Makanan pendamping ASI diberikan mulai usia enam bulan pada bayi guna memenuhi kebutuhan nutrisi yang sudah tidak bisa terpenuhi hanya dengan pemberian ASI saja. Tujuan pemberian MPASI adalah untuk memenuhi kebutuhan zat gizi bayi, baik makronutrien seperti karbohidrat, lemak, dan protein maupun mikronutrien seperti vitamin dan mineral.

Dewasa ini, ada banyak pilihan pemberian MPASI pada bayi. Selain membuat MPASI rumahan sendiri, ibu bisa mendapatkan MPASI instan komersial atau membeli bubur bayi sehat yang banyak dijual di pasaran sebagai pilihan pada ibu yang tidak bisa memasak atau ibu yang bekerja.

Untuk MPASI instan komersial, terdapat persepsi yang berkembang di kalangan ibu-ibu salah satunya adalah MPASI instan komersial dianggap berbahaya karena kandungannya yang tidak organik, vitamin dan mineral yang bukan berasal dari bahan alami dan adanya pengawet yang berbahaya bagi kesehatan bayi1.

Proses pembuatan MPASI instan komersial sendiri memiliki aturan khusus yang ditetapkan oleh WHO maupun oleh BPOM RI. Aturan tersebut meliputi standar keamanan, higienitas, dan kandungan nutrisinya. Dalam proses pengolahan MPASI instan, metode yang digunakan adalah2:

  1. Proses pengumpulan bahan

Dalam proses ini, bahan-bahan yang akan dijadikan formula MPASI instan dikumpulkan. Kemudian bahan-bahan dibersihkan, dihaluskan, dicampur, kemudian dimasak.

2. Pengeringan3

Adonan bubur yang sudah terbentuk kemudian dilakukan tahap pengeringan. Ada beberapa alat atau metode dalam pengeringan ini, salah satunya metode menggunakan drum dyrer. Pengeringan dilakukan dalam suhu tertentu. Menurut Prof. Dr. Ir. Sugiyono, MAppSc, ahli teknologi pangan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB, dengan proses pengeringan ini, kadar air di dalam bahan MPASI bisa diturunkan hingga mendekati nol sehingga bakteri tidak akan bisa tumbuh dan hidup.

Hal ini yang membuat MPASI instan bisa bertahan lebih lama tanpa harus menambahkan bahan pengawet buatan ke dalam MPASI instan. Selain itu, peraturan dari BPOM menyebutkan makanan bayi yang dibuat oleh pabrik tidak boleh mengandung pengawet, jika mengandung pengawet maka produk tidak bisa mendapat ijin untuk dipasarkan.

Proses lain yang bisa dilakukan selain pengeringan adalah sterilisasi. Pada proses ini, bahan-bahan makanan diformulasikan lalu dikemas dalam kaleng tahan panas, kemudian dipanaskan pada suhu tinggi dalam jangka waktu tertentu sehingga mikroba mati. Proses ini dilakukan untuk MPASI siap konsumsi yang dikemas dalam kemasan kaleng atau gelas.

3. Pengecilan ukuran atau penggilingan

Bahan yang sudah dikeringkan kemudian digiling untuk menjadi bentuk bubuk yang halus kemudian siap untuk dikemas.

Keraguan bahan MPASI instan yang bukan berasal dari bahan alami pun sudah ada aturan yang mengatur. Menurut Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MSahli teknologi pangan dan gizi dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, melalui pengawasan ketat BPOM, bahan yang digunakan dalam makanan bayi instan adalah bahan-bahan alami, misalnya jika  mengandung ikan maka benar bersumber dari ikan. Untuk mengolah bahan alami ini, digunakan teknik penepungan (milling) yaitu pengolahan bahan makanan dengan cara dihaluskan menjadi tepung atau bubuk4.

Untuk rasa pada MPASI instan yang cenderung gurih dan sering dikhawatirkan mengandung MSG atau garam, berdasarkan Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) tahun 1987, MSG dimasukkan ke dalam kategori Acceptable Daily Intake (ADI) not specified, artinya MSG dapat digunakan secukupnya yang diatur sesuai dengan cara produksi pangan yang baik. Namun, MSG tidak diperkenankan untuk dikonsumsi bayi berusia kurang dari 12 minggu (3 bulan). Oleh sebab itu, MSG tidak terdapat dalam makanan bayi kemasan yang telah terseleksi BPOM. Untuk tambahan seperti garam dan gula tetap ada aturannya. Disarankan untuk ibu-ibu tetap membaca label komposisi kadar garam atau kadar gula pada MPASI instan4.

Saat ini sudah banyak ditemui MPASI instan komersial yang difortifikasi. Fortifkasi adalah penambahan zat gizi tertentu dalam produk makanan atau minuman untuk membantu memenuhi zat gizi seperti penambahan vitamin dan mineral.  Sebagai contoh, untuk kebutuhan zat besi bayi berusia enam bulan atau lebih memerlukan asupan zat besi 11 mg/hari. ASI hanya mensuplai zat besi sekitar 2 mg sisanya harus didapatkan dari MPASI. Namun, untuk memenuhi target asupan zat besi ini, bayi harus mengonsumsi bahan alami kaya zat besi dalam jumah banyak misalnya 400gr daging sapi per hari. Hal ini sulit dilakukan karena kapasitas lambung bayi yang kecil dan masalah kemampuan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, MPASI fortifikasi bisa membantu pemenuhan zat gizi pada bayi1,4.

Meskipun MPASI instan memiliki tambahan vitamin dan mineral untuk memenuhi zat gizi bayi, IDAI tetap  merekomendasikan pentingnya MPASI buatan sendiri di rumah. MPASI buatan sendiri di rumah tetap merupakan pilihan utama sebagai MPASI karena memiliki kekayaan tekstur, aroma, rasa dan kandungan zat gizi yang lebih terjamin1. Selain itu, MPASI buatan sendiri yang mengandung bahan alami juga menghindarkan anak menjadi pemilih makanan kelak4.

Referensi:

  1. Wirahmadi A. Apakah Makanan Pendamping Asi (MPASI) Komersial Berbahaya Buat Bayi?. [IDAI]. [8 September 2019]. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/apakah-makanan-pendamping-asi-mpasi-komersil-berbahaya-buat-bayi
  2. Marcianda N. Pengaruh Komposisi Tepung Umbi Ganyong (Canna Edulis Ker) Dengan Tepung Kacang Hijau (Phaoseolus Radiatus L.) Dan Suhu Gelatinisasi Terhadap Bubur Instan Untuk Bayi. Skripsi(S1) thesis, Fakultas Teknik Universitas Pasundan. 2017.
  3. Octama C I. MP-ASI Fortifikasi Bisa Tak Gunakan Pengawet. [Berita Satu]. [8 September 2019]. https://www.beritasatu.com/kesehatan/306479/mpasi-fortifikasi-bisa-tak-gunakan-pengawet
  4. Astawan M. Rahasia MPASI Pabrikan. [Ayah Bunda]. [8 September 2019]. https://www.ayahbunda.co.id/bayi-tanya-jawab/rahasia-mpasi-pabrikan.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr