Umumnya, halusinasi dikenal sebagai suatu kondisi ketika kita melihat sesuatu yang keberadaannya tidak ada. Akan tetapi, halusinasi tidak terbatas pada penglihatan saja, lho! Halusinasi juga dapat merupakan suatu kondisi ketika kita memegang ataupun mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Menurut National Health Service, halusinasi adalah ketika seseorang melihat, mendengar, mencium, memakan, dan/atau merasakan sesuatu yang tidak ada. Kondisi halusinasi ini disebabkan oleh banyak alasan, seperti adanya gangguan jiwa ataupun gangguan pada sistem saraf.

Sumber: CNNIndonesia

Sumber: CNNIndonesia

Penyebab Halusinasi

Sebagian besar halusinasi disebabkan oleh:

  • Skizofrenia
    Sekitar 70% orang dengan skizofrenia mengalami halusinasi visual, dan 60-90% mendengar halusinasi berupa suara-suara (halusinasi pendengaran). Beberapa orang lainnya juga dapat mencium dan merasakan hal yang tidak ada.
  • Mengonsumsi narkotika dan alkohol
  • Penyakit Parkinson
    Setidaknya setengah orang dengan penyakit Parkinson mengalami halusinasi visual.
  • Penyakit Alzheimer dan Demensia, khususnya Lewy body dementia.
    Penyakit-penyakit ini membuat perubahan pada otak yang dapat menghasilkan halusinasi. Kemungkinan timbulnya halusinasi semakin tinggi apabila kondisi penyakit telah parah.
  • Migrain
    Sekitar 1/3 orang dengan migrain juga melihat ‘aura’, salah satu jenis halusinasi visual.
  • Tumor otak
    Halusinasi akibat tumor otak sangat tergantung dengan lokasi tumor itu sendiri. Jika tumor terletak di area yang berhubungan dengan fungsi penglihatan, orang tersebut dapat melihat hal yang tidak nyata. Jika tumor terletak di area lain, orang tersebut dapat merasakan atau mencium hal yang tidak ada.
  • Sindrom Charles Bonnet
    Halusinasi umum ada sebagai efek samping penyakit degenerasi makular maupun glaukoma.

Jenis-jenis Halusinasi

Adapun jenis-jenis halusinasi sebagai berikut:

  1. Halusinasi auditori (pendengaran)
    Orang dengan halusinasi jenis ini akan mendengar suara-suara yang ada dari dalam maupun luar pikiran. Suara tersebut seperti berbicara kepada suara lainnya, ataupun menyuruh orang tersebut untuk melakukan sesuatu. Kondisi yang menyebabkan halusinasi jenis ini meliputi skizofrenia, bipolar, psikosis, PTSD, kehilangan pendengaran, BPD, lesi otak, gangguan tidur, maupun penggunaan narkotika.
  2. Halusinasi visual
    Halusinasi ini dapat membuat orang melihat hal yang sebenarnya tidak ada, ataupun hal berjalan tidak sesuai kenyataannya. Selain itu, kilat cahaya, titik-titik berwarna, ataupun bentuk-bentuk lainnya juga dapat muncul sebagai bentuk halusinasi. Keadaan ini dapat disebabkan oleh iritasi pada korteks penglihatan, kerusakan pada jaringan otak, skizofrenia, depresi, delirium, demensia, dan lainnya.
  3. Halusinasi olfaktori (penciuman)
    Orang dengan halusinasi olfaktori merasa ada bau yang keluar dar tubuhnya ataupun dari lingkungan sekitarnya, meskipun tidak ada bau apa-apa. Hal ini dapat disebabkan oleh cedera di kepala, flu, sinus, tumor otak, dan lainnya.
  4. Halusinasi gustatori (pengecapan)
    Kondisi ini menyebabkan orang merasakan rasa yang aneh pada makanan maupun minumannya. Halusinasi ini dapat dipicu oleh adanya penyakit pada bagian otak, lesi otak, sinus, maupun epilepsi.
  5. Halusinasi perasaan (taktil/somatis)
    Contoh halusinasi tipe ini adalah ketika kita merasakan ada yang menggelitik tubuh kita ataupun keberadaan serangga yang jalan di tubuh kita saat tidak ada apa-apa. Keadaan seperti skizofrenia, obat-obatan, alkohol, demensia, alzheimer, dan Parkinson dapat membuat orang mengalami halusinasi jenis ini.

Tatalaksana Halusinasi

Jika Anda mengalami halusinasi, Anda harus pergi ke dokter untuk menemukan penyebab halusinasi tersebut. Dokter akan bertanya mengenai riwayat medis dan menjalankan tes fisik serta menanyakan mengenai gejala-gejala yang sedang dialami. Beberapa tes seperti EEG (enteroencephalogram) dapat mengecek pola-pola aktivitas listrik yang ada di otak, MRI (magnetic resonance imaging) yang dapat mengambil foto tubuh, juga umum dilakukan untuk mengetahui penyebab halusinasi yang Anda alami. Setelah itu, dokter akan meresepkan obat seperti obat untuk mengobati skizofrenia, demensia, antikejang, operasi mengangkat tumor, maupun obat-obatan lainnya untuk mengatasi migrain. Selain itu, sesi terapi bersama terapis juga dapat membuat Anda lebih tenang dan dapat mengontrol gejala halusinasi tersebut.

Referensi:

  1. Hallucinations [Internet]. Atlanta: WebMD; 2019 [cited 2019 Jul]. Available from: https://www.webmd.com/schizophrenia/what-are-hallucinations
  2. Hallucinations and hearing voices [Internet]. United Kingdom: NHS; 2019 [cited 2019 Jul]. Available from: https://www.nhs.uk/conditions/hallucinations/

 

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr