Pada zaman sekarang, hampir semua orang dapat mengakses media sosial. Berbagai informasi didapatkan dengan mudah melalui gadget seperti handphone, laptop, maupun tablet. Kemudahan mendapatkan informasi tersebut dapat menjadi jawaban para ibu yang masih bingung dalam merawat anaknya. Salah satu topik yang sering dibahas yaitu mengenai pemberian makanan atau nutrisi pada anak. Banyak sekali informasi yang beredar di media sosial mengenai topik tersebut. Seorang ibu tentunya harus dapat memilih informasi yang akurat dari sumber yang terpecaya karena informasi yang merupakan hoax banyak yang beredar di media sosial. Mari kita bahas 5 hoax seputar nutrisi anak di media sosial.

1. Kapan sebaiknya anak diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI)?

Ada berita yang mengatakan 4 bulan, ada yang 6 bulan. Ada juga yang bilang harus tumbuh giginya dulu baru diberikan makanan bertekstur. Jadi kapan waktu yang tepat?1,2

Menurut Rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), MPASI mulai diberikan pada usia 6 bulan, namun bila ASI tidak mencukupi maka MPASI dapat diberikan paling dini pada usia 4 bulan (17 minggu) dengan menilai kesiapan oromotor seorang bayi untuk menerima makanan padat.1

Sebelum tahun 2001, World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai usia 4 bulan. Akan tetapi, pada tahun 2002, WHO membuat systematic review (telaah sistematik) untuk mengevaluasi apakah terdapat perbedaan antara bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 4 bulan dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Hasilnya, tidak ada studi yang menunjukkan bahwa bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan mengalami defisit pertumbuhan dalam berat badan maupun panjang badan. Maka dari itu, WHO juga merekomendasikan pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan MPASI dimulai pada usia 6 bulan.1,3 Selain itu, terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat menurunkan risiko infeksi gastrointestinal.4

Pemberian MPASI dapat dimulai ketika:5

  1. Anak dapat duduk dengan leher tegak dan mengangkat kepalanya sendiri tanpa memerlukan bantuan
  2. Anak menunjukkan ketertarikan terhadap makanan, misalnya mencoba meraih makanan yang ada di hadapannya
  3. Anak menjadi lebih lapar dan tetap menujukkan tanda lapar seperti gelisah dan tidak tenang walaupun ibu sudah rutin memberikan ASI secara rutin

Jika anak belum tumbuh gigi, bukan berarti anak tidak boleh diberikan MPASI ataupun makanan yang bertekstur. Perlu diketahui, anak dapat mengolah makanan lunak tanpa gigi. Terdapat periode emas untuk belajar makan seperti belajar mengunyah dan menelan. Jika periode ini terlewatkan, anak dapat mengalami gangguan kemampuan makan.2

2. Apa menu yang dianjurkan dalam pemberian MPASI?

Berbagai informasi yang beredar di media sosial banyak yang membahas tentang ini. Ada yang mengatakan menu tunggal. Ada yang mengatakan menu yang dikombinasikan.

Faktanya, karbohidrat, protein, sayur, dan buah dapat diberikan sejak usia 6 bulan.1 Sebagai contoh, MPASI pertama yang umum diberikan pada bayi di Indonesia adalah pisang dan tepung beras yang dicampur ASI. Makanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan bayi tapi belum dapat memenuhi kebutuhan zat besi, protein, dan seng (Zn). Sumber zat besi yang terbaik adalah daging merah (seperti daging sapi) dan hati. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan zat besi, makanannya harus dikombinasikan.2

Sumber energi dapat didapatkan dari karbohidrat dan lemak. Karbohidrat dan lemak harus terkandung dalam MPASI karena setelah bayi berusia di atas 6 bulan, jumlah energi yang terkandung di dalam ASI sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Selain itu, protein hewani, vitamin, dan mineral juga diperlukan.1

3. Apakah boleh MPASI diberikan garam dan gula?

Setelah mengetahui apa saja menu yang dianjurkan, timbul pertanyaan, apakah boleh MPASI diberikan garam dan gula ketika memasaknya?

Pertama, mari membahas mengenai pemberian garam pada MPASI.

Menurut IDAI, anak boleh saja diberikan garam. Akan tetapi, pada usia di bawah 1 tahun, anak sebaiknya diberikan garam sedikit mungkin. Garam boleh diberikan jika dengan pemberian garam tersebut dapat membuat anak mau makan.1

Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa preferensi rasa asin muncul sekitar usia 4 bulan dan menetap sampai usia 2 tahun. Hal tersebut memperlihatkan bahwa sebenarnya bayi sudah dapat mengenal rasa asin sejak usia dini. Pemberian garam yang menciptakan rasa asin pada MPASI membantuk proses pengenalan rasa. Akan tetapi, jumlahnya juga harus diperhatikan. Menurut National Health Service, asupan maksimal garam pada bayi (usia 0-12 bulan) adalah < 1 gram per hari (setara dengan < 0,4 gram natrium) sedangkan pada anak 1-3 tahun adalah 2 gram per hari (setara 0,8 gram natrium).2

Kedua, mari kita membahas mengenai pemberian gula pada MPASI.

Sama dengan pemberian garam, menurut IDAI, gula boleh saja ditambahkan pada MPASI.1,2

Rasa pahit umumnya tidak disukai dan dihindari oleh anak. Sebaliknya, penambahan gula dan minyak memiliki skor paling tinggi dalam hal rasa dan penerimaan pada sebuah penelitian. Tidak hanya memberikan rasa manis, ternyata gula juga penting terhadap rasa makanan secara keseluruhan. Akan tetapi, perlu diketahui juga batasan dalam pemberian gula. Sama seperti garam, pada usia di bawah 1 tahun, anak sebaiknya diberikan gula sedikit mungkin.2

4. Apakah boleh memberikan anak makan MPASI pabrikan (komersial)?

Sebenarnya MPASI pabrikan (komersial) boleh saja diberikan pada bayi. MPASI yang dijual di pasaran sudah memenuhi ketentuan khusus yang ditetapkan oleh WHO meliputi standar keamanan, higienitas, dan kandungan nutrisinya.6   MPASI tersebut sudah difortifikasi dengan zat bersi dan zat-zat lain. Oleh sebab itu, para ahli gizi mengemukakan bahwa makanan yang difortifikasi tersebut merupakan langkah kedua dalam upaya pemenuhan zat gizi apabila konsumsi makanan sehari-hari tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Di negara maju, penggunaan MPASI pabrikan menjadi alternatif untuk mengatasi risiko defisiensi zat gizi mikro.2

Perlu diketahui, MPASI buatan sendiri di rumah tetap menjadi pilihan utama karena mempunyai tekstur, aroma, rasa, dan kandungan gizi yang lebih terjamin. Akan tetapi, pada kondisi MPASI buatan sendiri tidak dapat diberikan, MPASI pabrikan bisa menjadi pilihan alternatifnya.6

5. Bagaimana metode pemberian MPASI yang tepat? Mengikuti yang sedang tren seperti BLW (Baby Led Weaning) atau tidak?

Metode pemberian makan yang disebut dengan BLW (Baby Led Weaning) sempat menjadi tren di kalangan orangtua.  BLW adalah metode memperkenalkan MPASI dengan membiarkan bayi memilih sendiri semua makanannya sejak awal pemberian MPASI. Pada metode BLW, bayi diberikan “finger food”, yaitu makanan yang dapat dipegang oleh bayi, sejak bayi berusia 6 bulan, tanpa melalui tahap pemberian makanan berkonsistensi lunak. Bayi menentukan sendiri makanan apa yang akan mereka makan, berapa banyak, dan seberapa cepat menghabiskan makanannya.7

Meskipun terdengar seperti mengajarkan bayi untuk lebih mandiri, masih banyak perdebatan mengenai metode BLW ini. Bayi yang diberikan MPASI dengan metode BLW berisiko mengalami kekurangan nutrisi karena bayi menentukan sendiri makanan yang ia mau makan dan berapa banyak. Pilihan bayi tersebut seringkali tidak memenuhi kebutuhan nutrisinya. Selain itu, risiko tersedak juga dapat dialami bayi dengan metode BLW ini. Oleh karena itu, WHO belum menganjurkan pemberian MPASI dengan metode BLW.7

Menurut WHO, pemberian MPASI sebaiknya dilakukan dengan metode responsive feeding. Responsive feeding dapat meningkatkan kemampuan anak untuk makan secara mandiri dan respons terhadap bahasa verbal dari ibu. Selain itu, perkembangan bahasa anak juga bertambah baik dan anak juga lebih pintar makan (mouthful eaten). Berikut metode responsive feeding yang dianjurkan:2

  • Pemberian makan langsung kepada bayi oleh pengasuh dan pendampingan untuk anak yang lebih tua yang makan sendiri
  • Peka terhadap tanda lapar dan kenyang yang ditunjukkan bayi/balita
  • Berikan makanan secara perlahan dan sabar
  • Dorong anak untuk makan tanpa adanya paksaan
  • Mencoba berbagai kombinasi makanan, rasa, tekstur serta cara agar anak mau bila anak menolak banyak macam makanan
  • Meminimalkan  gangguan selama makan bila anak mudah kehilangan perhatian saat makan
  • Wakti makan merupakan periode pembelajaran, pemberian kasih sayang termasuk berbicara kepada anak disertai kontak mata

Walaupun banyak informasi yang beredar dan mudah diakses di media sosial, para orangtua harus dapat melakukan seleksi mengenai manakah informasi yang merupakan hoax dan manakah informasi yang benar. Nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan anak dan sangat disayangkan apabila pemberiannya belum tepat atau belum sesuai. Mari dukung nutrisi anak Indonesia demi generasi penerus bangsa yang semakin baik.

Referensi

  1. Ninditya L, Fadhila SR. Memberi Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana? [Internet]. [6 September 2019]. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/memberi-makan-pada-bayi-kapan-apa-dan-bagaimana
  2. Sjarif DR, Yuliarti K, Lestari ED, Sidiartha IGL, Nasar SS, Mexitalia M. Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita di Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015.
  3. Kramer MS, Kakuma R. The Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding A Systematic Review. Switzerland: World Health Organization; 2002.
  4. Kramer MS, Kakuma R. Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2012;8.
  5. Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia. Panduan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2018.
  6. Wirahmadi A. Apakah Makanan Pendamping Asi (MPASI) Komersial Berbahaya Buat Bayi? [Internet]. [18 September 2019]. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/apakah-makanan-pendamping-asi-mpasi-komersil-berbahaya-buat-bayi
  7. Hafifah CN. Betulkah Baby Led Weaning Lebih Baik? [Internet]. [18 September 2019]. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/betulkah-baby-led-weaning-lebih-baik
Yurika Elizabeth Susanti
A medical doctor graduated in 2017. Love to write about children health.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr