Walau terdengar seperti fantasi belaka, mungkinkah transplantasi kepala dilakukan manusia?

tete-corps-transplantation_sn1250

Cephalosomatic anastomosis, dikenal dengan transplantasi kepala atau lebih tepatnya transplantasi tubuh, merupakan tindakan medis dimana tubuh tak berkepala dari seorang donor manusia akan ditransplantasikan ke kepala dari seorang resipien manusia. Tindakan ini tergolong sebagai allotransplantasi jaringan komposit, yaitu aksi pemindahan anggota tubuh atau jaringan dari seorang donor ke resipien yang berasal dari individu berbeda. Tindakan ini berpotensi menjadi satu-satunya tatalaksana untuk penyakit tanpa pengobatan efektif seperti paraplegia ataupun tumor metastasis. Dengan demikian, pasien yang tubuhnya bermasalah , tetapi pikirannya masih sehat, dapat diselamatkan.

Ide mengenai transplantasi kepala sendiri telah menjadi perbincangan di kalangan ilmuan sejak abad ke-19. Terdapat halangan dan tantangan dalam proses mewujudkannya, seperti masalah dalam metode neuroproteksi dan penanganan iskemia serebral, anastomosis pembuluh darah, penanganan nyeri sentral, serta fusi medulla spinalis. Masalah pertama adalah masalah neuroproteksi, yaitu cara melindungi otak resipien dari stroke masif dan kematian setelah dipisahkan dari tubuh lamanya dan sebelum mendapatkan revaskularisasi dari suplai darah tubuh donor. Namun, Ren X, Orlova EV, et al pada jurnal Surgery tahun 2016 telah menemukan solusi untuk masalah ini.

Menurut mereka, masalah ini dapat diatasi dengan menginduksi hipotermia dengan otak mamalia dapat dipertahankan tanpa suplai darah hingga hampir satu jam pada suhu 12-15 °C.2 Selanjutnya adalah masalah teknik anastomosis pembuluh darah dan revaskularisasi untuk kepala resipien. Selama ini, berbagai tokoh telah mengembangkan teknik yang sesuai dengan teknik yang dikembangkan oleh Xiaoping Ren pada tahun 2015 merupakan teknik yang paling optimal dan menggunakan protokol sirkulasi silang. Melalui protokol ini, satu arteri karotid dan arteri jugularis kontralateralnya disisakan sehingga revaskularisasi terjaga dan otak resipien terhindar dari iskemia serebral.

Lalu, terdapat masalah penanganan nyeri sentral, yaitu gejala nyeri kronis seperti pruritus dan disestesia yang dirasakan setelah adanya kerusakan pada jaras nyeri di sistem saraf pusat. Sergio Canavero dan Sofia Bonicalzi dalam Jurnal CNS Neurosci Ther tahun 2016 telah menemukan tatalaksananya yaitu dengan memberikan lesi selektif sebesar 4×5 mm pada subparietal white matter melalui teknik subparietal radiotomy / posterior capsulotomy (SPRC). Masalah yang terakhir adalah teknik fusi medulla spinalis yang dapat diatasi dengan menggunakan protokol GEMINI. Protokol GEMINI adalah protokol yang dikembangkan untuk memastikan terjadinya fusi medulla spinalis dan reinervasi tubuh yang cepat.

Pada pelaksanaan GEMINI, akan dilakukan pemotongan yang sistematis dan sangat tajam pada medulla spinalis, penambahan fusogen berupa PEG yang mampu merefusi membran sel neuron setelah cedera, serta stimulasi elektrik untuk mempercepat penyembuhan. Penggunaan protokol GEMINI telah menunjukkan hasil pada percobaan dengan anjing dan tikus. Pada pelaksanaan GEMINI pada anjing, seluruh anjing pada kelompok eksperimental mengalami pemulihan fungsi motoris hingga berhasil berjalan hampir seperti normal dibandingkan dengan tanpa pemulihan sama sekali pada kelompok kontrol. Pada pelaksanaan GEMINI dengan tikus, lima dari delapan tikus dengan transeksi total setinggi C5 berhasil mengalami restorasi parsial fungsi motoris, makan, dan defekasi setelah empat minggu.

Pada tahun 2017 lalu, uji coba operasi transplantasi kepala pertama pada manusia telah berhasil dilakukan pada kadaver untuk mengoptimalisasi langkah bedah serta menilai stabilisasi vertebral. Selanjutnya, hanya tinggal menunggu waktu hingga transplantasi kepala dapat sukses dilakukan pada manusia melihat telah tersedianya dasar teori dan teknik yang sesuai.

 

REFERENSI

  1. Ausman JI. Is it time to perform the first human head transplant? comment on the CSA (cephalosomatic anastomosis) paper by Ren, Canavero, and colleagues. Surg Neurol Int [Serial on the Internet]. 2018; 9: 27. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5820829/
  2. Ren X, Orlova EV, Maevsky EI, Bonicalzi V, Canavero S. Brain protection during cephalosomatic anastomosis. Surgery [Serial on the Internet]. 2016 Jul; 160(1):5-10. Available from: https://doi.org/10.1016/j.surg.2016.01.026
  3. Canavero S, Bonicalzi V. Central pain following cord severance for cephalosomatic anastomosis. CNS Neurosci Ther [Serial on the Internet]. 2016 Feb 16; 22(4):271-4. Available from: https://remote-lib.ui.ac.id:2142/doi/10.1111/cns.12527
  4. Canavero S, Ren X, Kim C, Rosati E. Neurologic foundations of spinal cord fusion (GEMINI). Surgery [Serial on the Internet]. 2016 Jul; 160(1):11-9. Available from: https://doi.org/10.1016/j.surg.2016.01.027
  5. Liu Z, Ren S, Fu K, Wu Q, Wu J, Hou L, et al. Restoration of motor function after operative reconstruction of the acutely transected spinal cord in the canine model. Surgery [Serial on the Internet]. 2018 May; 163(5):976-83. Available from: https://doi.org/10.1016/j.surg.2017.10.015
  6. Yoon C, Oh H, Kwang I, Hong K. GEMINI: Initial behavioral results after full severance of the cervical spinal cord in mice. Surg Neurol Int [Serial on the Internet]. 13 Sep 2016; 7(Suppl 24): S629–31. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5025949/
  7. Ren X, Li M, Zhao X, Liu Z, Ren S, Zhang Y, et al. First cephalosomatic anastomosis in a human model. Surg Neurol Int [Serial on the Internet]. 17 Nov 2017; 8: 276. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5705925/
FKUI 2017
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr