Sore itu seorang sahabat mengirimkan via WhatsApp foto anaknya yang baru lahir, berbaju kebesaran, lengkap dengan bedong, alas ompol, bed cover seukuran bayi, tak lupa bantal peang bermotif lucu yang menyangga kepala mungilnya. Lengkap. Tipikal bayi baru lahir di seantero Indonesia. Membuat saya mengingat kembali masa-masa mengasuh dan merawat anak pertama.

Newmom, begitu istilah ibu-ibu muda milenial. Seorang wanita dengan pengalaman pertama mengalami perubahan fisik dan emosi akibat gejolak hormon ketika hamil, dilanjutkan dengan proses persalinan yang ketika itu membingungkan, sibuk menerka apakah ini sudah kontraksi yang sesungguhnya atau masih kontraksi palsu, meskipun ternyata segala kebingungan dan gejolak hormon yang dialami itu pada akhirnya terjawab dengan learning by doing seiring dengan tangis bayi yang menyelimuti ruang bersalin serta tangis haru sang ayah ibu bayi.

Pada momen tersebut akhirnya sang ibu tahu,
oh mulas yang disangka sudah bukaan 9 itu ternyata masih bukaan 2,
oh ternyata bukaan 9 itu yang begitu ya,
oh rasanya meneran itu begini,
oh begini ya bahagianya melahirkan,
dan oh oh lainnya
hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata pun akhirnya dapat dipahami, dimaknai, dan dijiwai. And it’s just the beginning. The real beginning 😊

Di tengah luapan berbagai emosi, ditambah perubahan gejolak hormon (lagi!) dalam tubuh sang ibu, ada kewajiban baru yang menanti di depan mata, tidak bisa ditunda, tidak bisa dihentikan sejenak, apalagi mengklik CTRL-Z. Mau tidak mau, harus mau. Suka tidak suka, harus lanjut. Tanpa pengalaman pribadi, kembali learning by doing.

Bertanyalah sang ibu tentang A-Z pengasuhan bayi baru lahir pada ibu kandungnya, ibu mertuanya, kakak perempuannya, kakak ipar perempuannya, ibu-ibu tetangga, teman-teman perempuan yang sudah lebih dulu jadi ibu, mem-follow semua mama influencer hits di Instagram, ikut semua kuliah WhatsApp berkaitan dengan pengasuhan anak untuk para newmom, bergabung dengan komunitas Parenting. Tak lupa suaminya pun ikut serta belajar bersama dan dijejali informasi terkait pengasuhan bayi baru lahir yang didapatnya dari segala sumber tersebut. Lots of information. Terjadilah burst of information.

Dari banyaknya informasi yang didapat, informasi mana yang akan dipercaya? Semuanya sekilas ‘terlihat’ logis dan punya dasar yang kuat, dengan sumber-sumber dari luar negeri yang ‘sepertinya’ meyakinkan, apalagi yang memberikan informasi bergelar influencer. Nah, disinilah kemampuan ibu untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan yang terbaik dalam pengasuhan anak, terutama dalam memberi nutrisi terbaik.

Ada faktor-faktor yang berperan dalam proses seorang ibu mengambil keputusan terkait pemberian nutrisi pada seorang anak, diantaranya adalah:

  1. Pengetahuan ibu
  2. Mental ibu
  3. Dukungan suami dan keluarga inti terdekat lainnya
  4. Komitmen stakeholder untuk memperbaiki status nutrisi anak bangsa
  5. Lingkungan dan sosial media

Poin 1-2 ditentukan oleh faktor internal ibu, sedangkan poin 3-5 adalah faktor eksternal ibu. Dari kelima faktor tersebut, faktor determinan yang menjadi kunci adalah faktor internal ibu, hal yang paling konkret dan paling mungkin untuk diintervensi. Karena faktor eksternal melibatkan pihak-pihak diluar kontrol ibu.

Secara umum, literatur dalam bidang nutrisi menjelaskan bahwa semakin besar kontrol wanita dalam mengambil keputusan dalam pendekatan domain nutrisi, semakin baik pula status gizi mereka dan anak-anaknya. (Arulampalan, Bhaskar dan Srivasta 2012; Smith 2003)

Maka kesimpulannya, setiap wanita, siapapun dia, apapun pendidikannya, harus melatih daya pikirnya untuk mampu menyaring, menelaah, menganalisis informasi berkenaan dengan nutrisi anak yang diperoleh dari berbagai sumber untuk diekstrak menjadi suatu keputusan yang tepat. Bagaimana caranya?  Stay hungry, stay foolish. Check and recheck the sources. Ask the expert.

Daftar Pustaka:

Arulampalan, W.; Bhaskar, A. and N. Srivasta (2012) Does Greater Autonomy among Women Provide the Key to Better Child Nutrition? Working Paper, Warwick, UK: University of Warwick.

Haddad, L.; Nisbett, N.; Barnett, I. and Valli, E. (2014) Maharashtra’s Child Stunting Declines: What is Driving Them? Findings of a Multidisciplinary Analysis, Brighton, Institute of Development Studies and UNICEF.

Smith, Lisa C. (ed.) (2003) The Importance of Women’s Status for Child Nutrition in Developing Countries, Research Report 131, Washington, DC: International Food Policy Research Institute.

Smith, L. and Haddad, L. (2014) The Global Determinants of Stunting, forthcoming IDS Working Paper, Brighton: IDS

A mother of two, an assertive INTP woman.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr