Bekas jerawat seringkali menjadi momok bagi pria maupun wanita, khususnya bagi mereka yang baru memasuki usia reproduktif. Bekas tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi malu, menutup diri, ataupun minder karena sifatnya yang merusak kecantikan wajah. Sebenarnya, bagaimana cara merawat muka yang berjerawat?

bekas jerawat

Cara Menangani Bekas Jerawat. Sumber : https://pxhere.com/en/photo/123907

Apa itu jerawat?

Jerawat merupakan proses inflamasi lokal yang terjadi di area wajah, lengan, ataupun punggung yang sering berlemak. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes, peningkatan produksi lemak (sebum) wajah, pembentukan komedo, maupun produksi inflamasi di sekitar pori-pori wajah.

Jerawat seringkali bermula dari komedo yang berukuran mikro, dan lalu berlanjut menjadi komedo tertutup dan jejas inflamasi. Pada akhirnya, inflamasi tersebut akan tampak ruam merah (eritema), hitam (hiperpigmentasi) dan membekas (scarring). Umumnya, kondisi ini tidak membahayakan kesehatan dan dapat sembuh dengan sendirinya perlahan-lahan melalui degradasi bakteri wajah yang sudah mati di dalam pori-pori wajah.

Mengapa jerawat dapat membekas pada wajah?

Bekas jerawat/luka (scar) disebabkan gangguan proses penyembuhan jerawat sebagai bentuk respon terhadap inflamasi kulit. Selain itu, jenis bakteri yang menginfeksi kulit wajah juga berkontribusi terhadap kejadian bekas jerawat. Pada pasien yang rentan terhadap bekas jerawat, jejas awal dikarakteristikkan sebagai sedikitnya sel imun (sel T CD4+) di area inflamasi.

Umumnya, bekas jerawat bersifat atrofik, yaitu ketidakmampuan kulit untuk kembali ke bentuk semula sehingga mengalami degenerasi. Hal ini disebabkan oleh produksi dan degradasi kolagen yang tidak beraturan saat proses penyembuhan. Bekas jerawat diklasifikasikan menjadi tiga: icepick, boxcar, dan rolling. Bekas icepick merupakan bekas luka yang paling sering (60-70%), berukuran kecil (< 2mm), berbentuk V ke dalam kulit, dan memiliki batas yang lancip serta kedalaman kulit hingga dermis atau subkutan. Kedalaman ini menyebabakn bekas icepick resisten terhadap pengobatan kulit tradisional. Bekas boxcar merupakan bekas luka tersering kedua (20-30%) dan berukuran lebih besar (1,5-4 mm), berbentuk bulat atau cekung dengan kedalaman dangkal (0,1-0,5 mm) hingga dalam (>0,5 mm). Terakhir, bekas jenis rolling (15-25%) memiliki ukuran yang paling lebar dengan diameter hingga 5mm.

Bagaimana cara menangani bekas jerawat?

Penanganan bekas jerawat harus dimulai dengan menangani ruam merah pada kulit. Penanganan ruam merah pada bekas luka dapat dilakukan menggunakan pulsed dye laser (PDL), yang menggunakan suhu untuk menghancurkan komponen darah penyebab ruam merah. PDL juga menyebabkan perubahan susunan kolagen sehingga kolagen yang awalnya tidak beraturan dapat menjadi beraturan sehingga kulit menjadi halus kembali. Jika ruam merah pada kulit sudah menghilang, maka bekas jerawat atrofik dapat ditangani.

Bekas jenis rolling dapat ditangani dengan menggunakan filler. Karena ukuran bekas jerawat yang lebar, maka kulit akan menjadi kopong sehingga pengisian filler akan menghaluskan bekas jerawat dan dermal filler akan menunjang kulit. Selanjutnya, bekas jenis boxcar dapat ditangani menggunakan laser karbon dioksida atau laser erbium-YAG. Laser ini digunakan untuk menghaluskan tepi bekas jerawat, dan dapat dilanjutkan dengan pelapisan kulit untuk mengembalikan kulit wajah ke bentuk semula. Terakhir, bekas icepick membutuhkan penanganan ekstra karena umumnya membentu bekas luka yang dalam. Bekas luka ini dapat ditangani dengan eksisi kulit, dimana dokter akan mengikis bekas luka dari kulit dan menyatukannya kembali dengan bentuk kulit awal sehingga bekas luka akan hilang.

Nah, begitulah cara untuk menangani bekas jerawat pada wajah. Selain penanganan yang telah disebutkan di atas, perawatan wajah secara rutin juga perlu dilakukan. Perawatan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan masker untuk melembutkan kulit, mencuci muka setiap kali pulang dari bepergian, dan masih banyak lagi.

Referensi:

  1. Connolly D, Vu HL, Mariwalla K, Saedi N. Acne scarring – pathogenesis, evaluation, and treatment options. J Clin Aesthet Dermatol. 2017 Sep;10(9):12-23
  2. Werschler WP, Herdener RS, Ross VE, Zimmerman E. Treating acne scarsL what’s new?. J Clin Aesthet Dermatol. 2015 Aug;8(8 Suppl);S2-8
PPAB MA 2018
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr