Siapkah kita kembali ke masa kelam sebelum antibiotik ditemukan?

superbug

Sumber: https://www.hivplusmag.com/resistance/2017/1/19/scary-drug-resistant-superbug-spreading-fast

Apakah Anda pernah mendengar istilah resistansi antibiotik atau superbug? Anda mungkin tidak begitu asing dengan anjuran dokter untuk menghabiskan antibiotik. Namun, tahukah Anda betapa pentingnya untuk mengikuti anjuran tersebut? Anjuran ini bertujuan mencegah kemunculan bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Sayangnya, hari ini terdapat banyak bakteri yang telah kebal antibiotik. Beberapa bakteri bahkan kebal terhadap banyak jenis antibiotik yang kemudian dikenal dengan superbug. Lalu apa dampaknya bagi manusia?

Sejarah Antibiotik dan Resistansi Antibiotik

Antibiotik pada dasarnya adalah obat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik sebenarnya telah ada sejak zaman dahulu, tetapi istilah “antibiotik” dan “bakteri” belum ada. Kata “antibiotik” dalam konteks medis pertama kali dikenalkan oleh Selman Waksman, seorang ahli mikrobiologi pada tahun 1940-an.

Salah satu tokoh besar dalam sejarah antibiotik adalah Sir Alexander Fleming, penemu antibiotik penisilin pertama yang membuatnya meraih Nobel. Fleming menemukan penisilin sebagai antibiotik secara tidak sengaja. Pada tahun 1928, Fleming yang baru pulang berlibur menemukan biakan bakteri Staphylococcus miliknya terkontaminasi oleh jamur selama ditinggal berlibur. Ia menemukan sebuah keanehan pada biakannya, yakni tidak ada bakteri yang tumbuh di sekitar jamur tersebut. Ia kemudian menguji pengaruh jamur tersebut terhadap bakteri dan menemukan bahwa jamur tersebut mampu membunuh bakteri walau hanya dalam jumlah sedikit. Jamur tersebut dikenal dengan Penicillium notatum.

Penemuan Fleming menjadi titik penting dari perkembangan dunia medis. Setelah penemuannya tersebut, antibiotik mulai diproduksi secara massal. Sebelumnya, dokter tidak mampu mengobati infeksi bakteri walau hanya infeksi yang disebabkan oleh luka sederhana dan berujung pada kematian. Sejak saat itu, banyak nyawa terselamatkan oleh keberadaan antibiotik.

Manfaat antibiotik memang sangat luar biasa. Namun, Fleming menyadari suatu hal penting dari penemuannya, yakni resistansi bakteri terhadap antibiotik. Dalam sebuah wawancara dengan New York Times pada tahun 1945, Fleming memperingatkan bahwa kesalahan pemakaian antibiotik akan menimbulkan resistansi bakteri terhadap obat yang luar biasa ini. Peringatannya terbukti dalam waktu 10 tahun sejak penisilin diproduksi massal. Mulai dari tahun 1960-an, berbagai jenis bakteri mulai resistan dan terus meluas serta berkembang hingga hari ini.

Bagaimana bakteri menjadi resistan terhadap antibiotik?

Layaknya manusia, bakteri memiliki karakteristik yang berbeda walau dalam satu spesies. Karakteristik tersebut diatur oleh komponen makhluk hidup yang disebut gen. Bakteri memiliki satu keunikan, yaitu dapat mentransfer gen dari satu bakteri ke bakteri lain dalam satu spesies. Mentransfer suatu gen sama dengan mentransfer karakteristik yang diaturnya. Pada dasarnya dalam satu spesies terdapat bakteri dengan karakteristik tahan antibiotik (resistan) dan tidak tahan antibiotik (sensitif). Bakteri yang sensitif dapat menjadi resistan dengan menerima gen tertentu dari bakteri resistan.

Salah satu strategi mencegah resistansi adalah mengonsumsi antibiotik hingga tuntas. Tujuannya adalah agar seluruh bakteri sensitif tereliminasi dan tidak sempat menerima gen bakteri resistan. Sementara itu, bakteri resistan yang sedikit tersisa diharapkan tereliminasi oleh sistem kekebalan tubuh pasien. Jika antibiotik dihentikan saat jumlah bakteri sensitif cukup banyak, bakteri tersebut dapat menjadi resistan dalam jumlah besar.

Superbug

Belum mencapai 100 tahun sejak penemuan revolusioner Fleming, antibiotik mulai kehilangan kesaktiannya. Saat ini berbagai bakteri telah kebal terhadap lebih dari satu jenis antibiotik. Bakteri dengan level resistansi tinggi dikenal dengan istilah superbug. Dahulu, superbug cenderung berkembang di rumah sakit karena infeksi sangat mudah terjadi di tempat tesebut. Namun, saat ini telah berkembang superbug di luar rumah sakit, contohnya methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Kemunculan superbug sangat mengkhawatirkan. Keberadaan superbug berdampak pada pelayanan kesehatan. Pemberian antibiotik perlu menunggu hasil identifikasi laboratorium terlebih dahulu agar tidak memicu resistansi baru. Hal ini membuat biaya kesehatan meningkat dan pasien harus menunggu hasil identifikasi. Jika keadaan ini terus berlangsung, manusia akan kembali ke masa antibiotik belum ditemukan, di mana infeksi superbug karena luka kecil saja dapat berdampak fatal akibat tidak ada obatnya.

Resistansi antibiotik merupakan keadaan yang pasti terjadi. Dahulu manusia mengandalkan penemuan antibiotik baru untuk melawan bakteri resistan. Namun, penemuan antibiotik baru tidak sebanding dengan laju resistansi bakteri. Keberadaan superbug merupakan bukti nyata dari peringatan Fleming yang terabaikan. Oleh sebab itu, penggunaan antibiotik harus sesuai dengan tujuannya. Antibiotik tidak boleh sembarangan diberikan dan harus dikonsumsi tuntas saat digunakan. Jangan sampai generasi saat ini dan selanjutnya kembali ke masa kelam sebelum antibiotik ditemukan.

Penulis: Wira Tirta

 

Referensi:

  1. The history of antibiotics. Microbiology Society; 2019 [cited 2019 May 10]. Available from: https://microbiologysociety.org/education-outreach/antibiotics-unearthed/antibiotics-and-antibiotic-resistance/the-history-of-antibiotics.html
  2. Stop the spread of superbugs. Bethesda: National Institute of Health News in Health; 2014 Feb [cited 2019 May 10]. Available from: https://newsinhealth.nih.gov/2014/02/stop-spread-superbugs
  3. Davies J, Davies D. Origin and evolution of antibiotic resistance. Microbiol Mol Biol Rev. 2010 Sep; 74(3): 417–433. Doi: 10.1128/MMBR.00016-10
  4. Rosenblatt-Farell N. The landscape of antibiotic resistance. Environ Health Perspect. 2009 Jun; 117(6): A244–A250. doi: 10.1289/ehp.117-a244.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr