Kebanyakan dari kita pasti pernah mengalami cegukan. Benarkah hal tersebut adalah hal yang normal?

Sebenarnya apa definisi ‘cegukan’ dari sudut pandang medis?

‘Cegukan’ sebenarnya dihasilkan dari kontraksi otot diafragma dan otot-otot diantara sela iga kita. Otot-otot ini mengalami kontraksi secara tiba-tiba, diikuti dengan penutupan laring (saluran pernafasan lanjutan dari saluran hidung). Akibatnya, udara akan tertekan secara paksa menuju ke paru-paru dan menghasilkan bunyi “hik” yang khas.

mekanisme-cegukan

Gambar 1. proses terjadinya kontraksi diafragma dan penutupan laring (sumber : https://infosehat09hartonoprasetyo.wordpress.com/2010/08/17/waspada-cegukan-permanen-mungkin-pertanda-gagal-ginjal/)

            Peristiwa terjadinya cegukan sangat berkaitan dengan mekanisme terjadinya refleks. Adanya rangsang fisik maupun kimiawi dalam tubuh akan memberi sinyal khusus ke area batang otak, tepatnya pada substansia grisea peri-aqueduktal dan nukleus sub-thalamus. Selanjutnya, otak akan meneruskan sinyal tersebut menuju ke diafragma dan otot-otot pernafasan. Alhasil, otot-otot tersebut menjadi berkontraksi.

 

Seperti itulah proses selengkapnya dari terjadinya cegukan. Cukup rumit, bukan?

 

Apakan cegukan normal dialami seseorang?

Jawabannya, tergantung. Kita bisa menilai cegukan dari jangka waktu terjadinya. Apabila cegukan terjadi dalam hitungan menit atau jam, maka peristiwa itu kita sebut sebagai ‘cegukan transien’. Lain halnya apabila cegukan terjadi selama lebih dari 48 jam non-stop;  kita bisa sebut peristiwa itu sebagai ‘cegukan persisten

Penyebab cegukan transien masih belum diketahui dengan jelas hingga saat ini. Tapi tenang saja, gejala ini biasanya akan sembuh dengan sendirinya, sehingga relatif tidak berbahaya. Sebaliknya, cegukan bersifat persisten-lah yang harus kita waspadai. Peristiwa ini bisa jadi menandakan adanya kerusakan pada saraf (misalnya akibat stroke), saluran pencernaan (misalnya karena kenaikan asam lambung) ataupun gangguan kejiwaan (misalnya akibat stress atau skizofrenia).

 

Lantas, bagaimana cara kita mengatasinya?

Untuk cegukan yang bersifat transien, kita bisa melakukan beberapa hal seperti menahan nafas, meminum segelas air, atau bernafas ke dalam paperbag. Hal-hal tersebut terbukti mampu ‘mengelabui’ otak kita supaya tidak terus-terusan mengirim ‘sinyal’ untuk cegukan. Apabila gejala tersebut tidak segera berhenti dalam waktu 48 jam, maka kita perlu waspada. Jalan terbaik adalah segera memeriksakan diri kita ke dokter. Hal ini untuk memastikan apakah ada yang salah di dalam tubuh kita. Dengen memeriksakan diri sedini mungkin, masalah ini pun pasti dapat segera diatasi, bukan?

 

REFERENSI

  1. Brañuelas Quiroga J, Urbano García J, Bolaños Guedes J. Hiccups: a common problem with some unusual causes and cures. Br J Gen Pract [Internet]. 2016 Nov 1 [cited 2019 Jun 30];66(652):584–586. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/27789508
  2. Chang F-Y, Lu C-L. Hiccup: mystery, nature and treatment. J Neurogastroenterol Motil [Internet]. 2012 Apr [cited 2019 Jun 30];18(2):123–30. Available from: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22523721
Lahir di Bogor pada 2 Januari 1999. Saat ini sedang menempuh perkuliahan semester 5 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Hobi menulis dan bernyanyi.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr