2018_04_03_43229_1522718369._large

Sumber: thejakartapost.com

Jahe sering digunakan untuk pengobatan tradisional, namun bagaimana perkembangannya di dunia modern?

Jahe dengan nama Latin Zingiber officinale Roscoe merupakan salah satu bahan makanan dan rempah yang paling sering digunakan. Di dunia pengobatan tradisional, jahe sudah sering digunakan untuk mengobati berbagai gejala, seperti muntah-muntah, nyeri otot, nyeri sendi, juga demam. Kini, penggunaan jahe sedang dikembangkan dan diteliti sebagai penanganan untuk diabetes, rematik, hipertensi, dan bahkan kanker.

KANDUNGAN DARI JAHE

Di dalam jahe terdapat berbagai zat yang memiliki berbagai manfaat. Di antara 400 senyawa yang telah ditemukan, terdapat zat aktif yang bernama gingerol dan shogaol. Gingerol merupakan zat yang ditemukan pada jahe segar dan memiliki khasiat memperbaiki penyakit kronik serta memiliki efek anti-aging. Sementara itu, shogaol ditemukan pada jahe yang dikeringkan dan dampaknya lebih bermakna dibandingkan gingerol. Kedua zat ini mempunyai efek yang dapat memperbaiki kadar gula darah dan profil lemak.

MANFAAT KONSUMSI JAHE

Salah satu kondisi yang dipengaruhi oleh jahe adalah obesitas. Obesitas merupakan masalah kesehatan yang terjadi karena ketidakseimbangan pemasukan dan pemakaian energi. Energi yang berlebih ini biasanya disimpan sebagai trigliserida.

Pada suatu penelitian, ekstrak jahe diketahui menurunkan berat badan dan kadar lemak pada serum. Hal ini terjadi dengan aktivasi sistem saraf simpatis yang akan meningkatkan pemakaian energi dan peningkatan enzim yang memecah lemak otot. Gingerol tadi akan menekan kerja enzim amilase dan lipase pankreas, sehingga menghambatkan perkembangan sel lemak dan mencegah penumpukan trigliserida. Selain itu, mengkonsumsi jahe dapat meningkatkan pembuatan panas tubuh, menurunkan rasa lapar, dan menurunkan penyerapan lemak di usus.

Penyakit jantung juga sering berhubungan dengan kadar lemak tubuh, terutama pada kadar kolestrol dan lemak jenuh yang tinggi, serta hipertensi. Oleh karena itu, jahe dapat menjadi pencegah terjadinya penyakit jantung melalui penurunan kadar trigliserida dan kolestrol. Rempah ini juga menurunkan oksidasi lemak jenuh yang menjadi dasar dari terbentuknya sumbatan pembuluh darah.

Pada penyakit lain, seperti diabetes, konsumsi jahe memperbaiki kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Sehingga memiliki jahe diduga memiliki efek yang baik, terutama pada penderita diabetes tipe 2. Namun, hal ini masih diperdebatkan karena hasil yang tidak konsisten.

Selain penyakit metabolik, jahe juga dapat mencegah terjadinya penyakit saraf. Penyakit seperti Alzheimer dapat diringankan oleh jahe dengan mengurangi kematian sel saraf dan meningkatkan enzim antioksidan. Penderita demensia tahap awal juga diuntungkan karena konsumsi jahe meningkatkan daya ingat dan daya pikir seseorang. Gingerol yang terdapat pada jahe juga diketahui memulihkan gangguan yang terjadi pada penyakit Alzheimer.

Efek-efek yang diberikan jahe biasanya terlihat pada konsumsi bubuk jahe sebanyak 2 gram per harinya. Namun, hal ini masih diteliti lebih lanjut dan diduga konsumsi ekstrak jahe pada dosis yang lebih tinggi memberi pengaruh yang lebih baik. Cara mengkonsumsinya pun tidak terbatas pada makanan, namun juga dengan minuman, terutama jika diminum sebelum makan berat.

 

Referensi:

  1. Wang J, Ke W, Bao R, Hu X, Chen F. Beneficial effects of ginger Zingiber officinale Roscoe on obesity and metabolic syndrome : a review. 2017;1–16.
  2. Gyu J, Yeou S, Jeong M, Sook M. Pharmacotherapeutic potential of ginger and its compounds in age-related neurological disorders. Pharmacol Ther [Internet]. 2017;(xxxx):0–1. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.pharmthera.2017.08.010
  3. Attari VE, Malek A, Zeinab M, Mahluji S, Zununi S, Alireza V. A systematic review of the anti ‐ obesity and weight lowering effect of ginger ( Zingiber officinale Roscoe ) and its mechanisms of action. 2018;(October 2017):577–85.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr