keringat berlebih yang terjadi akibat gangguan pada sistem simpatik dan parasimpatik tubuh
  • Gejala neuropsikiatri, misalnya kecemasan, depresi, demensia, dan penurunan kognitif
  • Gangguan neurologis lainnya seperti gangguan tidur, kesulitan menghidu, dan sebagainya.

 

Tatalaksana Parkinson

Pengobatan yang kini tersedia untuk pasien Parkinson dapat membantu meringankan gejala-gejala yang timbul, meski belum ada yang dapat menghentikan proses degeneratif saraf itu sendiri. Terapi farmakologis yang diberikan umumnya bertujuan untuk meningkatkan persinyalan dopamin, baik dengan menambah kadarnya ataupun menghambat degradasinya.

Salah satu obat yang sering digunakan adalah levodopa, sejenis prekursor dopamin yang dapat menembus sawar darah otak. Selain itu, terdapat beberapa pilihan obat lain, seperti agonis dopamin, inhibitor monoamine oksidase B (MAO-B), dan sebagainya. Tindakan bedah juga kini menjadi salah satu pilihan tatalaksana Parkinson, yaitu deep brain stimulation (DBS). Teknik ini melibatkan pemberian impuls listrik ke bagian tertentu otak dan dibuktikan dapat mengurangi gejala Parkinson. Namun, tidak semua orang dapat menjadi kandidat untuk operasi ini; beberapa pertimbangan harus dilakukan terlebih dahulu, termasuk mengevaluasi apakah respons pasien terhadap pengobatan sebelumnya cukup baik atau tidak.

Beban yang dirasakan oleh penderita Parkinson dan keluarganya tentu tidak mudah. Oleh sebab itu, gejala-gejalanya harus senantiasa diwaspadai, dan segera lakukan pemeriksaan ke dokter apabila ada kecurigaan penyakit Parkinson. Lebih baik mengobati sedini mungkin sebelum terlambat!

 

Referensi

  1. DeMaagd G, Philip A. Parkinson’s disease and its management. P T. 2015 Aug; 40(8): 504-10, 32.
  2. Massano J, Bhatia KP. Clinical approach to Parkison’s disease: features, diagnosis, and principles of management. Cold Spring Harb Perspect Med. 2012 Jun; 2(6): a008870.
  3. Olanow CW, Schapira AHV, Obeso JA. Parkinson’s disease and other movement disorders. In: Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Fauci AS, Longo DL, Loscalzo J, eds. Harrison’s principles of internal medicine. 19th ed. New York: McGraw Hill; 2015. p.2609-17.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr