Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Indonesia mendapati urutan kelima stunting di dunia. Strategi WHO/UNICEF dalam pemberian makanan pada bayi dan anak, merekomendasikan 4 poin dalam pencapaian tumbuh kembang optimal : pemberian ASI lebih awal pada 30 menit awal kehidupan, 6 bulan awal kehidupan, pemberian makanan pendamping dan ASI pada usia 6-24 bulan dan terus diberikan ASI hingga usia 2 tahun atau lebih.
Studi yang dilakukan pada bulan Oktober – November 2016 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara stunting dengan pemberian asi tidak eksklusif dan berat bayi lahir rendah. Studi di Banda Aceh tahun 2010 menunjukkan pada anak di bawah 5 tahun yang dulunya tidak mendapat asi eksklusif beresiko 5x lebih tinggi stunting dari yang mendapat asi eksklusif.
Saat ditelusuri, kebanyakan ibu memberi tambahan susu formula karena produksi asi, bayi kurang menyukai asi dan ibu bekerja. Pemberian susu formula dan asi bisa mencukupi nutrisi bayi tapi susu formula kurang antibodi sehingga anak mudah sakit. Di dalam asi terdapat kandungan yang dapat mencegah penyakit dan melawan bakteri dan virus. Protein dan kandungan dalam asi lebih mudah dicerna dibandingkan susu formula.
Stunting yang tidak diatasi dengan baik akan mempengaruhi kehidupan sosial, mengganggu kesehatan, pendidikan dan produktivitas. Berat bayi lahir rendah, status nutrisi ibu hamil, asi yang tidak eksklusif, pendapatan keluarga, pendidikan, pengetahuan ibu tentang nutrisi, jumlah anggota keluarga, kurangnya zink, zat besi, riwayat infeksi, dan genetik keluarga mempengaruhi angka kejadian stunting.
Gangguan perkembangan selama dalam kandungan dapat menyebabkan berat bayi lahir rendah. Studi menunjukkan berat bayi lahir rendah beresiko 12x stunting lebih tinggi dari yang berat bayi lahir normal. Bayi yang lahir rendah rentan terinfeksi misalnya diare dan infeksi saluran napas bawah, probabilitas lebih besar untuk anemia, masalah paru dan nafsu makan buruk dibandingkan yang berat lahir normal.
Petugas kesehatan penting untuk ikut serta mempromosikan pemberian asi saat hamil dan setelah melahirkan. Ibu perlu diberitahukan cara pemberian asi sejak bayi lahir hingga 6 bulan dan faktor yang mempengaruhi nutrisi anak. Ibu juga harus mengetahui nutrisi yang dibutuhkan bayi dan deteksi awal stunting sehingga dapat menurunkan resiko stunting pada anak mereka.

DAFTAR PUSTAKA
Ariati, Ni dkk. Description of nutritional status and the incidence of stunting children in early childhood education programs in Bali-Indonesia. Bali Medical Journal. 2018 ; Volume (7) : 723-726
Kemenkes. Situasi balita pendek (stunting) di Indonesia. Jakarta : Pusat data dan informasi ; 2018
Lestari, Endang Dewi dkk. Correlation between non-exclusive breastfeeding and low birth weight to stunting in children. [https://paediatricaindonesiana.org/index.php/paediatrica-indonesiana/article/view/1140/1654]. [11 Agustus 2019]. Paediatrica Indonesiana

hardworking, decent,
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr