Diet vegetarian makin populer di kalangan masyarakat saat ini. Tidak hanya pada kalangan orang dewasa, anak-anak juga banyak yang menjalani diet vegetarian ini. Ada banyak alasan orang melakukan diet vegetarian, diantaranya adalah kesehatan, agama, status ekonomi, serta isu mengenai lingkungan1. Diet vegetarian pada anak perlu mendapat perhatian khusus, dimana tujuan diet pada anak berbeda dengan dewasa, anak perlu fokus pada pertumbuhan dan perkembangan yang optimal2. Sedangkan, pada diet vegetarian dengan pembatasan makanan-makanan tertentu, bisa menyebabkan anak kurang mendapat zat gizi tertentu.

Namun, studi menunjukkan banyak manfaat diet vegetarian pada anak. Diantaranya, pola makan pada diet vegetarian yang diterapkan pada masa anak-anak bisa menuntun pada pola makan sehat dan menurunkan risiko penyakit kronis di usia dewasa yang banyak dihubungkan dengan pola hidup pada masa anak-anak3. Selain itu, banyak studi menunjukkan bahwa diet vegetarian yang terencana dan tersuplementasi dengan baik dapat membuat anak tumbuh dan berkembang baik seperti anak yang tidak menjalani diet vegetarian1,3.

Kebutuhan energi dan pertumbuhan pada anak vegetarian

Pembatasan makanan pada diet vegetarian serta diet yang berdasarkan pada buah, sayuran serta bubur sereal  bisa menyebabkan kekurangan energi pada anak akibat densitas energi yang rendah pada makanan yang dikonsumsi3. Dengan menyertakan produk makanan yang berasal dari kedelai, polong-polongan, kacang-kacangan, dan selai kacang bisa memberikan sumber energi yang lebih dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak3,4.

Protein

Pada diet vegetarian, anak mudah mendapat asupan protein. Sumber protein bisa berasal dari kacang polong, gandum, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sayuran hijau5. Namun, karena penyerapan asam amino yang berasal dari tumbuh-tumbuhan lebih rendah dibandingkan yang berasal dari hewan, maka pada yang menjalani diet ini disarankan untuk mengonsumsi lebih banyak protein1. Pada anak yang menjalani diet vegetarian disarankan mengonsumsi protein 10-15% lebih banyak dari anak yang tidak menjalani diet vegetarian4. Selain itu, disarankan juga untuk mengonsumsi variasi  sumber protein nabati dalam diet5.

Kalsium

Kebutuhan kalsium pada diet vegetarian bisa terpenuhi dengan mengonsumsi makanan nabati yang kaya kalsium5. Karena oksalat, fitat, dan serat pada tumbuhan bisa menurunkan penyerapan kalsium3, maka disarankan untuk mengonsumsi sayuran hijau yang mengandung oksalat rendah seperti brokoli, kale, dan sawi hijau, serta  almond, kedelai, tempe3,5.

Vitamin D

Vitamin D bisa ditemukan pada produk hewani seperti hati, lemak ikan laut, dan kuning telur yang mungkin sulit didapatkan pada diet vegetarian3. Anak yang menjalani diet vegetarian bisa mengonsumsi susu kedelai yang difortifikasi vitamin D, keju, yogurt, dan sereal untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Selain itu, vitamin D juga dipengaruhi oleh paparan sinar matahari ke kulit5. Sebuah studi menunjukkan, paparan sinar matahari pada wajah dan tangan dua sampai tiga kali seminggu selama 20-30 menit membantu memenuhi kebutuhan vitamin D pada anak-anak yang memiliki kulit terang1.

Pada beberapa kelompok anak vegetarian, disarankan untuk mendapat suplementasi vitamin D, yakni pada1:

1. bayi yang mendapat asi eksklusif

2. anak dan remaja yang tidak mendapat cukup paparan sinar matahari, dalam sehari minum kurang dari 500mL susu fortifikasi vitamin D, serta tidak mendapat multivitamin yang mengandung minimal 200 IU vitamin D

3. Orang yang memiliki kulit gelap atau tinggal di tempat dengan sinar matahari kurang

Tabel 1. Rekomendasi suplemen vitamin D untuk menjaga kadar normal vitamin D atau untuk koreksi defisiensi5

  Untuk menjaga kadar normal vitamin D Koreksi defisiensi
Kehamilan dan menyusui 1000-2000IU/hari 2000IU/hari selama 5 bulan atau 4000IU/hari selama 2.5 bulan
Anak <1 bulan 400IU/hari 1000IU/hari selama 6-8minggu
Anak 1-12 bulan 400IU/hari 1000-3000IU/hari selama 6-8minggu
Anak >12bulan 600-1500IU/hari 2000-4000IU/hari selama -8minggu

Vitamin B12

Vitamin B12 tidak bisa ditemukan pada makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan5. Untuk mendapatkan vitamin B12, anak vegetarian bisa mengonsumsi makanan dan minuman yang sudah difortifikasi vitamin B12 seperti  susu kedelai, sereal, serta roti1,4. Namun, karena produk tersebut tidak selalu tersedia dan gejala defisiensi vitamin B12 sering tertutupi oleh asupan asam folat yang tinggi pada diet vegetarian, disarankan pemantauan status vitamin B12 dan suplementasi pada anak yang menjalani diet vegetarian1,5.

Tabel 2. Rekomendasi suplemen vitamin B12 untuk menjaga kadar normal vitamin B125

  Dosis single harian Dosis multiple harian Dosis mingguan
Wanita hamil dan menyusui 50 µg* 2 µg x 3 1000 µg x 2
Anak 6bulan-3tahun 5 µg 1 µg x 2
Anak 4-10 tahun 25 µg 2 µg x 2
Anak>11tahun 50 µg 2 µg x 3 1000 µg x 2

*Selama kehamilan, konsumsi dosis ini dalam dua dosis terbagi meningkatkan bioavailabilitas B12

Zink

Gandum, polong-polongan, kedelai, kacang-kacangan dan biji-bijian merupakan sumber zink. Namun, kandungan fitat dan serat pada tumbuhan bisa mengurangi penyerapan zink5. Oleh sebab itu, diperlukan perhatian pada diet anak yang menjalani diet vegetarian untuk memaksimalkan penyerapan zink. Diantaranya yang bisa dilakukan:

1. Protein membantu penyerapan zink. Sehingga, diet makanan yang kaya protein dan zink seperti polong-polongan dan kacang-kacangan membantu meningkatkan penyerapan zink3.

2. Vitamin C dan asam organik lain (misal yang berasal dari buah) jika dikonsumsi bersama makanan kaya kandungan zink membantu penyerapan zink5.

3. Merendam kacang-kacangan kering dan membuang air rendaman sebelum memasak membantu penyerapan zink1.

Zat Besi

Zat besi ditemukan pada bentuk non-heme dari makanan yang berasal dari tumbuhan. Bayam, buah-buahan kering, kacang-kacangan, dan gandum merupakan sumber zat besi yang baik. Sebuah studi menyarankan agar vegetarian mengonsumsi zat besi 1.8 kali lebih banyak dari yang tidak menjalani diet vegetarian karena bioavailabilitas zat besi dari tumbuhan yang lebih rendah dari produk yang berasal dari hewan. Penyerapan zat besi dihambat oleh fitat dan ditingkatkan oleh vitamin C dan asam organik lain. Oleh sebab itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan kaya zat besi bersama bersama sumber vitamin C.

Yodium

Yodium dibutuhkan untuk fungsi kelenjar tiroid. Sumber yodium terbaik berasal dari hewan laut. Selain itu, penggunaan garam beryodium secara luas sangat bermanfaat untuk mencegah defisiensi yodium terutama pada masyarakat yang bermukim jauh dari lautan. Sebagai alternatif, juga bisa digunakan suplemen yodium yang berasal dari alga5.

Serat

Serat banyak ditemukan pada bahan makanan yang berasal dari tumbuhan. Namun, serat menghambat penyerapan protein, lemak, meningkatkan volume makanan, dan menurunkan densitas kalori pada makanan. Hal ini menyebabkan kondisi mudah kenyang setelah makan makanan mengandung serat5. Pada anak-anak dengan kecepatan pertumbuhan yang tinggi, hal ini menjadi perhatian karena bisa menurunkan asupan kalori dan mengganggu penyerapan zat nutrisi lain. Untuk konsumsi serat pada anak, American Academy of Pediatrics menyarankan maksimal konsumsi serat adalah 0.5/g/kg/hari4.

Lemak dan Asam Lemak Essensial

Sebuah studi menunjukkan asupan lemak pada anak yang menjalani diet vegetarian lebih rendah dibanding yang tidak menjalani diet vegetarian. Lemak memiliki kontribusi besar dalam menghasilkan energi untuk tubuh. Disarankan untuk mengonsumsi makanan kaya lemak seperti kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, produk kedelai, dan minyak sayur untuk bantu pemenuhan energi dan nutrisi pada anak3.

Untuk asam lemak omega-3 bisa didapatkan dari biji rami (flaxseeds), minyak biji rami, biji chia, dan kenari. Namun, untuk menjaga rasio omega-6/omega-3 dan meningkatkan konversi alpha-linolenic acid  (ALA) ke PUFA (polyunsaturated fatty acids) seperti eicopentaenoic/docosahexaenoic (EPA/DHA), maka minyak biji-bijian kaya omega-6, lemak trans (mentega), dan minyak tropis (kelapa, palem, minyak inti sawit) harus dibatasi5.

Untuk membantu melihat asupan nutrisi pada anak yang menjalani diet vegetarian, bisa digunakan alat bantu seperti 24-hour food recall dan food frequency questionnaire, dengan mengisi daftar makanan yang dimakan. Sehingga, bisa dilakukan prencanaan dan pemenuhan nutrisi yang baik pada anak yang menjalani diet vegetarian, karena letak kunci keberhasilan diet vegetarian pada anak adalah melalui perencanaan yang baik1. Banyak studi menunjukkan diet vegetarian pada anak tidak menunjukkan efek negatif dan memberikan manfaat pada kesehatan seperti profil lemak, antioksidan, dan asupan serat yang baik, serta menurunkan risiko berat badan berlebih6. Oleh sebab itu, diet vegetarian pada anak tidak menjadi halangan untuk anak bisa mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Referensi

1. Dunham L, Kollar L. Vegetarian Eating on Children and Adolescents. Journal of Pediatric Heath Care. 2006;20;27-34.

2.  Peregrin T. A Successful Diet for Vegan Children Nourishes The Child. [Internet].[14 Agustus 2019]. https://jandonline.org/article/S0002-8223(01)00168-7/fulltext.

3.  Messina, Mangels AR. Consideration in Planning Vegan Diets: Children. Journal of The American Dietetic Association. 2001;101;661-669.

4. Amit M. Vegetarian Diets in Children and Adolescents. Pediatric Child Health. 2010;15(5);303-314.

5. Baroni L, Goggi S, Battaglino R, Berveglieri M, Fasan I, Filippin D, Griffith P, Rizzo G, Tomasini C, Tosatti MA, Battino MA.  Vegan Nutrition for Mothers and Children: Practical Tools for Healthcare Providers. MDPI  Journals/Nutrients. 2018;11,5;doi:10.3390/nu11010005.

6. Schürmann S, Kersting M, Alexy U. Vegetarian Diets in Children: A Systematic Review. Eur J Nutr. 2017;DOI  10 1007/S00394-017-1416-0.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr