Sumber: Liputan6

Sumber: Liputan6

Masih banyak kepercayaan dan stereotip yang kurang benar, atau mungkin sama sekali tidak benar, yang beredar seputar skizofrenia. Beberapa informasi yang salah ini terkadang disebarkan melalui film atau serial drama yang ada di TV. Stereotip yang digunakan masyarakat saat menjelaskan gangguan jiwa ini juga terkadang masih salah. Sebelum kita masuk mengupas mitos dan fakta yang ada pada skizofrenia, kita perlu mengetahui definisi skizofrenia terlebih dahulu. Skizofrenia adalah gangguan mental parah dan kronis yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Gejala-gejala yang ditunjukkan adalah kombinasi halusinasi, delusi, aupun cara berpikir dan berperilaku yang cukup ekstrem yang menyebabkan orang dengan skizofrenia kurang dapat berinteraksi sehari-hari.

#1: Orang dengan skizofrenia memiliki banyak kepribadian

Hal ini merupakan mitos. Orang yang memiliki banyak kepribadian adalah orang dengan gangguan Dissociative Identity Disorder (DID). Skizofrenia membuat orang terlepas dari realita dan mengalami banyak halusinasi dan delusi. Meskipun begitu, orang dengan skizofrenia tetap hanya memiliki satu kepribadian.

#2: Anak-anak adalah pasien skizofrenia terbanyak

Hal ini merupakan mitos. Kebanyakan kasus skizofrenia dialami oleh remaja dan dewasa di umur 30 tahun.

#3: Semua orang dengan skizofrenia menunjukkan gangguan yang sama

Hal ini, lagi-lagi, merupakan mitos. Tidak semua orang dengan skizofrenia memiliki jenis gangguan yang sama. Terdapat berbagai jenis skizofrenia dengan beragam jenis gejala, serta tahapan yang berbeda-beda.

#4: Orang dengan skizofrenia memiliki kemungkinan bunuh diri lebih besar dan mengalami depresi

Kali ini, anggapan ini merupakan fakta. Orang dengan skizofrenia secara signifikan menunjukkan risiko lebih besar untuk bunuh diri dan mengalami depresi.

#5: Orang dengan skizofrenia sangatlah berbahaya karena mereka agresif dan dapat menyakiti diri mereka ataupun orang lain

Tidak, hal ini adalah mitos. Betul, skizofrenia memang terkadang membuat orang berperilaku dengan cukup kasar, tetapi bukan berarti semua orang dengan skizofrenia dekat dengan kekerasan. Bahkan, orang-orang dengan skizofrenia yang kasar pun hanya bersikap seperti itu apabila penyakitnya telah berkembang jauh. Setelah mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang sesuai, orang dengan skizofrenia akan sama saja dibanding orang yang tidak memiliki skizofrenia dalam aspek ‘berbahaya’ dan ‘agresif’.

#6: Kesulitan berbicara, bergerak, maupun mengingat umum dijumpai pada orang dengan skizofrenia

Ya, hal ini merupakan fakta. Orang dengan skizofrenia dapat mengalami kesulitan berbicara, susah untuk fokus, dan payah dalam mengingat. Selain itu, pergerakannya juga terganggu.

#7: Seluruh pasien skizofrenia harus masuk rumah sakit

Kembali lagi, hal ini merupakan mitos. Tidak semua orang dengan skizofrenia harus dirawat di rumah sakit. Keluarga dapat mengurus di rumah, dengan menunjukkan perhatian dan mempelajari dukungan apa yang dibutuhkan oleh orang tersebut. Saran dari tenaga kesehatan mental profesional juga harus diikuti oleh keluarga yang merawat di rumah.

Referensi:

  1. Huber J. Myths vs. facts: stanford psychiatrist discusses schizophrenia [Internet]. Stanford: Stanford Medicine; 2019 Apr [cited 2019 Jul]. Available from: https://scopeblog.stanford.edu/2019/04/02/myths-vs-facts-stanford-psychiatrist-discusses-schizophrenia/
  2. Schizophrenia: myths and facts [Internet]. India: White Swan Foundation; date unknown [cited 2019 Jul]. Available from: https://www.whiteswanfoundation.org/article/schizophrenia-myths-and-facts/
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr