Diare, masalah kesehatan yang dapat merengut nyawa balita, bagaimanakah pencegahannya?

Sumber: https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-diarrhea-causes-treatment

Sumber: https://www.webmd.com/parenting/baby/baby-diarrhea-causes-treatment

Seseorang dapat dikatakan terjangkit diare ketika buang air besar dengan konsistensi cair atau lembek sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari. Penyebab diare yang paling sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari adalah infeksi dan keracunan dari makanan atau minuman yang kurang bersih.

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan yang harus diwaspadai di Indonesia karena angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi, khususnya pada balita. Berdasarkan  panduan Departemen Kesehatan RI, diare pada balita dapat dicegah dengan 7 cara, yaitu:

  1. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kelahiran dan diteruskan hingga umur 2 tahun
    • ASI merupakan makanan yang paling baik bagi bayi karena zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh sistem pencernaan bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan bayi hingga umur 6 bulan.
    • Setelah 6 bulan kehidupannya, pemberian ASI harus diteruskan hingga bayi berumur 2 tahun. Selain itu, bayi yang berumur diatas 6 bulan harus ditambahkan MPASI (makanan pendamping ASI)
    • ASI memiliki kemampuan preventif secara imunologik untuk mencegah diare karena adanya antibodi dan zat-zat lain yang terkandung di dalam ASI.
  2. Memberikan makanan pendamping ASI sesuai umur
    • Pemberian makanan pendamping ASI ini bertujuan agar bayi terbiasa untuk mencerna makanan orang dewasa. Pemberian makanan pendamping ASI yang baik harus memperhatikan kapan, apa, dan bagaimana makanan pendamping ASI tersebut diberikan
  3. Memberikan minum air yang sudah direbus dan menggunakan air bersih yang cukup
    • Diare dapat disebabkan oleh kuman infeksius yang ditularkan makanan dan minuman. Oleh karena itu, minuman harus direbus terlebih dahulu agar kuman-kuman di dalam air bisa mati.
  4. Mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar
    • Mencuci tangan dengan sabun pada saat sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 47%
  5. Buang air besar di jamban
    • Berdasarkan data yang ada, ditemukan bahwa upaya penggunaan jamban yang bersih dan dibersihkan secara rutin dapat menurunkan risiko terhadap penyakit diare.
  6. Membuang tinja bayi dengan benar
    • Tinja bayi dapat menularkan penyakit pada anak-anak dan orang tuanya. Oleh karena itu tinja bayi harus dibuang di jamban dan jamban wajib dibersihkan secara rutin.
  7. Memberikan imunisasi campak
    • Pemberian imunisasi campak pada bayi sangat penting agar bayi tidak terkena penyakit campak karena anak yang menderita campak biasanya disertai dengan diare. Oleh karena itu, berilah imunisasi campak pada bayi setelah berumur 9 bulan.

Apabila balita anda mengalami diare, segera konsultasikan ke dokter agar tidak mengalami dehidrasi.

Referensi:

  1. Buku saku petugas kesehatan: lima langkah tuntaskan diare. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2011.
  2. Situasi diare di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2011. Available from: http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/buletin/buletin-diare.pdf
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr