Beberapa tahun silam, vaping atau rokok elektronik kerap semakin populer di kalangan masyarakat. Lantas, apakah alternatif ini lebih baik atau sama buruknya dengan rokok?

 

smoking-vaping-e-cigarette-gettyimages-830035654

Sumber gambar: https://economictimes.indiatimes.com/magazines/panache/switching-to-e-cigarettes-isnt-a-healthy-choice-it-can-damage-dna-up-cancer-risk/articleshow/65487230.cms

 

Rokok elektronik atau yang sering disebut dengan vape merupakan alat yang digunakan untuk memanaskan cairan yang biasanya berisikan nikotin dan perasa. Cairan ini diubah menjadi bentuk uap untuk kemudian dihirup seperti rokok pada umumnya. Umumnya, rokok elektronik digunakan oleh para pengguna rokok sebagai alternatif dalam upaya untuk berhenti. Namun, penggunaan masal dari vaping ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai keamanan dan potensi risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan.

Pada para pengguna rokok konvensional yang beralih menjadi pengguna rokok elektronik, vaping justru memberi manfaat karena memiliki efek pengurangan adiksi merokok. Manfaat ini terutama dirasakan karena beberapa penelitian menemukan bahwa dampak kesehatan yang dibawa oleh rokok elektronik jauh di bawah rokok konvensional. Akan tetapi, penggunaan metode ini untuk membantu perokok bebas dari adiksinya justru menimbulkan masalah lain. Masalah ini adalah terbentuknya generasi muda yang secara dini mengenal dan mulai merokok dengan rokok elektronik.

Penggunaan rokok elektronik pada usia remaja yang meningkat pada saat ini memiliki konsekuensi pada kesehatan. Penelitian yang dilakukan pada hewan uji coba menemukan bahwa nikotin, yaitu zat pada rokok elektronik, menyebabkan efek negatif pada kemampuan pemusatan perhatian dan memori. Hal ini menjadi perhatian karena perkembangan kemampuan pada sistem saraf ini dibentuk pada usia remaja.

Anak yang mulai merokok elektronik juga ditemukan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengonsumsi marijuana, alkohol, rokok, ataupun bahan terlarang lainnya. Selanjutnya, penelitian lain juga menemukan rokok elektronik tetap mengandung bahan beracun yang berpotensi menimbulkan kanker, meskipun jumlah bahan beracun ini berada di bawah rokok konvensional.

Sehingga sebagai kesimpulan, rokok elektronik hanya memiliki potensi manfaat sebagai alternatif bagi para perokok aktif. Penggunaannya pada orang yang sebelumnya bukan perokok, terutama usia remaja, memiliki efek negatif dan berpotensi menjadi bahan adiktif sehingga harus dihindari. Namun, penelitian mengenai dampak jangka panjang rokok elektronik masih dibutuhkan sehingga penggunaannya dapat dilakukan dengan lebih bijak.

 

 

 

Referensi

  1. Warner KE, Mendez D. E-cigarettes: comparing the possible risks of increasing smoking initiation with the potential benefits of increasing smoking cessation. Nicotine Tob Res. 2019 Jan 1;21(1):41-47.
  2. Chadi N, Hadland SE, Harris SK. Understanding the implications of the “vaping epidemic” among adolescents and young adults: a call for action. Subst Abus. 2019;40(1)7-10.
  3. Canistro D, Vivarelli F, Cirillo S, Marquillas CB, Buschini A, Lazzaretti M, et al. E-cigarettes induce toxicological effects that can raise the cancer risk. Sci Rep. 2017; 7: 2028.

 

 

 

Mahasiswa Tingkat 1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr