Keluarga, tetangga, dan masyarakat tentu sangat senang jika melihat ada anak berbadan sekal dan bertingkah laku lucu. Seringkali beberapa dari kita secara tidak sengaja menggoda anak tersebut dengan ucapan “Ini siapa namanya Si Endut?” atau  “Aduh lucunya, mau kemana ini Si Pipi Tumpah?”. Ternyata kebiasaan tersebut dapat memberikan efek tidak langsung berupa kenaikan berat badannya di masa depan. Kenapa hal tersebut dapat terjadi? Mari simak ulasannya berikut ini.

Hati-hati untuk memanggil atau menggoda anak dengan kata “Si Gendut”

Kelebihan berat badan dan obesitas pada anak sangat erat kaitannya dengan berbagai gangguan organ yang akan muncul ketika dewasa, seperti hipertensi (peningkatan tekanan darah), diabetes mellitus tipe 2 (gangguan peningkatan gula darah), dislipidemia (gangguan profil lemak), obstructive sleep apnea, dan penyakit lainnya. Selain permasalahan organ, anak dengan kelebihan berat badan tersebut juga sering menjadi korban godaan atau ledekan terkait masalah berat badan dan pelabelan stigma yang berasal dari orang sekitarnya. Godaan atau ledekan yang terkait berat badan merupakan satu hal yang paling sering diucapkan pada kasus bullying di antara anak-anak.

Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa sekitar 90% siswa sekolah menengah atas pernah melihat temannya dengan kelebihan berat badan sering dijadikan bahan candaan atau godaan. Selain teman sekolah, anggota keluarga juga termasuk bagian yang sering memanggil anak dengan panggilan “Gendut”. Stigma kelebihan berat badan ini juga terbukti berkaitan dengan rendahnya kepercayaan diri, sering bolos sekolah, merasa terasing dari teman, perubahan kebiasaan makan yang tidak tepat, hingga pikiran untuk bunuh diri.

Hingga saat ini, masih sedikit studi yang membahas mengenai efek stigma berat badan terhadap perubahan berat badan anak. Padahal berat badan pada saat masa kanak-kanak merupakan periode awal yang akan menentukan berat badan pada saat dewasanya. Sebuah studi pada tahun 2008 juga menjelaskan bahwa anak yang kelebihan berat badan cenderung memiliki berat badan berlebih saat dewasa.

Penelitian tahun 2019 menunjukkan bahwa pada anak yang mendapat godaan atau panggilan tertentu mengenai berat badannya yang berlebih berhubungan dengan kenaikan berat badan dan masa lemaknya. Dari 110 anak berusia sekitar 12 tahun (setara dengan anak sekolah menengah pertama), semuanya diikuti selama hingga 15 tahun. Diperoleh hasil berupa adanya kenaikan indeks masa tubuh pada anak yang mendapat godaan mengenai berat badan sebesar 33% pertahun, dan peningkatan masa lemak sebesar 91% per tahun dibandingkan dengan anak yang tidak mendapat ledekan masalah berat badan.

Dari penelitian tersebut, terdapat beberapa alasan mengapa anak mudah naik berat badannya ketika mengalami godaan atau panggilan berat badan tertentu, seperti:

  • Merasa tidak puas dengan pencitraan tubuhnya dan merespon dengan perilaku tidak sehat, seperti perilaku binge eating (perilaku makan yang tidak terkontrol), sebagai salah satu mekanisme pertahanan dirinya.
  • Stigma berat badan meningkatkan kadar stress pada anak. Peningkatan stress akan meningkatkan hormon kortisol pada tubuh. Hormon kortisol yang meningkat terus-menerus berakibat pada peningkatan nafsu makan, perasaan tidak kenyang, dan kecenderungan untuk makan makanan tinggi kalori.

 

Bagaimana peran orangtua dan anak jika sang anak mengalami hal tersebut?

Efek negatif yang dihasilkan dari perilaku menggoda atau memberi ledekan berat badan terhadap anak, tentu dapat dicegah apabila orangtua dan anak mengetahui cara menghindarinya. Berikut respon yang dapat dilakukan jika anak mengalami perlakuan tersebut:

  • Yakinkan ke anak bahwa tidak ada yang pantas menerima ledekan. Baik berbeda berat badan, warna kulit, ras, dan sebagainya, intimidasi tidak dapat diterima.
  • Beritahukan ke orang lebih dewasa. Jika anak Anda mengalami stigma kelebihan berat badan, seperti di sekolah, yakinkan bahwa mereka harus melapor ke guru sekolah.
  • Sebaiknya berkumpul dengan teman lain. Bantu anak untuk mencari satu atau beberapa teman yang dapat menemaninya di sekolah sehingga dapat meminimalisasi terjadinya intimidasi pada saat sedang sendirian di sekolah.
  • Ajarkan pada anak mengenai cara bersosial media yang tepat dan benar. Awasi penggunaan media sosial anak dan segera ambil tindakan serius apabila anak menerima apapun penghinaan masalah berat badan via digital.
  • Luangkan waktu bersama anak dan perlakukan mereka sebagai individu yang sangat penting. Bantu kepercayaan diri anak dengan menunjukkan perasaan hormat, sikap penerimaan, dan ucapkanlah “ayah/ibu percaya kamu nak” dengan sering.
  • Bantu anak dalam melakukan pola hidup sehat. Orangtua dapat membantu anak untuk menjaga berat badan dengan melihat dan mengatur apa saja asupan nutrisi yang telah diterimanya. Selain itu, mengajak anak untuk berolahraga bersama dapat membantu meningkatkan aktivitas fisiknya. Jika orangtua sulit untuk mengatur berat badan anak, orangtua dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter anak atau dokter gizi anak.

 

Referensi:

  1. Schvey N, Marwitz S, Mi S, Galescu O, Broadney M, Young-Hyman D, Brady S, etc. Weight based teasing is associated with gain in BMI and fat mass among children and adolescents at risk for obesity: A longitudinal study. Pediatric Obesity. 2019; p.e12538
  2. Healthy Children. Weight-based Teasing and Bullying in Children: How Parents Can Help. [Diakses pada 5 Juli 2019].
  3. Puhl R, Luedicke J, Heuer C. Weight-based victimization toward overweight and obese adolescents: Observations and reactions of peers. J School Health. 2011;81:696-703.
  4. Greenleaf C, Petrie TA, Martin SB. Relationship of weight – based teasing and adolescents ‘psychological well – being and physical health. J Sch Health. 2014;84(1):49 – 55
  5. Puhl R, Luedicke J. Weight-based victimization among adolescents in the school setting: emotional reactions and coping behaviours. J Youth Adolesc. 2012;41(1):27 – 40
  6. Puhl R, Luedicke J, Heuer C. Weight – based victimization toward overweight and obese adolescents: observations and reactions of peers. J Sch Health. 2011;81(11):696 – 703
  7. Goldfield G, Moore C, Henderson K, Buchholz A, Obeid N, Flament M. The relation between weight – based teasing and psychological adjustment in adolescents. J Paediatr Childh H. 2010;15(5):283 – 288

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr