Gatal di beberapa bagian tubuh merupakan gejala utama penyakit skabies (atau kudis). Diakibatkan serangan tungau bernama Sarcoptes scabiei, rasa gatal ini terutama terjadi di area-area lipatan, seperti siku, lutut, dan lipat paha serta sela-sela jari ditambah beberapa area badan lainnya. Tidak sekeren namanya, penyakit kulit ini menimbulkan penampakan yang tak elok seperti gambar berikut.

ScabiesD08

Skabies umum ditemui pada tempat tinggal dengan penghuni yang padat, misalnya asrama, pesantren, atau area pengungsian. Mudahnya penularan melalui kontak kulit membuat skabies sering kali sukses membawa banyak korban dan menyebabkan kehebohan. Penularan juga sering terjadi lewat pemakaian handuk, selimut, atau seprai secara bersama. Ditambah dengan kurangnya kesadaran hidup bersih atau sumber air bersih, penyakit ini dapat hilang-timbul-hilang-timbul di komunitas padat penduduk bagaikan penagih utang bila tak diatasi secara tuntas.

Gejala klasik yang umumnya dialami para penderita adalah gatal yang memberat di malam hari, bentol-bentol kecil kemerahan pada kulit yang kadang dapat berisi cairan bening, dan ruam kemerahan. Pada infeksi pertama kali, gejala baru muncul sekitar 3-4 minggu setelahnya, tetapi pada serangan-serangan berikutnya, hanya butuh waktu sekitar 1-2 hari. Pada orang-orang dengan kelemahan sistem pertahanan tubuh, dapat ditemui krusta (cairan kuning yang telah mengeras/mengering). Semuanya ini secara umum berawal dari reaksi sistem imun terhadap infeksi tungau dan telur atau tinjanya.

Pemutusan rantai penularan skabies menjadi sangat penting agar tidak semakin banyak orang-orang yang terkena sekaligus mencegah berulangnya kejadian. Pengobatan diberikan tak hanya untuk mereka yang telah bergejala, tetapi juga orang-orang sekitar yang berinteraksi, apa lagi berkontak fisik langsung dengan penderita. Kontak fisik dengan penderita sebaiknya dihindari untuk sementara waktu. Kain-kain seperti selimut dan seprai yang dipakai bersama harus dicuci bersih menggunakan air panas. Pembersihan ruangan serta lingkungan sekitar juga perlu dilakukan.

Skabies mungkin tampak sebagai gangguan gatal-gatal saja, tetapi sesungguhnya mampu menurunkan kualitas hidup, mulai dari mengganggu aktivitas sehari-hari, mengganggu tidur akibat harus terbangun karena gatal, hingga mengalami infeksi sekunder. Infeksi sekunder terjadi akibat masuknya bakteri melalui kulit yang terbuka setelah digaruk-garuk. Pada skenario yang ekstrem, tapi bukan berarti tak mungkin, infeksi bakteri (Streptococcus grup A yang umumnya banyak terdapat di kulit) menyebabkan kerusakan jangka panjang pada ginjal.

Mengingat kondisi negara kita sebagai daerah tropis, perlulah kita memerhatikan bahwa pencegahan penyakit ini penting. Pasalnya, beberapa area pemukiman nyatanya belum terjangkau oleh sumber air bersih yang mencukupi atau fasilitas kesehatan yang memadai. Kemudian, masih banyak ditemukan rumah-rumah padat penghuni, sementara gaya hidup bersih dan sehat tak selalu secara apik dilaksanakan.

 

 

Referensi:

  1. Banerji A. Scabies. Paediatr Child Health. 2015; 20(7):395-8.
  2. Hay RJ, Steer AC, Engelman D, Walton S. Scabies in the developing world—its prevalence, complications, and management. Clin Microbiol Infect. 2012; 18(4):313-23.
  3. Ratnasari AF, Sungkar S. Prevalensi skabies dan faktor-faktor yang berhubungan di pesantren X, Jakarta Timur. eJKI. 2(1).
  4. World Health Organization. Scabies [Internet]. [cited 2019 May 5]. Available from: https://www.who.int/neglected_diseases/diseases/scabies/en/
  5. Centers for Disease Control and Prevention. Scabies: prevention and control [Internet]. [updated 2018 Oct 31, cited 2019 May 31]. Available from: https://www.cdc.gov/parasites/scabies/prevent.html
Veronika Renny Kurniawati
Pemimpin Redaksi Media Aesculapius FKUI 2018
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr