Maraknya hoaks (hoax) yang beredar di masyarakat akhir-akhir ini mengenai pemberian nutrisi pada anak melalui media sosial perlu menjadi sorotan khusus bagi masyarakat. Media sosial, yang banyak digunakan dalam menyebarkan informasi ke masyarakat luas secara cepat, mudah dipakai sehingga menjadi primadona di masyarakat dalam mencari bermacam informasi yang diperlukan. Sayangnya, seringkali informasi yang didapatkan tidak dilengkapi sumber yang jelas dan bukti ilmiah. Alhasil, tidak sedikit orangtua yang terjebak dalam hoaks ini, di antaranya orangtua yang ingin mencari informasi untuk memberikan nutrisi yang terbaik untuk buah hatinya. Bila dibiarkan, hoaks dapat memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak.

Apakah sebenarnya hoaks itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016), ‘hoaks’ adalah ‘berita bohong’. Sedangkan dalam Oxford English Dictionary (2000), ‘hoax’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau ‘kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’.

Ada beberapa hoaks mengenai pemberian makanan anak yang belakangan ini marak ditemukan di media sosial, namun penulis ingin menyoroti pada hoaks seputar MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu), MSG (Monosodium Glutamat – alias Micin), dan pemberian hati ayam.

Satu jenis makanan untuk 14 hari pertama MPASI anak?

Contoh hoax yang cukup populer di media sosial mengenai  pemberian menu tunggal selama 14 hari pertama  sejak dimulainya proses MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu). Artinya, orangtua dianjurkan hanya memberikan satu jenis makanan saja per harinya. Tujuan diberikan menu tunggal ini agar bayi dapat mengenal rasa dari setiap makanan yang diberikan juga untuk mengetahui adanya reaksi alergi pada anak, terutama pada jenis makanan yang memiliki resiko alergi paling tinggi, seperti jenis makanan laut (seafood), telur, keju, atau kacang-kacangan. Setelah pemberian menu tunggal selama 14 hari dilanjutkan dengan pemberian MPASI yang mengacu pada menu 4 bintang, yakni satu porsi makanan yang terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran.

Penyebaran informasi-informasi tersebut tidak jelas sumbernya dan tidak didapatkan bukti ilmiahnya. Padahal pemberian MPASI yang direkomendasikan WHO (World Health Organization) adalah menu 4 kuadran yang mencakup karbohidrat, protein (diutamakan protein hewani), lemak, dan buah atau sayur. Apabila diberikan menu tunggal selama 14 hari maka kebutuhan makronutrien dan mikronutrien untuk tumbuh kembang bayi tidak terpenuhi secara optimal, padahal periode kritis untuk masa tumbuh kembang anak berada di 1000 hari pertama kehidupannya.

Di atas usia 6 bulan, pemberian ASI saja tidak dapat menunjang tumbuh kembang bayi secara optimal. Berdasarkan penelitian, kandungan zat besi yang terdapat di dalam ASI hanya sekitar 0,2 mg sedangkan kebutuhan zat besi untuk anak usia di atas 6 bulan sekitar 11 mg/hari. Sehingga perlu diberikan MPASI yang kaya akan zat besi dan mikronutrien lain. Pemberian menu tunggal tentunya tidak dapat mencukupi kebutuhan ini. Kekurangan zat besi sendiri akan berdampak buruk untuk perkembangan anak di masa selanjutnya. Selain dapat menyebabkan anemia, juga dapat mengganggu perkembangan saraf dan perilaku yang dapat berdampak irreversibel. Tentunya hal ini akan sangat merugikan bagi tumbuh kembang anak nantinya.

Tambahan lagi, komposisi menu MPASI 4 bintang yang tersebar luas di media sosial berbeda dengan menu 4 kuadran yang direkomendasikan WHO. Perbedaannya yakni lemak hanya tambahan dan tidak wajib pada menu 4 bintang. Selain itu, protein wajib dari dua sumber (hewani dan nabati). Pemberian lemak pada MPASI dikhawatirkan memberikan dampak kurang baik yaitu hiperkolesterolemia pada anak, padahal ASI sendiri yang merupakan asupan terbaik untuk anak usia 0-6 bulan mengandung sekitar 50-60% lemak di dalamnya. Hal ini menunjukkan bahwa lemak berperan penting dalam mencapai tumbuh kembang optimal.

Gizi berpengaruh terhadap pembentukan struktur anatomi otak dan kimia otak yang mempengaruhi sel syaraf. Zat gizi makro yang amat diperlukan untuk membantu proses kimia otak adalah protein dan lemak. Lebih dari 60% berat otak adalah lemak, oleh karena itu lemak penting untuk perkembangan otak. Lemak berperan dalam pembentukan myelin, untuk pembentukan sinaps dan membantu proses pembentukan neurotransmitter. Berdasarkan fakta ini maka WHO merekomendasikan lemak sebagai salah satu komponen penting untuk diberikan ke dalam MPASI.

Mengenai pemberian protein baik hewani maupun nabati tentunya sama-sama mengandung zat gizi yang diperlukan anak, namun pemberian protein hewani lebih direkomendasikan karena mengandung asam amino esensial yang lebih banyak dibandingkan protein nabati. Asam amino esensial sangat diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang anak. Kapasitas lambung anak untuk menampung asupan makanan khususnya saat tahap awal pemberian MPASI masih relatif sedikit. Sehingga lebih diprioritaskan pemberian protein hewani untuk mencukupi kebutuhan asam amino esensial anak.

Bolehkah memberi MSG pada MPASI?

Banyak orangtua yang merisaukan pemberian MSG (yang juga dikenal sebagai micin), gula dan garam sebagai penambah rasa ke dalam MPASI anaknya. Hal ini disebabkan stigma buruk masyarakat yang terlanjur tersebar luas melalui media sosial khususnya mengenai pemberian MSG. Para orangtua meyakini bahwa pemberian MSG dapat menyebabkan anak mereka bodoh dan menyebabkan kanker. Mereka juga khawatir dengan pemberian gula dan garam ke dalam makanan dapat berdampak kurang baik terhadap metabolisme anak di bawah 1 tahun. Padahal jika para orantua mau mencari tahu informasi lebih dalam mengenai isu-isu tersebut dari sumber yang terpercaya dan terdapat bukti ilmiahnya, tentunya mereka tidak perlu khawatir.

Monosodium Glutamat (MSG) diisolasi oleh Dr. Kikunnae Ikeda pada tahun 1909. Monosodium Glutamat sendiri sebenarnya sama sekali tidak menghadirkan rasa yang enak, bahkan sering menghadirkan rasa yang dideskripsikan sebagai rasa pahit, dan asin. Pemberian MSG pada bahan makanan yang sesuai dengan konsentrasi rendah, akan membuat makanan tersebut menjadi nikmat.

Monosodium Glutamat adalah garam natrium dari asam glutamat yang sangat luas digunakan sebagai bumbu penyedap. Glutamat banyak dijumpai dalam alam, juga terdapat dalam makanan dan tubuh manusia, baik dalam bentuk bebas maupun terikat sebagai peptide maupun protein. Jenis makanan yang mengandug banyak protein seperti ASI, susu sapi, keju dan daging mengandung banyak glutamat sedangkan sebagian besar sayuran sedikit kandungan glutamatnya, tetapi ada sayuran atau buah tertentu yang mengandung banyak glutamate bebas seperti jamur-jamur, tomat, peas. Bumbu-bumbu penyedap alami seperti vanili atau daun pandan.

Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan pernyataan bahwa penggunaan MSG dalam batas yang wajar tidak membahayakan manusia. FDA tidak menetapkan batasan pasti untuk konsumsi MSG. Namun apabila dikonsumsi dalam jumlah banyak MSG akan menimbulkan rasa pahit.

Pada bayi, studi menggunakan larutan akua menunjukkan bahwa preferensi rasa asin muncul sekitar usia 4 bulan dan menetap sampai usia 2 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bayi sudah mengenal rasa sejak usia dini sehingga rasa makanan MPASI perlu diperhatikan agar akseptabilitas baik. Salah satu komponen rasa adalah asin sehingga pemberian garam pada MPASI membantu proses perkembangan pengenalan rasa dengan memperhatikan kebutuhan dan batas asupan garam pada bayi.

National Health Service merekomendasikan asupan maksimal garam pada bayi (0-12 bulan) adalah <1 g per hari (setara dengan <0,4 g natrium) sedangkan pada anak 1-3 tahun adalah 2 g per hari (setara 0,8 g natrium). Dalam ukuran 1 sendok teh terdapat sekitar 5 g garam (setara 2000 mg natrium). Sehingga untuk anak-anak pemberian garam diperbolahkan untuk menambah khasanah cita rasa tetapi jumlah yang diberikan cukup sedikit saja.

Penelitian pada bayi usia 6-12 bulan menunjukkan bahwa asupan garam yang berlebihan bersumber dari makanan olahan kemasan (processed food), misalnya daging olahan, pasta, dan roti yang tidak dibuat khusus untuk bayi. Oleh karena itu, pendekatan yang bijak adalah memberikan garam secukupnya pada MPASI yang dimasak sendiri (homemade) atau bila memberikan MPASI kemasan maka harus memilih MPASI yang khusus diproduksi untuk bayi dengan mencantumkan ijin BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan).

Penambahan gula untuk MPASI yang diolah di rumah dengan tujuan memperkaya rasa dapat dilakukan bila dibutuhkan. Penambahan gula mengacu pada Codex Alimentarius Stan 064-1981 (rev1-2006), Codex Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young Children, penambahan sukrosa atau glukosa tidak boleh melebihi 5 g/100 kkal, sedangkan penambahan fruktosa tidak boleh melebihi 2,5 g/100 kkal. Gula yang biasa dipakai dalam rumah tangga sehari-hari adalah jenis glukosa. Dalam ukuran 1 sendok teh gula terdapat sekitar 5 g glukosa. Sehingga pemberian gula dalam MPASI masih diperbolehkan asalkan sesuai dengan rekomendasi yang telah ditentukan.

Di dalam Hati Ayam terdapat Racun?

Beredar pula hoax di media sosial yang menyatakan bahwa pemberian hati ayam ke dalam makanan bayi tidak disarankan karena hati merupakan organ yang penuh racun. Tetapi menurut penelitian yang ada, hati ayam merupakan tempat penyimpanan besi sehingga mengandung zat besi dengan kadar yang dibutuhkan untuk mencegah anemia. Zat besi yang terkandung dalam hati ayam termasuk jenis heme iron. Bentuk heme iron ini lebih dapat diserap oleh tubuh daripada non-heme iron yang terdapat pada sayur dan buah. Sehingga pemberian hati ayam justru baik untuk bayi karena mengandung zat besi yang mudah diserap.

Begitu banyaknya hoax yang beredar terutama melalui media sosial memerlukan sikap kritis dan bijak bagi para konsumennya. Sumber informasi yang diperoleh harus jelas dan dikemukakan oleh orang yang ahli dan kompeten di bidangnya. Informasi yang disampaikan juga harus berdasarkan EBM (Evidenced-Based Medicine) bukan sekedar opini yang disampaikan ke masyarakat. Menurut Sackett et al. (2000), Evidence-Based Medicine (EBM) adalah suatu pendekatan medik yang didasarkan pada bukti-bukti ilmiah terkini untuk kepentingan pelayanan kesehatan penderita. EBM memadukan antara kemampuan dan pengalaman klinik dengan bukti-bukti ilmiah terkini yang paling dapat dipercaya.

Pembelajaran yang dapat didapat

Media sosial merupakan bentuk kemajuan teknologi dalam berkomunikasi di era modern ini. Penggunaannya bisa sangat bermanfaat dalam banyak hal salah satunya mendapatkan informasi yang diinginkan tanpa batasan. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat yang dapat menyaring sendiri informasi yang diperoleh dengan mencari sumber informasi yang jelas atau apabila terdapat keraguan segera mencari tahu jawabannya ke orang yang ahli di bidangnya. Dengan demikian, informasi yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sehingga pengaplikasiannya pun jelas dan tidak merugikan masyarakat.

 

 

Daftar Pustaka

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Kelima. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia; 2016.

Codex Stan 064-1981, rev 1-2006. Codex Standard for Processed Cereal-Based Foods for Infants and Young Children.

Hayati A.W., Hardiansyah, Jalal, F., Madanijah S. dan Briawan, D. Pola Konsumsi Pangan dan Asupan Energi dan Zat Gizi Anak Stunting dan Tidak Stunting 0—23 bulan. J Gizi Pangan. 2012; 7(2): 73-80.

Husaini, Y. Rehabilitasi dan Fleksibilitas Penggunaan KMS Perkembangan Motorik Kasar. Jakarta: Alfabeta; 2008.

Jalal, F. Tantangan Pembangunan Kesehatan dan Gizi Dalam Upaya Peningkatan Kualitas SDM. Jakarta: CPI; 2006.

Komariyah, L. Fungsi Makanan Bagi Tubuh Manusia. Dalam: Jurnal Pendidikan Olahraga. 2011. p. 1—10.

Mosby, I. That Won-Ton Soup Headache: The Chinese Restaurant Syndrome, MSG and The Making of American Food, 1968—1980. Soc. Hist. Med. 2009; 22(1): 133—151.

Muchtadi, D. Gizi untuk Bayi: ASI, Susu Formula, dan Makanan Tambahan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan; 2002.

Oxford University Press. Oxford English Dictionary. Third Edition. Oxford: Oxford University Press; 2000.

Palupi, N. S. 2008. Fortifikasi Zat Besi. Food Review Indonesia.

Sackett, D.L., Straus, S.E., Richardson, W.S., Rosenberg, W. dan Haynes, R.B. Evidence-Based Medicine: How to Practice and Teach EBM. Second Edition. Edinburgh: Churchill Livingstone; 2000.

Simbolon, D.O., Masfria dan Sudarmi. Pemeriksaan Kadar Fe Dalam Hati Ayam Ras dan Ayam Buras Secara Spektrofotometri Serapan Atom. Journal of Natural Product and Pharmaceutical Chemistry. 2012; 1(1): 8-13.

WHO. Infant and Young Child Feeding. Geneva: World Health Organization; 2009.

WHO. Guideline: Sodium Intake for Adults and Children. Geneva: World Health Organization; 2012.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr