NaggingCough

Batuk merupakan refleks normal tubuh manusia. Akan tetapi, bagaimana jika batuk terjadi secara terus-menerus ?

Batuk merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari sistem pernapasan. Refleks batuk diawali dengan masuknya benda asing yang akan mengaktifkan reseptor batuk dalam sistem pernapasan. Rangsangan dari reseptor akan dikirim oleh sistem saraf menuju sumsum lanjutan sebagai pusat dari refleks batuk. Sekilas refleks batuk terlihat biasa. Akan tetapi, batuk secara berlebihan dapat mengganggu dan merusak jaringan sekitar.

Batuk yang terjadi secara berlebihan dalam jangka waktu lama dikenal dengan batuk kronik. Batuk kronik disebabkan oleh berbagai macam hal seperti, asap rokok, polusi udara, dan alergen. Hal tersebut menyebabkan produksi cairan mukus pada saluran pernapasan terjadi secara berlebihan. Akibatnya, infeksi akan meningkat karena semakin banyak bakteri yang menempel dan  berkembang biak pada cairan mukus.

Pada umumnya, pengobatan batuk kronik menggunakan obat-obatan yang mampu mengobati penyebab atau menekan refleks batuk, seperti antitusif, antibiotik dan antihistamin. Akan tetapi, obat-obat tersebut seringkali menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Selain batuk, penderita batuk kronik pada umumnya akan mengalami gangguan vokal. Oleh karena itu, selain penggunaan obat, untuk mengobati batuk kronik dapat dilakukan terapi wicara.

Terapi wicara adalah ilmu tentang evaluasi, diagnosis, dan pengobatan pada gangguan kemampuan menelan dan ketidakmampuan berbicara. Terapi ini berkaitan dengan teknik pengontrolan sistem pernafasan dan laring. Penggunaan terapi wicara pada penderita batuk kronik bertujuan agar penderita dapat secara sadar menahan batuk. Terapi wicara juga dapat mengurangi iritasi pada laring dan mengoptimalkan kerja pita suara.

Terdapat 4 program terapi wicara yang diterapkan pada penderita batuk kronik yaitu : edukasi, vocal hygiene training, strategi menahan batuk, dan konseling.

Edukasi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pada penderita batuk kronik mengenai dampak dari penyakit yang dideritanya. Dalam program ini,  penderita batuk kronik akan diberikan informasi bagaimana batuk kronik dapat terjadi dan cara untuk mengendalikannya. Setelah mendapatkan infomasi, penderita akan dilatih untuk membersihkan tenggorakan yang disebut dengan vocal hygiene training. Pelatihan ini dapat membantu mengurangi frekuensi terjadinya batuk dan meningkatkan kualitas vokal.

Selain vocal hygiene training, penderita akan diberikan stategi untuk menahan batuk secara sadar. Strategi ini meliputi identifikasi sensasi dan deteksi dini dari batuk. Kemudian menahannya dengan teknik pengalihan, teknik menelan, dan teknik pernapasan. Selama menjalani terapi, penderita sebaiknya diberikan konseling. Selain sebagai dukungan psikologis, konseling juga berperan untuk memastikan pelatihan dan strategi yang diberikan dapat diterapkan oleh penderita dalam kehidupan sehari-hari.

Batuk yang terjadi dalam jangka waktu yang lama dapat mengganggu kehidupan orang yang menderitanya dan orang yang berada di sekitarnya. Penyembuhan batuk kronik melalui terapi wicara dapat meningkatkan kepekaan penderita terhadap diri sendiri dan kualitas hidupnya.  Selain itu, terapi wicara juga mengurangi konsumsi dan ketergatungan para penderita batuk kronik terhadap obat-obatan.
Referensi:

  1. Sherwood L. Human Physiology: From Cells to Systems. Ninth edition. Boston:  Cengage Learning; 2016. p
  2. Vertigan AE, Theodoros DG, Winkworth AL, Gibson PG. Chronic Cough: A Tutorial for Speech-Language Pathologist. Speech Lang Patho. 2007;15(3):189-206.
  3. Gibson PG, Vertigan AE. Speech pathology for chronic cough: A new approach. Pulm Pharmacol Ther. 2009;22(2):159–62.
Afiyatul Mardiyah
Mahaiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Redaktur Media Aesculapius BEM IKM FKUI.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr