Glioblastoma merupakan kanker otak yang paling ganas, dimana hanya 5,6% penderitanya dapat bertahan hidup dalam 5 tahun.

agung hercules

 

Agung Hercules. Gambar diambil dari: https://www.liputan6.com/

Baru-baru ini, khalayak Indonesia diramaikan dengan kabar bahwa Agung Hercules telah meninggal dunia untuk selamanya pada hari Kamis (1/8) di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat, setelah berjuang melawan kanker otak selama satu bulan terakhir. Beliau dikabarkan menderita kanker otak glioblastoma di otak kirinya, yang telah memasuki stadium IV. Namun, apa itu glioblastoma? Mari simak faktanya berikut ini.

Glioblastoma

Glioblastoma (sering pula disebut glioblastoma multiforme/GBM), merupakan kanker ganas yang bermula di otak. Selain ganas, kanker ini juga sulit dideteksi karena gejala-gejalanya yang tidak spesifik. Gejala awal penyakit ini dapat berupa sakit kepala, mual, perubahan sikap/sifat, dan gejala-gejala lain yang mirip dengan stroke. Namun, yang pasti, kanker ini bertumbuh dan menyerang dengan ganas, dengan tingkat kelangsungan hidup 5,6% dalam jangka 5 tahun. Selain ganas, glioblastoma memiliki tingkat rekurensi yang tinggi, dan tidak dapat diobati hanya dengan operasi, namun juga dengan radioterapi dan/atau kemoterapi untuk mencegahnya kembali lagi.

Umumnya, glioblastoma dapat dideteksi menggunakan computered tomography (CT scan) dan/atau magnetic resonance imaging (MRI). Ketika dilihat dengan MRI, kanker ini terlihat seperti lesi berbentuk seperti cincin. Gambaran cincin tersebut mirip dengan kelainan otak lain seperti abses, metastasis otak, maupun sklerosis multipel. Oleh karena itu, diagnosis definitif perlu dilakukan dengan biopsi stereotaktik atau kraniotomi. Biopsi stereotaktik merupakan prosedur pengambilan sampel jaringan menggunakan komputer dan gambaran radiologis, sementara kraniotomi merupakan prosedur eksploratif, dimana kanker otak akan dipotong (reseksi) dan diuji laboratorium untuk memastikan diagnosis.

glioblastoma di MRI

Glioblastoma pada gambaran MRI. Gambar diambil dari: https://en.wikipedia.org/

Diagnosis definitif ini penting untuk membedakan antara glioblastoma primer dengan sekunder. Glioblastoma primer merupakan tumor yang muncul secara spontan, sementara glioblastoma sekunder berkembang dari glioma stadium awal. Umumnya, kanker ganas ini memiliki respon terapi dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih buruk daripada glioblastoma sekunder, karena sifat biologisnya yang berbeda dan lebih resisten terhadap beberapa jenis terapi.

Bagaimana cara mengobati glioblastoma?

Pengobatan kanker ini membutuhkan beberapa pendekatan dan waktu yang tidak singkat, serta keterampilan tenaga medis dan kepatuhan pasien. Hal ini disebabkan karena kanker ini sangat tahan terhadap terapi pada umumnya, dan risiko kerusakan pada otak akibat terapi sangatlah tinggi, mengingat jaringan otak termasuk jaringan yang sulit memperbaiki dirinya. Pilihan terapi terdiri dari terapi simtomatik (untuk memperbaiki gejala) dan paliatif (untuk memperbaiki kualitas hidup). Terapi simtomatik dilakukan dengan obat-obatan untuk meringankan gejala dan meningkatkan kemampuan kognitif pasien. Terapi ini umumnya dilakukan dengan obat-obatan antikonvulsan (anti-kejang) dan kortikosteroid.

Di lain pihak, terapi paliatif terdiri dari banyak aspek, termasuk operasi (pengangkatan tumor), kemoterapi, radioterapi, maupun terapi lainnya. Operasi pengangkatan tumor merupakan pilihan pertama pada pengobatan penyakit ini. Artinya, selama massa tumor masih dapat diangkat, maka terapi inilah yang dipilih. Terapi ini juga memiliki tingkat kesuksesan yang paling tinggi. Radioterapi, di lain pihak, merupakan terapi untuk mengecilkan kanker dengan radiasi sebelum akhirnya kanker diangkat. Selain radioterapi, kemoterapi juga menjadi salah satu opsi pengobatan konvensional, meskipun banyak studi yang menyatakan bahwa kemoterapi tidak memiliki efek terhadap kanker jenis ini. Obat kemoterapi yang seringkali digunakan adalah temozolomide, dan menjadi lini pengobatan utama pada pasien dengan penyakit ini. Radioterapi dan kemoterapi merupakan terapi pembantu (adjuvan), dan tetap membutuhkan operasi pengangkatan tumor ketika ukurannya sudah optimal. Selain ketiga terapi tersebut, terdapat beberapa alternatif lain, seperti terapi medan elektrik alternatif (alternating electric field therapy/tumor treating field/TTF). Terapi ini menggunakan medan elektromagnetik berintensitas rendah untuk mengontrol pertumbuhan sel kanker.

Jika Anda mengalami keluhan-keluhan seperti pusing, sering pingsan tanpa sebab, merasa terdapat perubahan sikap, atau ada benjolan keras dan konstan pada bagian kepala, segeralah periksakan diri Anda ke Dokter

Referensi

  1. De Vleeschouwer S, editor. Glioblastoma [Internet]. Brisbane: Codon Publications; 2017 Sep 27. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK469998/ doi: 10.15586/codon.glioblastoma.2017 [PubMed]
  2. Ellor SV, Pagano-Young TA, Avgeropoulos NG. Glioblastoma: background, standard treatment paradigms, and supportive care considerations. J Law Med Ethics. 2014 Summer;42(2):171-82 [PubMed]
PPAB MA 2018
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr