Bagi kebanyakan orang, sakit maag sudah lazim dialami. Bahkan, sakit maag dapat menjadi santapan bulanan, mingguan, bahkan harian bagi beberapa orang. Namun, tahukah Anda bahwa sakit maag dapat menyebabkan penurunan produktivitas, kualitas hidup, hingga kematian?

 

maag chest-pain

Nyeri dada. Sumber: https://hcah.in/health-advantage/understanding-chest-pain-comes-goes/

Sakit maag, atau sering disebut dispepsia pada kalangan medis, merupakan sensasi rasa tidak nyaman pada perut bagian atas, terutama ulu hati (epigastrium) dan dada. Namun, terkadang, sakit maag sulit dibedakan dari penyakit jantung. Ketika sakit maag masih terasa di abdomen, penegakkan diagnosis tidaklah sulit. Namun, seringkali sakit maag dapat disertai dengan gejala berupa dada terasa seperti terbakar (heartburn). Hal ini disebabkan karena asam dari lambung naik hingga ke dada – disebut refluks asam. Jika kondisi ini terjadi lebih dari 2 kali dalam seminggu, maka sakit maag (dispepsia) bukan lagi diagnosis yang tepat, melainkan penyakit refluks gastro-esofageal (GERD).

Heartburn dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari makanan yang mengandung kopi, coklat, makanan pedas dan/atau berlemak, alkohol, hingga kondisi-kondisi lain seperti obesitas, rokok, kehamilan, dan obat-obatan seperti obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS). Seringkali, heartburn dipicu oleh stres dan ansietas, begitu pula dengan sakit maag. Pada keadaan normal, asam lambung tidak dapat mengalami refluks karena ditahan oleh sfingter esofagus bawah. Namun, pada keadaan tertentu, tonus sfingter tersebut dapat melemah dan menyebabkan refluks asam.

Masalahnya, gejala dispepsia dan heartburn seringkali menyerupai gejala penyakit jantung koroner (PJK), yaitu nyeri dada yang semakin berat dan tidak membaik setelah makan, serta dipicu oleh stres dan mereda setelah istirahat. Hal ini menyebabkan tenaga medis seringkali salah mendiagnosis PJK dengan gangguan sistem pencernaan. Situasi ini seringkali ditemukan pada pasien dengan usia yang masih terbilang muda, karena PJK lebih sering menyerang pasien dengan usia tua. Namun, kini, tren penyakit sindrom metabolik – terdiri dari hipertensi, obesitas abdominal, dislipidemia, dan resistensi insulin (diabetes) – mulai bergeser. Kaum-kaum muda yang masih berkepala 2 juga terpapar risiko mengidap penyakit-penyakit metabolik, seperti tingginya tekanan darah, profil lipid, gula darah, dan obesitas.

Parahnya, bahkan seorang tenaga medis pun dapat salah membedakan antara heartburn dan penyakit jantung pada dirinya. Seperti yang diceritakan oleh Harvard Health Publishingseorang dokter yang tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya mengalami rasa terbakar pada ulu hati ketika berolahraga. Asumsi bahwa hal tersebut hanyalah heartburn hampir membuatnya kehilangan nyawanya sendiri.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan kita dengan melakukan tes kesehatan secara berkala. Pada situasi seperti ini, penyakit jantung dapat dengan mudah dibedakan dengan sakit maag ataupun heartburn melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), enzim jantung (troponin), dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan penyakit jantung seperti pengukuran tekanan darah, profil lipid, gula darah, dan lingkar perut. Yuk, mari kita rutin cek kesehatan untuk menghindarkan kita dari penyakit-penyakit silent killer!

Referensi

  1. Maserejian NN, Link CL, Lutfey KL, Marceau LD, McKinlay JB. Disparities in physicians’ interpretations of heart disease symptoms by patient gender: results of a video vignette factorial experiment. J Womens Health (Larchmt). 2009 Oct;18(10):1661-7
  2. Bösner S, Haasenritter J, Becker A, Hani MA, Keller H, Sönnichsen AC, et al. Heartburn or angina? Differentiating gastrointestinal disease in primary care patients presenting with chest pain: a cross-sectional diagnostic study. Int Arch Med. 2009;2:40
  3. Junge C. Doctors can confuse heartburn and heart disease, even in themselves. Harvard Health Publishing. 2011 Sep 16
  4. Naliboff BD, Mayer M, Fass R, Fitzgerald LZ, Chang L, Bolus R, et al. The effect of life stress on symptoms of heartburn. Psychosom Med. 2004 May-Jun;66(3):426-34
  5. Audrey J. Sakit maag tak kunjung sembuh, apa yang harus dilakukan? [Internet]. Jakarta: Beranisehat.com; 2019 May 13 [cited 2019 Jul 8]. Available from: http://beranisehat.com/
PPAB MA 2018
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr