Masalah makan pada bayi dan anak menjadi isu penting dan sering dikeluhkan oleh para orang tua. Hal ini bisa dipahami karena makan merupakan salah satu proses penting untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. Periode bayi dan masa awal anak-anak merupakan masa-masa penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang mempengaruhi kondisi anak di usia selanjutnya. Oleh sebab itu, masalah makan pada anak yang dikeluhkan orang tua perlu mendapat perhatian dan dicarikan solusinya.

Dalam mengatasi masalah makan pada bayi dan anak ini, diperlukan pendekatan komprehensif meliputi sisi medis dan sisi psikososial. Saat orang tua datang dengan keluhan masalah makan pada anak, dilakukan wawancara mengenai pola makan dan diet anak serta perilaku orang tua atau pengasuh dalam kegiatan makan anak, pemeriksaan fisik anak meliputi pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan lain yang dibutuhkan, serta mencari tanda bahaya yang membutuhkan penanganan segera dan intensif.

Tabel 1. Tanda bahaya masalah makan pada anak

Tanda Bahaya Organik (organic red flags) Tanda Bahaya Perilaku (behavioral red flags)
Disfagi
Aspirasi
Terlihat sakit saat makan
Perkembangan terhambat
Gejala kardio-respirasi kronik
Pertumbuhan terhambat (failure to thrive)
Fiksasi terhadap makanan (pemilih, pembatasan asupan yang ekstrim)
Proses makan yang tidak baik (memaksa)
Proses makan berhenti mendadak setelah kejadian tertentu
Anticipatory gagging
Pertumbuhan terhambat (failure to thrive)

Menurut Kerzner dkk, kesulitan makan pada anak dibagi menjadi: 1) selera makan yang terbatas, 2) pemilihan asupan yang selektif, 3) takut terhadap proses makan. Pengkategorian ini lebih lanjut dibagi menjadi subkategori untuk masing-masing kategori. Selain itu, karena proses makan adalah interaksi antara anak dan orang tua, terdapat pengkategorian sikap orang tua pada proses makan anak yang juga memengaruhi keberhasilan makan pada anak2.

Terdapat beberapa definisi maupun pengkategorian masalah makan pada bayi dan anak. Hal ini dibutuhkan untuk memberikan terapi yang sesuai pada masing-masing kondisi anak. Dikenal istilah kesulitan makan dan kelainan makan pada anak. Kesulitan makan pada anak meliputi semua masalah yang memengaruhi proses makan pada anak, yang bisa bermanifestasi seperti waktu makan yang lama, waktu makan yang berantakan dan membuat stres, makan di malam hari pada bayi, kurangnya kemampuan makan sendiri pada anak, dibutuhkan pengalih untuk membantu proses makan pada anak, periode menyusu melalui payudara atau botol yang memanjang, dan kegagalan dalam memulai struktur makanan yang lebih kasar. Sedangkan, kelainan makan pada anak merujuk pada kesulitan dalam mengonsumsi makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, yang menyebabkan kurang gizi, pertumbuhan yang kurang, dan gangguan kognitif1.

Anak dengan nafsu makan rendah2

1. Salah mengira anak dengan nafsu makan rendah (misperceived)

Yang menjadi karakteristik dalam kategori ini adalah kekhawatiran orang tua terhadap anak mereka yang terlihat ‘kecil’, yang sering dihubungkan dengan nafsu makan yang rendah, padahal anak tumbuh dengan pertumbuhan dan perkembangan normal. Orang tua perlu diberi pemahaman bahwa kecepatan pertumbuhan menurun di akhir tahun pertama hingga tahun kedua kehidupan anak beriringan dengan menurunnya nafsu makan anak.

2. Anak aktif, dengan nafsu makan rendah

Anak pada kategori ini aktif, energik, ingin tahu, dan lebih tertarik bermain dan berbicara dibanding makan. Mereka menolak duduk diam selama makan, makan dengan porsi sedikit, dan berat badan yang sulit naik. Tidak ada penyebab organik dari perilaku ini. Kondisi anak pada kategori ini sering menimbulkan konflik antara anak dan orang tua yang jika tidak diselesaikan dengan baik bisa menghambat anak mencapai kemampuan kognitif terbaiknya.

3. Apatis, tidak tertarik

Anak cenderung inaktif, tidak tertarik pada makan dan lingkungannya, serta berkomunikasi minimal dengan pengasuh atau orang tua. Mereka jarang membuat kontak mata, mengoceh, atau berbicara. Anak-anak pada kelompok ini maupun orang tua mereka terlihat depresi dan jarang berinteraksi. Malnutrisi sering terjadi pada kelompok anak ini.

4. Penyebab organik

Diperlukan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi apakah ada penyebab organik seperti kelainan anatomi, kardiorespirasi, saraf, dan metabolik. Kondisi-kondisi yang menyebabkan nyeri sebagai respon saat proses makan diantaranya esofagitis (peradangan pada esophagus), gastritis (peradangan lambung), gangguan gerak saluran cerna, dan sembelit.

Penanganan anak dengan nafsu makan yang rendah

Pada kelompok salah mengira atau salah persepsi (misperceived), orang tua didorong untuk menerima dan memahami interpretasi rasa lapar atau kenyang pada anak. Juga memberikan pemahaman bahwa anak tumbuh normal dengan menjelaskan pola pertumbuhan normal, potensi pertumbuhan genetik (potential growth) menggunakan kalkulasi tinggi badan orang tua, dan menjelaskan pedoman pemberian makan pada anak.

Pada kelompok anak aktif dengan nafsu makan rendah perlu memahami dan merespon dengan tepat rasa lapar dan kenyang pada anak. Diperlukan jadwal makan yang merangsang rasa lapar: maksimum lima kali makan dalam sehari (termasuk cemilan) dengan hanya air putih diantaranya. Orang tua menjadi model untuk memakan makanan sehat, dan memberikan batas waktu selama proses makan. Orang tua bisa memberikan perhatian pada anak saat anak menunjukkan perilaku yang positif saat makan dan menarik perhatian jika perilaku anak saat makan buruk.

Pemenuhan nutrisi yang optimal dan interaksi yang mendukung dengan pengasuh yang berpengalaman bisa menolong anak pada kelompok apatis yang menarik diri. Terkadang diperlukan intervensi profesional atau rawat inap untuk mengatasi masalah makan pada kelompok ini.

Sedangkan, pada kelompok yang disebabkan penyebab organik, harus dicari penyebab yang mendasari dan jika memungkinkan dilakukan terapi pada penyebab masalahnya. Terkadang manajemen terapi pada kasus ini kompleks dan membutuhkan alat bantu makan seperti selang makan atau pemberian makan melalui pembuluh darah (parenteral).

Kelompok anak pemilih makanan2

1. Salah mengira atau salah persepsi (misperceived)

Neofobia (penolakan terhadap makanan yang baru atau tidak dikenal oleh anak) sering disalahartikan sebagai pemilih makanan. Padahal, hal ini normal terjadi pada akhir tahun pertama hingga tahun kedua kehidupan anak. Anak-anak akan menerima makanan baru setelah pengenalan beberapa kali.

2. Pemilih makanan derajat ringan (mildly selectivity)

Kelompok ini sering disebut ‘picky eaters’. Anak pada kelompok ini mengonsumsi lebih sedikit makanan dibanding anak sebayanya. Tidak seperti neofobia, pengenalan atau paparan beberapa kali terhadap makanan tidak berpengaruh pada kelompok ini. Namun, anak pada kelompok ini tumbuh dan berkembang normal dan memiliki asupan nutrisi dan energi yang cukup. Perhatian utama pada kelompok anak ini adalah bisa timbul konflik pada proses makan seperti orang tua yang terlalu memaksa dan menimbulkan masalah perilaku seperti kecemasan, depresi, dan agresi.

3. Pemilih makanan derajat berat (highly selective)

Anak pada kelompok ini makan kurang dari 10-15 jenis makanan. Studi lain mengelompokkan anak ini ke dalam ‘sensory food aversion’, yakni menolak untuk memakan seluruh kategori makanan yang berhubungan pada rasa, tekstur, aroma, suhu, atau penampilan makanan tertentu. Hal ini bisa menimbulkan gangguan pada perkembangan keterampilan makan. Beberapa anak dalam kelompok ini juga mengalami gangguan sensori lain misalnya respon negatif terhadap suara keras, cahaya terang, atau tekstur yang menyentuh kulitnya. Autisme adalah contoh kasus pada kelompok ini. Anak bisa dicurigai autisme jika terdapat masalah makan dan masalah pada interaksi sosial.

4. Penyebab organik

Pada anak yang mengalami perkembangan terhambat karena kelainan neurologis dengan berbagai penyebab bisa timbul masalah makan ini. Pemilihan makanan tertentu bisa terjadi akibat hiposensitif atau hipersensitif pada perangkat sensori perasa makanan dan/atau yang mengalami perkembangan keterampilan makan yang terhambat.

Penanganan anak pemilih makanan

Pada kelompok salah mengira atau salah persepsi (misperceived), orang tua dijelaskan untuk mengenalkan makanan baru secara konsisten dan berulang. Makanan bisa dikenalkan 8-15 kali tanpa paksaan saat proses makan.

Anak pemilih derajat ringan beberapa metode yang bisa dilakukan seperti ‘menyembunyikan’ puree sayuran atau sayuran ke dalam saus kesukaan anak sebagai cocolan untuk meningkatkan rasa, memberi nama makanan yang menarik, melibatkan anak pada persiapan makanan, dan menata makanan dengan design yang menarik.

Pendekatan yang sistematis dan intens untuk meningkatkan variasi makanan diperlukan pada anak pemilih derajat berat. Beberapa metode yang bisa diterapkan yakni mengganti satu makanan dengan makanan yang mirip atau sejenis, menata makanan dengan bentuk dan model yang bisa diterima anak (dengan bertahap mengubah rasa, warna, dan tekstur makanan), diiringi dengan dorongan positif orang tua saat proses makan.

Pada anak dengan penyebab organik dan autisme diperlukan penanganan oleh spesialis, merangsang rasa lapar, pemberian suplementasi nutrisi, dan pendekatan untuk melatih sistem sensorik (paparan rangsang taktil di kulit, desensitisasi otot rongga mulut, dan membentuk makanan dengan bentuk atau model tertentu). Pada kasus hiposensitif, makanan bercita rasa kuat bisa diterima dan diberikan pada anak.

Anak dengan ketakutan pada proses makan

1. Salah mengira atau salah persepsi (misperceived)

Pada bayi yang menangis berlebihan dan menolak botol susu atau payudara ibu sering dianggap mengalami ketakutan pada proses makan. Padahal kebanyakan mereka menangis karena sebab lain, kegagalan untuk menenangkan diri (disordered state regulation) atau kolik. Pada sebagian besar kasus, mereka menerima jumlah makanan atau asupan yang cukup.

2. Ketakutan pada proses makan di bayi

Bayi terlihat lapar lalu sangat ingin menyusu. Namun, setelah beberapa isapan, mereka melepas puting dan terlihat sakit. Tapi mereka bisa menyusu atau makan dengan baik ketika mengantuk.

3. Ketakutan pada proses makan di anak lebih tua

Anak terlihat tersedak, memuntahkan makan, dan berhenti saat proses makan. Sering terjadi pada makanan padat. Kadang, hal ini terjadi akibat orang tua yang memaksa saat proses makan dan pada beberapa kasus yang berat bisa menyebabkan berat badan yang kurang pada anak.

4. Penyebab organik

Sering terjadi pada anak yang menggunakan selang makan, menyebabkan nyeri saat makan akibat peradangan pada esofagus. Juga pada anak yang mengalami gastroparesis dan kelainan gerak saluran cerna.

Penanganan anak dengan ketakutan pada proses makan

Tujuan utama penanganan adalah meredakan rasa cemas yang berhubungan dengan proses makan. Pada kelompok salah mengira atau salah persepsi (misperceived) pada bayi menangis adalah meyakinkan kembali orang tua, pendekatan dan penanganan sistematis terhadap penyebab ketidaknyamanan bayi serta membantu mengurangi kecemasan orang tua.

Pada bayi dengan ketakutan pada proses makan perlu dicari penyebab rasa sakit atau ketakutan makan pada bayi dan diatasi penyebabnya. Selain itu, hal yang bisa dilakukan adalah pemberian makan atau menyusu saat bayi mengantuk dan membuat jadwal tidur-makan untuk membantu pemenuhan nutrisi bayi. Suasana dan perlengkapan makan bisa diubah untuk merangsang penerimaan makan.

Anak yang lebih besar bisa dilakukan konseling terapi untuk meredakan kecemasan atau ketakutan. Jika konseling pertama gagal, bisa diberikan obat-obatan untuk meredakan kecemasan (ansiolitik), dorongan positif saat makan dengan penghargaan jika perilaku makan baik, serta penanganan lebih lanjut oleh dokter psikiatri.

Untuk ketakutan makan yang disebabkan proses organik, perlu dicari tahu penyebab yang mendasari dan dilakukan penanganan. Terkadang, meskipun penyebab sudah diatasi, rasa sakit yang berlebih (hiperalgesia) dan/atau kecemasan masih ada. Diperlukan penanganan lebih kompleks seperti merangsang rasa lapar, pengenalan bertahap terhadap makanan, dan penanganan spesialistik termasuk untuk terapi perilaku.

Sikap orang tua terhadap proses makan anak2,3

1. Responsif

Orang tua yang responsif memahami tanggung jawab dalam proses makan anak. Orang tua menentukan di mana, kapan, apa, dan seberapa banyak anak makan. Orang tua membimbing anak makan bukan mengontrol anak. Orang tua menentukan batas waktu makan, menunjukkan proses makan yang baik, berbicara positif tentang makanan, dan merespon sinyal lapar anak dengan baik. Mereka juga memberi penghargaan pada perilaku makan anak yang baik dan tidak melakukan teknik yang memaksa.

2. Mengontrol (controlling)

Orang tua yang mengontrol anak makan sering ditemui. Mereka mengacuhkan sinyal lapar anak, menggunakan paksaan atau hukuman agar anak makan. Metode ini bisa menimbulkan asupan energi yang kurang pada anak, konsumsi buah dan sayur yang kurang, serta risiko berat badan kurang atau berlebih pada anak.

3.  Lunak mengikuti kemauan anak (indulgent)

Orang tua mengikuti kemauan anak sepenuhnya, kapanpun dan apapun yang anak inginkan untuk makan. Orang tua merasa harus mengikuti kemauan anak namun mengabaikan sinyal lapar anak dan tidak mengatur batas dalam proses makan. Perilaku ini menyebabkan anak mengonsumsi nutrisi yang tidak seimbang serta meningkatkan risiko berat badan berlebih pada anak.

4. Lalai/tidak peduli (neglectful)

Orang tua mengabaikan tanggung jawab dalam memberikan makan. Mereka mengabaikan sinyal lapar anak, kebutuhan emosi serta ikatan fisik dengan anak. Orang tua kelompok ini sering memiliki masalah emosional, gangguan perkembangan, depresi, dan kondisi lain yang menyebabkan mereka tidak bisa memberi makan anak mereka dengan baik.

Dokter spesialis anak bisa memperkirakan sikap orang tua dalam proses makan anak dengan menanyakan tiga pertanyan: 1) seberapa cemas Anda dengan pola makan anak Anda, 2) bagaimana Anda menjelaskan apa yang terjadi selama proses makan, 3) apa yang Anda lakukan ketika anak menolak makan?. Jawaban dari orang tua yang tidak peduli akan tidak jelas, orang tua yang mengontrol akan menggambarkan paksaan pada anak untuk makan, orang tua yang mengikuti kemauan anak akan menggambarkan permohonan atau mempersiapkan makanan spesial agar anak makan.

Pedoman makan secara umum bisa digunakan untuk membantu orang tua agar lebih responsif dalam proses makan anak, seperti yang dianjurkan oleh IDAI. Feeding rules atau aturan dasar pemberian makan, tercantum pada Tabel 2.

Tabel 2. Feeding rules (Aturan pemberian makan)4

Jadwal Ada jadwal makanan utama dan makanan selingan (snack) yang teratur, yaitu tiga kali makanan utama dan dua kali makanan kecil di antaranya. Susu dapat diberikan dua – tiga kali sehari. Waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit. Hanya boleh mengonsumsi air putih di antara waktu makan
Lingkungan Lingkungan yang menyenangkan (tidak boleh ada paksaan untuk makan). Tidak ada distraksi (mainan, televisi, perangkat permainan elektronik) saat makan. Jangan memberikan makanan sebagai hadiah
Prosedur Dorong anak untuk makan sendiri, bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), tawarkan kembali makanan secara netral, yaitu tanpa membujuk ataupun memaksa. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan, akhiri proses makan.  

Pada orang tua yang terlalu mengontrol anak bisa disarankan untuk memberikan makan dengan cara yang tidak memaksa. Pada orang tua yang lunak mengikuti kemauan anak dan yang tidak pedulli disarankan untuk lebih terstruktur dan tepat dalam proses pemberian makan anak.

Terkadang, anak bisa memiliki lebih dari satu masalah makan dan lebih dari satu masalah medis. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama yang baik antara orang tua (pengasuh) dan dokter spesialis anak untuk memastikan masalah makan pada anak, menentukan penyebabnya, dan memberikan solusi atau penanganan yang tepat sesuai kondisi anak dan orang tua.

Referensi:

1. Yang H R. How to Approach Feeding Difficulties in Young Children. Korean J Pediatr. 2017;60(12):379-384.

2. Kerzner B, dkk. A Practical Approach to Classifying and Managing Feeding Difficulties. Pediatrics, American Academy of Pediatrics. 2015; 135:2.

3. Sudjatmoko. Masalah Makan Pada Anak. Damianus Journal of Medicine. 2011; 36-41.

4. Sjarif D R, dkk. Pendekatan Diagnosis dan Tata Laksana Masalah Makan pada Batita di Indonesia. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2014.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr