Perusahaan memikirkan soal gaji dan kesehatan fisik pekerja. Bagaimana dengan kesehatan jiwa pekerja?

Stres akibat kerja bukan suatu hal yang asing, bahkan dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Demi sesuap nasi atau bukti aktualisasi diri, kerja merupakan keharusan. Namun, menjaga kesehatan jiwa tidak kalah penting. Stres akibat kerja umumnya terjadi karena pekerja tidak memiliki mekanisme penyesuaian (coping mechanism) yang tepat dalam menangani beban kerja yang berat. Hal ini berdampak pada peningkatkan jumlah hari izin atau bolos, penurunan produktivitas kerja, dan peningkatan disabililtas pekerja.

Secara garis besar, terdapat dua bentuk stres. Stres yang memberikan dampak positif dikenal sebagai eustress. Eustress dapat berperan meningkatkan perhatian, konsentrasi, atau memori seseorang.  Di sisi lain, stres yang memberikan dampak negatif dikenal sebagai distress. Distress menjadi faktor utama terjadinya berbagai gangguan jiwa.

Tidak hanya terdapat perbedaan jenis stres saja, reaksi setiap orang terhadap stres sangat berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai macam hal seperti usia, jenis kelamin, kondisi kesehatan secara umum, atau kondisi kesehatan jiwa masing-masing individu. Tidak hanya berasal dari diri sendiri, reaksi seseorang terhadap stres juga dapat dipengaruhi oleh kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut. Lingkungan sekitar yang berperan memberikan dukungan juga berperan penting menentukan reaksi seseorang terhadap stres.

Sumber gambar: https://www.webmd.com/mental-health/mental-health-adjustment-disorder

Sumber gambar: https://www.webmd.com/mental-health/mental-health-adjustment-disorder

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual V (DSM V), gangguan jiwa yang dipicu oleh kondisi stres yang spesifik dan berpotensi mengakibatkan trauma pada lingkungan kerja masuk ke dalam kategori “Trauma and Stress-related Disorders”. Salah satu bentuk gangguan kesehatan jiwa yang umum terjadi adalah “Gangguan Penyesuaian” atau “Adjustment Disorder”.

Apa itu gangguan penyesuaian? Kondisi ini memang jarang terdengar, namun cukup banyak terjadi di kalangan masyarakat.

Gangguan penyesuaian merupakan kondisi terjadinya gangguan jiwa yang umumnya menganggu fungsi sosial. Gangguan penyesuaian ini terjadi pada saat seseorang sedang beradaptasi dari perubahan hidup atau kondisi stres yang signifikan. Manifestasi klinis yang muncul sangat bervariasi. Seseorang dengan gangguan penyesuaian bisa depresi, ansietas, atau gabungan keduanya. Rutinitas sehari-hari seseorang dengan gangguan penyesuaian juga bisa terganggu. Umumnya, gangguan penyesuaian terjadi satu bulan setelah terjadi perubahan hidup atau kondisi stress yang signifikan. Manifestasi klinis ini rata-rata bertahan selama enam bulan kecuali seseorang dengan gangguan penyesuaian mengalami depresi berkepanjangan.

Penyebab terjadinya gangguan penyesuaian bisa berupa satu atau lebih kejadian. Pada kondisi lingkungan kerja, seseorang bisa mengalami gangguan penyesuaian ketika gagal mencapai target pekerjaan atau terjadi krisis bisnis. Namun, kejadian stres lain seperti kehilangan kerabat terdekat, didiagnosis menderita penyakit tertentu, atau masalah dalam rumah tangga juga bisa mengakibatkan gangguan penyesuaian.

Gangguan penyesuaian seringkali tidak didiagnosis oleh dokter umum. Hanya terdapat 3-10% prevalensi pasien gangguan penyesuaian di tempat praktik dokter umum, sedangkan terdapat lebih dari 50% pasien gangguan penyesuaian yang didiagnosis oleh dokter ahli kesehatan jiwa. Di dalam dunia kerja, diagnosis gangguan penyesuaian juga sulit dilakukan. Hal ini diakibatkan oleh gejala gangguan penyesuaian yang tidak spesifik. Selain itu, sulit sekali ditemukan hubungan antara gangguan penyesuaian dan kondisi lingkungan kerja. Hal ini didasarkan bahwa kejadian stres juga dapat disebabkan oleh berbagai hal di luar tempat kerja.

Perusahaan perlu memikirkan hal ini secara matang karena gangguan jiwa dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan. Di Belanda, rata-rata setengah dari disabilitas kerja akibat gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan penyesuaian. Pekerja yang mengalami depresi, ansietas, gangguan tidur, mudah marah, dan gangguan fungsi hidup lainnya secara langsung atau tidak langsung pasti menimbulkan kerugian bagi perusahaan.

Hal ini juga mengindikasikan bahwa penanganan pekerja dengan gangguan penyesuaian juga merupakan hal yang penting. Dokter umum atau dokter spesialis kedokteran okupasi harus bisa mengidentifikasi gangguan penyesuaian ini sejak awal. Oleh sebab itu, perlu dilakukan surveilans kesehatan okupasional (kesehatan kerja) yang juga menilik kesehatan jiwa khususnya jika pekerja terpapar risiko terganggunya kesehatan jiwa selama menjalankan pekerjaan. Surveilans ini diperlukan karena tingginya risiko kesehatan yang tidak dapat dieliminasi atau dikendalikan secara adekuat.

Tidak hanya bagi perusahaan saja, para pekerja yang sudah mulai merasakan adanya perubahan pada fungsi kehidupan sehari-hari juga perlu menyadari bahwa terdapat kondisi yang disebut gangguan penyesuaian ini. Pekerja juga harus menyadari keterbatasan diri masing-masing terutama jika ada kejadian atau perubahan hidup yang signifikan. Memeriksakan diri ke dokter juga merupakan hal yang wajib dilakukan. Sama saja seperti luka fisik ketika terpapar benda tajam, gangguan pada kesehatan jiwa juga memerlukan pertolongan dari dokter.nath

Referensi:

  1. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas PPDGJ-III dan DSM-5. 2nd Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2013. p.79.
  2. Chirico F. Adjustment disorders in DSM-5 implications for occupation health surveillance. Acta Psychopathol. 2015;1:14.
  3. Lal R, Mackinnon DF. Adjustment disorder [internet]. Virginia: Johns Hopkins Psychiatri Guide; 2017 [cited 2019 July 9]. Available from: https://www.hopkinsguides.com/hopkins/view/Johns_Hopkins_Psychiatry_Guide/787068/all/Adjustment_Disorder
  4. Carta MG, Balestrieri M, Murru A, Hardoy MC. Adjustment disorder epidemiology, diagnosis, and treatment. Clin Pract Epidemiol Ment Health. 2009;5:15.
  5. van der Klink JLL, van Dijk FJH. Dutch practice guidelines for managing adjustment disorders in occupational and primary health care. Scand J Work Environ Health. 2003;29(6):478-9.
Nathalia Isabella Muskitta
FKUI 2016 – Redaktur Opini dan Humaniora Surat Kabar Media Aesculapius
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr