Seiring berkembangnya zaman, ponsel pintar atau smartphone sudah menjadi suatu barang yang sangat dibutuhkan dan mendominasi kehidupan sehari-hari. Dengan ditunjang adanya internet, ponsel pintar digunakan dalam berbagai aktivitas, mulai dari untuk sekadar membaca berita, mengecek e-mail, bermain permainan dalam jaringan, hingga terhubung dengan media sosial. Penggunaan ponsel pintar yang berlebihan pun memunculkan istilah kecanduan ponsel pintar.

Kecanduan terhadap ponsel pintar sering didefinisikan sebagai penggunaan berlebihan telepon genggam karena ada dorongan dalam diri yang biasanya diukur dengan jumlah waktu seseorang menggunakan telepon genggam dalam periode waktu tertentu. Sebuah studi melaporkan dari 1,3 milyar data pengguna ponsel pintar di dunia, 176 juta-nya dapat dianggap kecanduan ponsel pintar. Istilah nomophobia (singkatan dari ‘no mobile phone phobia’) pun muncul dan digunakan untuk menggambarkan seseorang yang takut kehilangan akses terhadap ponsel atau koneksi dalam jaringan ponsel pintar miliknya.

smartphone

pic src: news.usc.edu

Tanda-tanda kecanduan smartphone

Terdapat berbagai tanda-tanda seseorang kecanduan akan smartphone. Diantara banyak tanda tersebut, beberapanya antara lain:

  1. Withdrawal

Withdrawal merupakan gejala yang paling umum dirasakan banyak orang. Gejala ini dirasakan ketika seseorang merasakan gelisah, tidak tenang, atau panik apabila tidak dapat menggunakan ponselnya. Hal ini biasanya dirasakan kalau seseorang lupa membawa ponselnya saat berpergian ataupun ketika baterai ponsel sudah hampir habis.

  1. Salience

Salience merupakan kondisi ketika pikiran dan perilaku seseorang didominasi oleh suatu aktivitas tertentu. Sebagai contoh, seseorang akan berulang-ulang mengecek ponsel pintarnya setiap beberapa menit untu mengecek apakah ada pesan baru yang diterimanya. Contoh lainnya adalah ketika seseorang sedang mengerjakan suatu pekerjaan yang penting namun tetap saja dia memikirkan apakah ada pesan baru yang diterima ponselnya.

  1. Conflict

Terkait dengan salience, conflict dapat terlihat ketika seseorang mulai terus menerus menggunakan ponsel dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini dapat terjadi dalam acara-acara, seperti acara berkumpul dengan keluarga, berkumpul bersama teman-teman, hingga dalam urusan pekerjaan.

  1. Phantom phone signals (PPS)

PPS merupakan contoh gejala yang biasanya terjadi pada pekerja. PPS terjadi ketika seseorang merasa atau terbayang-bayang jika terdapat panggilan atau pesan yang masuk pada ponselnya padahal tidak ada sama sekali. Hal ini bisa terjadi jika seseorang secara terus-menerus merasa takut ada panggilan mendadak dari rekan atau atasan saat bekerja.

 

Dampak-dampak kecanduan smartphone

Banyak dampak diketahui dapat terjadi sebagai akibat dari kecanduan ponsel pintar. Terganggunya waktu tidur merupakan salah satu dampak yang terjadi, contohnya insomnia. Lebih lanjut, gangguan tidur ini dapat berakibat pada munculnya stress karena terganggunya tidur. Dampak lain yang bisa muncul adalah kegelisahan (anxiety).

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kecanduan smartphone bisa saja menggangu dalam interaksi sosial. Dalam hal kegelisahan, misalnya, seseorang malah akan terus-menerus memainkan ponsel pintarnya untuk menghilangkan rasa kegelisahan tersebut. Padahal, hal tersebut malah akan membuat semakin parah dan dapat mengganggu hubungannya dengan orang lain, salah satunya dengan keluarganya.

 

Kecanduan atau Ketergantungan?

Istilah kecanduan sebenarnya sudah mulai dikaji ulang dengan istilah ketergantungan yang dianggap lebih tepat. Kecanduan memiliki arti penggunaan sesuatu karena ada dorongan dalam diri sendiri yang mangakibatkan dampak-dampak buruk, sedangkan ketergantungan meupakan kondisi tubuh yang sudah  dengan adanya sesuatu yang tidak selalu menghasilkan dampak buruk. Hal ini sesuai dengan keadaan di dunia nyata dimana tidak semua penggunaan ponsel pintar berlebihan dapat mengakibatkan dampak negatif. Banyak orang menggunakan ponsel pintar untuk mengakses hal-hal positif, seperti mencari informasi akademik, membuat blog-blog pribadi, membuka aplikasi belajar online, dll.

Terlepas dari permasalahan istilah, menggunakan smartphone perlu mengingat dampak yang dapat ditimbulkannya. Smartphone sendiri tentunya memiliki banyak dampak positif maupun negatif. Sebagai pengguna, kita harus bijak dalam menggunakan smartphone guna menghindari dampak-dampak negatif yang ada.

 

 

Daftar Pustaka:

  1. Li L, Lin TTC. Over-connected ? A qualitative exploration of smartphone addiction among working adults in China. BMC Psychiatry. 2019;1–10.
  2. Park CS. Computers in Human Behavior Examination of smartphone dependence : Functionally and existentially dependent behavior on the smartphone. Comput Human Behav [Internet]. 2019;93(December 2018):123–8. Available from: https://doi.org/10.1016/j.chb.2018.12.022
  3. Lin Y, Chiang C, Lin P, Chang L, Ko C, Lee H, et al. Proposed Diagnostic Criteria for Smartphone Addiction. 2016;(2):1–12. Available from: http://dx.doi.org/10.1371/journal.pone.0163010
  4. Rubio G. Cell-Phone Addiction : A Review. Front. Psychiatry. 2016;7(October). doi: 10.3389/fpsyt.2016.00175
  5. Hawi NS, Samaha M. Relationships among smartphone addiction , anxiety , and family relations. 2017;36(10):1046–52.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr