Ternyata, selain rentan mengalami infeksi oportunis, pasien yang terinfeksi HIV juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami keganasan atau kanker. Bagaimana hal ini dapat terjadi dan keganasan apa saja yang paling sering diasosiasikan dengan infeksi HIV?

 kaposi-sarcoma-virus

Gambar 1 Virus penyebab sarkoma Kaposi. (Sumber: https://www.medicalnewstoday.com/articles/173259.php)

Infeksi HIV dan Neoplasma

Pada kasus infeksi HIV, beberapa tumor (dikenal dengan istilah neoplasma) memiliki frekuensi kejadian yang lebih tinggi. Bahkan, kemunculan tumor ini dapat menjadi gambaran klinis HIV pada pasien yang sebelumnya tidak tahu bahwa dirinya terinfeksi HIV. Contoh neoplasma yang memiliki peranan cukup penting pada infeksi HIV dan pasien AIDS adalah sarkoma Kaposi, sebuah kanker kulit yang sangat jarang terjadi dan dapat menyebar ke organ-organ dalam pada pasien dengan kondisi imunodefisien. Pada tahun 1980, kemunculan sarkoma Kaposi (KS) pada beberapa pria muda terjadi cukup mendadak. Ditambah dengan peningkatan keparahan kasus KS di Afrika, kedua hal ini menjadi fenomena pertama yang teramati dan menandakan kemunculan sebuah penyakit baru.

Baik pada percobaan di tikus maupun manusia, hanya terdapat sedikit tumor yang kejadiannya meningkat pada kondisi imunodefisien. Imunodefisien adalah sebuah kondisi dimana sistem imun tubuh kita dilemahkan akibat beberapa hal, bisa karena obat-obatan hingga penyakit infeksi. Pada infeksi HIV, kondisi imunodefisien inilah yang menjadi sebab mengapa pasien AIDS lebih rentan terserang infeksi oleh kuman oportunis lainnya. Namun, tidak hanya infeksi, kemunculan tumor juga ternyata diasosiasikan dengan keadaan sistem imun yang melemah ini. Hal ini disebabkan karena sebagian besar kemunculan tumor dipicu oleh virus-virus yang sebelumnya telah menginfeksi pasien secara laten. Pada individu dengan sistem imun yang baik, seharusnya mekanisme imunitas yang ada dapat menekan jumlah virus-virus ini. Selain itu, sistem imun akan mengenali mereka sebagai target yang harus dieliminasi dari dalam sel-sel yang kelak berpotensi menjadi tumor. Namun, kemampuan ini tertekan pada pasien dengan infeksi HIV, dikarenakan virus HIV yang menyerang salah satu “tentara” krusial dalam sistem imun manusia, yaitu sel T CD4+.

Sarkoma Kaposi

Sarkoma Kaposi (KS) merupakan penyakit keganasan dari pembuluh darah atau limfa dengan gambaran klinis berupa nodul vaskular (titik-titik pembuluh darah) multipel pada kulit dan organ lain. Penyakit ini dapat terjadi di beberapa titik berbeda pada tubuh, dengan spektrum perjalanan penyakit mulai dari yang paling ringan (hanya muncul pada kulit) hingga yang sangat berat (melibatkan organ-organ dalam secara luas).

  • Etiologi

Meskipun kemunculan KS diakibatkan banyak kejadian multifaktorial yang kompleks, salah satunya kondisi imunosupresi, peran penting dari sebuah virus telah diperkirakan sejak tahun 1950. Namun barulah pada tahun 1994, para peneliti menemukan herpesvirus manusia baru, yaitu HHV-8, dan mendeteksi virus ini pada lebih dari 90% lesi KS, termasuk pada KS yang tidak terkait HIV. HHV-8 yang bisa ditemukan pada air liur dan air mani, dapat ditularkan melalui kontak dengan air liur, berciuman, serta aktivitas seksual.

Ketika HHV-8 (juga disebut Kaposi sarcoma-associated herpesvirus, KSHV) menginfeksi sel manusia, virus ini akan menghasilkan beberapa protein spesifik yang diperkirakan memainkan peran penting dalam proses kemucnculan tumor. KSHV akan menghasilkan beberapa molekul yang berperan dalam proses persinyalan sel yang memicu pembelahan sel berlebihan dan menghambat proses kematian sel terprogram (apoptosis) yang dalam keadaan normal dibutuhkan. Akibatnya, sel-sel yang terpengaruh ini akan bertambah banyak dan membelah secara tak terkendali, hingga akhirnya berujung pada kanker.

  • Gambaran Klinis

Lesi kulit dapat ditemukan pada semua pasien KS dengan karakteristik:Pada KS yang berhubungan dengan AIDS, perjalanan klinis pasien sangat beragam, mulai dari penyakit kulit minimal hingga keterlibatan luas organ dalam. Lesi yang muncul dapat mengenai daerah kulit, mukosa rongga mulut, nodus limfatik, serta organ-organ dalam. Namun, sebagian besar pasien hanya menunjukkan penyakit kulit saja. Pada beberapa kasus, penyakit organ dalam justru dapat mendahului gejala kulit. Pada beberapa serial otopsi, lesi dilaporkan dapat mengenai organ apapun, kecuali otak.

KAPOSI

Gambar 2 KS papular-nodular ekstensif pada kaki dan punggung dari pasien di Uganda.8

  • Lesi kulit multipel dengan ciri:
    • Dapat terjadi di seluruh bagian kulit, namun umumnya terkonsentrasi pada daerah kaki, kepala, serta leher
    • Penampakan makular, papular, nodular, atau plak
    • Hampir semua lesi bersifat dapat diraba dan tidak menimbulkan rasa gatal
    • Diameter lesi beragam, mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter
    • Lesi memiliki warna coklat, merah muda, merah, atau keungu-unguan dan sulit dibedakan pada individu berkulit gelap
    • Lesi dapat terletak terpisah-pisah atau bergerombol, dan umumnya tersebar secara linear atau sistematik mengikuti garis Langer
    • Keterlibatan membran mukosa (rongga mulut, gusi, konjungtiva mata) cukup umum terjadi.
  • Perkembangan yang multisentrik
  • Terdapat pembengkakan kelenjar limfe (limfedema) yang umunya terjadi di tungkai bawah atau wajah akibat sumbatan aliran limfatik
  • Rasa nyeri ketika berjalan, terutama pada lesi di telapak kaki

 

Selain itu, KS juga dapat terjadi di sepanjang saluran pencernaan, meskipun seringkali tidak bergejala. Penyakit pencernaan yang terjadi pada KS biasanya merupakan sebuah pertanda akan infeksi HIV yang lebih berat. Gejala-gejalanya mencakup:

  • Rasa nyeri saat menelan
  • Mual, muntah, dan nyeri perut
  • Muntah darah, adanya darah segar atau darah berwarna hitam pada tinja
  • Sumbatan usus

 

Namun, setelah introduksi effective antiretroviral therapy (terapi antiretroviral, ART) sebagai pengobatan standar HIV di tahun 1996, risiko AIDS dan kematian akibat kondisi imunodefisien ini telah menurun secara drastis. Insidensi KS pun juga menurun, meskipun masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan populasi yang tidak terinfeksi.Meskipun saat ini risiko beberapa tipe kanker masih berlanjut menurun karena perbaikan regimen ART, pengobatan yang dimulai pada fase infeksi HIV yang lebih awal, serta akses ART yang meningkat, tetap belum dapat memutarbalikkan dampak dari supresi imun awal. Hal ini mengakibatkan disfungsi imun dan inflamasi kronik yang terjadi dapat terus berlanjut meskipun seseorang telah mengonsumsi ART.

Oleh karena alasan tersebut, pada orang dengan infeksi HIV, meskipun mereka belum mencapai tahapan AIDS, risiko untuk mengalami kanker masih tetap tinggi. Belum lagi, banyak tipe kanker memiliki periode latensi yang berpuluh-puluh tahun lamanya, sedangkan era ART modern baru menginjak usia 20 tahun. Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa risiko untuk beberapa kanker baru ke depannya dapat muncul seiring dengan berjalannya waktu. Selain itu, dengan bertambah besarnya tingkat survival, populasi orang yang terinfeksi HIV juga akan mengalami penuaan, dimana efek dari supresi imun pada populasi tua ini masih belum diketahui. Oleh karena alasan-alasan inilah, monitoring risiko kanker yang berlanjut pada populasi dengan infeksi HIV sangatlah penting.

 

Referensi

  1. Murray PR, Rosenthal KS, Pfaller MA. Medical microbiology. 8th edition. Philadelphia, PA: Elsevier; 2016. 836 p.
  2. Schulz TF, Boshoff CH, Weiss RA. HIV infection and neoplasia. The Lancet. 1996 Aug 31;348(9027):587-91.
  3. Grogg KL, Miller RF, Dogan A. HIV infection and lymphoma. Journal of Clinical Pathology. 2007 Dec 1;60(12):1365-72.
  4. Ruocco E, Ruocco V, Tornesello ML, Gambardella A, Wolf R, Buonaguro FM. Kaposi’s sarcoma: etiology and pathogenesis, inducing factors, causal associations, and treatments: facts and controversies. Clinics in dermatology. 2013 Jul 1;31(4):413-22.
  5. Hernández-Ramírez RU, Shiels MS, Dubrow R, Engels EA. Cancer risk in HIV-infected people in the USA from 1996 to 2012: a population-based, registry-linkage study. The Lancet HIV. 2017 Nov 1;4(11):e495-504.
  6. Eholie SP, Badje A, Kouame GM, et al. Antiretroviral treatment regardless of CD4 count: the universal answer to a contextual question. AIDS Res Ther 2016; 13: 27.
  7. Dubrow R, Silverberg MJ, Park LS, Crothers K, Justice AC. HIV infection, aging, and immune function: implications for cancer risk and prevention. Curr Opin Oncol 2012; 24: 506–16.
  8. Sullivan RJ, Pantanowitz L, Casper C, Stebbing J, Dezube BJ. Epidemiology, pathophysiology, and treatment of Kaposi sarcoma—associated herpesvirus disease: Kaposi sarcoma, primary effusion lymphoma, and multicentric Castleman disease. Clinical infectious diseases. 2008 Nov 1;47(9):1209-15.
  9. Kumari N, Dwarakanath BS, Das A, Bhatt AN. Role of interleukin-6 in cancer progression and therapeutic resistance. Tumor Biology. 2016 Sep;37(9):11553–72.
  10. Rose LJ, Sparano JA. Kaposi sarcoma clinical presentation https://emedicine.medscape.com/article/279734-clinical (accessed 27 February 2018).
Nathaniel Aditya
A medical student who enjoys running and bike riding.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr