monkeypox-cover-310px

Belum lama ini, Indonesia digemparkan dengan adanya penyakit dengan nama “cukup unik” yang dikenal sebagai monkeypox atau cacar monyet. Desas-desus jenis cacar ini dimulai ketika negara tetangga, Singapura, melaporkan adanya kasus monkeypox pada 9 Mei 2019. Namun, apa sebenarnya monkeypox itu? Perlukah kita khawatir?

Seperti namanya, monkeypox merupakan penyakit yang ditandai dengan karakteristik gejala yang mirip dengan cacar atau smallpox, tetapi lebih ringan. Smallpox sendiri merupakan salah satu infeksi virus yang paling ditakutkan sebelum keberhasilan pemberantasannya pada tahun 1980. Seusai resminya pemberantasan smallpox oleh vaksin, kini monkeypox menjadi infeksi orthopoxvirus yang paling diwaspadai. Berbeda dengan smallpox yang sempat menginfeksi banyak orang di berbagai belahan dunia, monkeypox baru terbatas pada Afrika bagian tengah dan selatan.

Serupa dengan jenis cacar lain, monkeypox juga disebabkan oleh infeksi virus, yaitu virus monkeypox (MPXV). Namun, virus ini tidak langsung menginfeksi manusia, virus ini awalnya menginfeksi binatang dari jenis pengerat seperti tikus atau tupai, dan primata seperti kera. Penularan dari binatang yang terinfeksi bisa didapatkan melalui kontak cairan tubuh seperti darah atau luka dari binatang tersebut.

Manusia yang terinfeksi juga dapat menularkan monkeypox ke manusia sehat lainnya. Penularan dari manusia ke manusia dapat melalui kontak langsung sekret atau cairan dari saluran napas (droplet batuk atau bersin), kontak dengan luka terbuka, atau penggunaan alat yang terkontaminasi oleh cairan tubuh orang yang terinfeksi. Tidak sebatas kontak luar saja,  virus ini dapat ditularkan melalui plasenta ke janin ibu yang sedang mengandung sehingga menimbulkan monkeypox bawaan. Meskipun begitu, metode penularan manusia ke manusia ini dikategorikan terbatas karena hanya dapat ditularkan ketika pasien telah memiliki gejala berupa ruam sehingga sulit untuk memicu wabah di suatu populasi.

 

Dengan demikian, perlukah kita khawatir? Jawabannya adalah belum. Namun, tidak ada salahnya bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan.

Kasus monkeypox yang terjadi di Singapura diawali oleh hasil tes positif infeksi virus monkeypox pada pria dari Nigeria, yaitu salah satu negara endemik monkeypox, yang datang untuk menghadiri workshop.

Dalam mencegah penularan, pemerintah Singapura telah memberlakukan karantina dengan periode yang disesuaikan dengan masa inkubasi virus (interval dari awal infeksi sampai muncul gejala, yaitu 5 – 21 hari) bagi orang-orang yang sempat kontak langsung dengan pria yang dimaksud sampai dapat dipastikan tidak terdeteksi adanya gejala monkeypox. Dengan adanya tindakan preventif yang baik dari pemerintah Singapura, seharusnya kasus monkeypox tidak menyebar ke Indonesia.

 

Yuk, kenali gejala dan tanda-tanda infeksi virus monkeypox!

Infeksi virus monkeypox dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode invasif dan periode ruam pada kulit. Periode invasif (0-5 hari) ditandai dengan adanya demam, sakit kepala hebat, pembengkakan pada nodus limfa, nyeri dan lemah otot, sakit punggung, dan kelelahan yang berkepanjangan.

Periode ruam (biasanya muncul 1-3 hari setelah demam) pada kulit diawali pada ruam kemerahan pada area wajah yang dapat menyebar ke seluruh tubuh. Seiring waktu ruam yang dimaksud dapat mengalami perubahan dari yang awalnya berbentuk makulopapula (kemerahan bergaris tegas yang datar dengan sedikit elevasi) menjadi vesikel (ciri khas cacar, yaitu gelembung melepuh berisi cairan), pustula (gelembung melepuh berisi pus), sampai krusta (sisa dari isi cacar yang mengering di permukaan kulit). Perubahan dari makulopapula sampai krusta dapat terjadi dalam 10 hari. Krusta pada kulit dapat menghilang dalam waktu 3 minggu.

 

Bagaimana cara mencegah infeksi virus monkeypox?

Infeksi dari virus ini dapat dicegah dengan menghindari kontak langsung dengan binatang pada daerah endemik (di Afrika bagian tengah dan selatan), terutama binatang seperti tikus dan kera. Apabila kita sedang berada di daerah endemik, disarankan untuk memasak daging binatang sampai matang sebelum dikonsumsi.

Kamu juga dapat mencegah penularan dari manusia ke manusia lain dengan mencegah kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau barang-barang yang kemungkinan terkontaminasi oleh cairan tubuh orang yang dimaksud. Selain itu, kamu sebisa mungkin mengenakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan di dekat orang yang terinfeksi.

Apabila kamu mendeteksi adanya kemungkinan seseorang terinfeksi virus monkeypox, segera laporkan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan yang lebih cepat.

 


Referensi:

  1. Monkeypox: current status in West and Central Africa 2017. Geneva: World Health Organization; 2017 Nov 3.
  2. Monkeypox [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2018 [cited 2019 May 23]. Available from: https://www.who.int/emergencies/diseases/monkeypox/en/
  3. Monkeypox – Singapore [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2019 May 16 [cited 2019 May 23]. Available from: https://www.who.int/csr/don/16-may-2019-monkeypox-singapore/en/
  4. Ini tentang monkeypox (MPX) [Internet]. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2019 May 13 [cited 2019 May 23]. Available from:http://www.depkes.go.id/article/view/19051500001/ini-tentang-monkeypox-mpx-.html
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr