Makan boleh jadi salah satu hiburan bagi kebanyakan orang. Saat kita makan terlalu banyak, kelebihan makanan itu akan terus terbawa dari restoran buffet sampai ke rumah kita.

Dewasa ini kita akan semakin sering melihat betapa menjamurnya gerai-gerai grill, buffet, all you can eat, dan sejenisnya di perkotaan. Bukan tanpa alasan tentunya, sebab dalam ekonomi setiap supply (penawaran) akan didahului oleh demand (permintaan). Tren dan budaya makan sepuasnya dan sebanyak-banyaknya memang semakin gila di tengah masyarakat yang semakin konsumtif. Boleh jadi ini adalah tanda bahwa masyarakat semakin sejahtera. Mengingat kita tahu harga buffet tidaklah murah (tidak lebih rendah dari Rp99.000,00). Sayangnya, gaya hidup dan budaya makan seperti ini akan menjadi pintu masuk masalah kesehatan yang tidak hanya personal, tetapi juga publik. Mengapa?

Image result for hachi grill

Ilustrasi Buffet; sumber: https://pergikuliner.com/restaurants/tangerang/hachi-grill-alam-sutera

Bicara soal makanan berarti bicara soal kebersihan mulai dari cara penyimpanan hingga penyajian. Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan untuk menilai seberapa layak resto pilihan Anda.

  1. Restoran buffet menyajikan makanan mentahnya di meja-meja yang terpisah antara makanan dingin-panas maupun daging-sayur. Menggunakan es sebagai pendingin (dan juga mengawetkan) untuk daging mentah dan sayur sama pentingnya dengan menggunakan pemanas untuk makanan jadi seperti sup dan masakan daging. Suhu menjadi sangat penting dalam penyajian makanan. Makanan dingin harus tetap dingin (biasanya suhu maksimal adalah 4oC) baik dalam box es ataupun kulkas dan makanan panas harus tetap panas (sekitar 60oC) di atas meja uap (steam table) – meja uap lebih disarankan karena pemanasan yang merata – atau perapian.
  2. Kebersihan menjadi sangat penting. Meskipun tidak dapat menilai dari SOP, Anda dapat mengamati ini mulai dari kondisi ruangan dan meja saji, bahkan toilet; apakah pelayan membersihkan dengan rutin dan memeriksa kondisi makanan, mengenakan sarung tangan dan alat pelindung diri lainya; dan tentunya bagaimana kondisi makanan seperti warna daging dan sayur. Jika semuanya terlihat baik, Anda cukup aman dari kasus keracunan makanan.

Jika semuanya terlihat baik, hampir pasti kemungkinan Anda terjangkit penyakit akibat infeksi E. coli atau Salmonella typhi ataupun keracunan makanan rendah. Sayangnya Anda tidak bisa mengontrol seandainya ada anak kecil yang menyentuh daging dengan tangan yang kotor atau orang bersin yang menodai sayur. Maka, tetaplah waspada dan olahlah makanan hingga matang.

Masalah kesehatan resto buffet tidak berhenti sampai di situ. Masalah yang sebenarnya adalah masalah jangka Panjang akibat konsumsi yang tidak tepat, obesitas dan turunannya. Makan sepuasnya adalah hal yang tidak terlalu sehat setidaknya karena beberapa hal.

  1. Anda akan dipaksa secara psikologis untuk makan sangat banyak melebihi yang Anda butuhkan. Padahal sebuah riset di amerika menunjukkan bahwa restoran non buffet saja sudah menyediakan porsi yang lebih besar dari yang seharusnya kita konsumsi. Buffet akan menambah masalah kelebihan porsi ini. Harga yang mahal dan fasilitas makan sepuasnya akan memaksa orang secara psikologis mengambil manfaat (makanan) sebanyak-banyaknya agar mereka tidak rugi. Padahal sebanyak apapun kita mengambil makanan, restoran akan tetap untuk karena harga jual mereka di atas rata-rata biaya makan.
  2. Untuk makan dalam jumlah banyak, biasanya Anda akan berpuasa terlebih dahulu. Umumnya puasa akan mengorbankan sarapan. Padahal melewatkan sarapan punya efek negatif. Selanjutnya baca di sini. Ketika Anda mulai makan, secara psikologis Anda sulit untuk merasakan alarm kenyang dan cenderung overeating. Ini adalah faktor risiko utama obesitas. Makan banyak dalam waktu singkat bahkan tidak memberikan efek positif pada konversi energi. Sehingga energi yang dihasilkan tidak sesuai dengan kalori yang masuk. Ditambah lagi minuman yang dikonsumsi biasanya mengandung gula tinggi yang akan meningkatkan risiko diabetes.
  3. Kecenderungan penderita obesitas untuk menjadi semakin buruk saat datang ke restoran buffet dilihat melalui kebiasaan makan mereka. Penderita obesitas menurut penelitian akan duduk lebih dekat dengan meja saji, langsung memilih makanan, menggunakan garpu dan piring besar, dan jarang mengunyah.
  4. Jika Anda makan secara proporsional antara daging dan sayur, tidak akan terlalu banyak masalah. Akan tetapi, jika Anda hanya mengonsumsi daging merah tanpa makanan yang mengandung antioksidan, risiko kanker kolon anda meningkat tanpa ada faktor protektif.

 

Memang makan bukan menjadi satu-satunya cara menjaga kesehatan. Selain itu makanan memang soal selera, tetapi porsi sajian harus dibatasi sesuai dengna kebutuhan kalori. Makanlah sebelum lapar, berhentilah sebelum kenyang. Anda yang tahu seperti apa tubuh Anda, sehingga jangan melawan saat perut Anda sudah penuh. Tulisan ini tidak dibuat untuk melarang Anda mengunjungi restoran “makan sepuasnya”, melainkan hanya sebagai sebuah pertimbangan untuk menikmatinya dalam proporsi yang tidak berlebihan. “Lebih baik mati tenang daripada mati menderita” rasanya lebih baik dibanding “lebih baik mati kenyang daripada mati lapar”.

Referensi:

  1. Kam K. Buffet bellyaches [Internet]. New York: WebMD; 2006 Oct 27 [cited 2019 Jul 7]. Available from: https://www.webmd.com/food-recipes/features/buffet-bellyaches#1
  2. Cohen DA, Story M. Mitigating the health risk of dining out: the need for standardized portion sizes in restaurants. Am J Public Health. 2014 Apr; 104(4): 586-90.
  3. Thompson A. Buffet behavior: the science of pigging out [Internet]. Bath: Livescience; 2008 Dec 2 [cited 2019 Jul 7]. Available from: https://www.livescience.com/5206-buffet-behavior-science-pigging.html
  4. Doheny K. Short-term overeating has lasting impact [Internet]. New York: WebMD; 2010 Aug 25 [cited 2019 Jul 7]. Available from: https://www.webmd.com/diet/news/20100825/short-term-overeating-has-lasting-impact#1
  5. Apolzan JW, Bray GA, Hamilton MT, Zderic TW, Han H, Champagne CM, et al. short-term overeating results in incomplete energy intake compensation regardless of energy density or macronutrient composition. Obesity (Silber Spring). 204 Jan; 22(1): 119-30.
Use No Limitation As Limitation
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr