Anak Usia Sekolah: Investasi bangsa

Setiap orang tua pasti selalu ingin memberikan yang terbaik untuk sang buah hati, termasuk dalam aspek nutrisi. Sejak kecil sang ibu senantiasa memperhatikan tumbuh kembang serta asupan sehari – hari mulai dari ASI eksklusif, MPASI hingga segala aspek kebersihan dan kadar gizi asupannya. Namun setelah anak beranjak sekolah, pemantauan asupan nutrisi anak tidak lagi dapat dilaksanakan dengan sempurna akibat keterbatasan orang tua dalam mengontrol asupan makanan saat anak bersekolah. Di Sekolah, anak dihadapkan dengan berbagai pilihan makanan yang secara bebas mereka pilih. Pertanyaannya, apakah anak mampu untuk memilih mana makanan yang benar dan baik untuk memenuhi kebutuhan sehari – harinya?

Pangan Jajanan Anak Sekolah: Masalah kecil yang berdampak besar terhadap kelangsungan generasi bangsa.
Pangan Jajanan Anak Sekolah menjadi momok penting karena sebagian besar waktu anak dihabiskan didalam lingkungan sekolah. Konsumsi makanan anak sekolah haruslah sesuai dengan tumbuh kembang anak, serta nilai gizi yang diberikan selaras dengan kebutuhan anak berdasarkan usianya. Namun seringkali pada prakteknya memilih makanan yang benar dan tidak menyimpang merupakan hal yang tidak mudah
Masalah jajanan anak sekolah tampaknya seperti masalah yang kecil, namun jika ditelusuri lebih jauh, bahwa asupan nutrisi pada masa – masa ini memiliki dampak yang besar bagi pertumbuhan dan perkembangannya untuk menjadikan anak – anak bangsa ini menjadi generasi yang berkualitas di masa yang akan datang.

Berdasarkan Laporan Akhir Hasil Monitoring dan Verifikasi Profil Keamanan PJAS Nasional tahun 2014 menyebutkan bahwa sebanyak 98.9% anak jajan di sekolah dan 1% yang tidak pernah jajan. Dari seluruh kebutuhan gizi anak sehari, jajanan sekolah memberikan sumbangan 31.06% energi dan 27,44% protein dari total kosumsi pangan harian anak.1 Namun berdasarkan uji BPOM pada tahun 2014 menyebutkan bahwa sebanyak 23.82% sampel jajanan dari 10.429 sample jajanan di 30 sekolah dinyatakan tidak sehat dan telah ditemukan Salmonella Paratyphi di 25% – 50% sampel minuman yang dijual di kaki lima depan sekolah. Selain itu berdasarkan laporan uji lab ditemukan bahwa berbagai makanan yang sering ditemukan seperti otak – otak dan bakso ditemukan mengandung borax, tahu goreng dan mie kuning ditemukan menggunakan formalin, serta es sirop merah positif mengandung rhodamine B serta pewarna makanan seperti methanil yellow yang digunakan untuk keperluan textil. Selain itu pewarna buatan ditemukan dalam produk limun, kerupuk, roti, agar/jeli, kue basah, makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu, ayam goreng serta cendol2 Hal ini memberi gambaran bahwa pangan jajanan sekolah yang bebas dari cemaran mikrobiologis maupun cemaran kimiawi masih jauh dari impian.

Apa saja yang menyebabkan sulitnya mencapai pangan yang sehat dan berkualitas?

  1. Higenitas dan sanitasi: Rendahnya higenitas dan sanitasi para penjual makanan menyebabkan tingginya angka cemaran mikroba pada pangan jajanan sekolah.
  2. Pengetahuan penjaja makanan: Minimnya pengetahuan penjual mengenai bahan tambahan pangan ilegal seperti borax, formalin rhodamin B dsb menyebabkan pekerja kaki lima menggunakan bahan tesebut dengan bebas.
  3. Belum optimalnya regulasi pengaturan masalah pangan jajanan anak sekolah : Faktor kebijakan serta regulasi sekolah juga turut andil. Kebijakan – kebijakan yang diterapkan setiap sekolah mengenai jajanan sekolah sangat bervariasi. Kebijakan umumnya diterapkan bukanlah kebijakan yang berbentuk perundang – undangan ataupun peraturan tertulis, melainkan suatu kebiasaan yang sudah melekat sejak dahulu kala.
  4. Rendahnya pengetahuan anak terhadap keamanan pangan : anak akan cenderung memilih jajanan yang menarik seperti warna mencolok, rasa manis yang tajam, ataupun makanan tahan lama.

Mencari Solusi Terbaik untuk Keamanan Pangan Jajanan Sekolah

Berbagai cara kreatif dapat dilakukan untuk menurunkan angka jajan di sekolah. Konsep anak tidak diperbolehkan membawa uang merupakan salah satu cara agar saat istirahat siswa tidak jajan dan memakan bekal dari rumah. Untuk menanggulangi kebosanan anak – anak dapat dilakukan pengadaan kantin bersih sehat ataupun ketersediaan kantin dengan menyajikan jajanan buatan alami dari wali murid yang dititipkan sekolah.3-4

Peran pemerintah juga diperlukan dalam mengawasi penjualan makanan serta memberikan edukasi berkala mengenai pangan jajanan anak sekolah. Banyaknya berbagai masalah keamanan pangan disebabkan penjaja pada umumnya belum memenuhi syarat sesuai Permenkes Nomor 236/Menkes/Per/IV/SK/VII/2003 mengenai persyarakatan higiene dan sanitasi makanan jajanan. Pelatihan dan pembinaan bagi para penjaja makanan meliputi edukasi mengenai pembuatan pangan jajanan yang aman, dan berbagai bahan – bahan ilegal dirasa perlu. 3-4

Selain pihak penjual, sekolah dan pemerintah, orang tua murid serta anak – anak juga berperan penting. Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa siswa di sekolah dengan intervensi Pendidikan gizi, cenderung memilih makanan jajanan sehat lebih baik dibandingkan dengan sekolah yang tidak diberikan intervensi. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan yang baik pada anak – anak berpengaruh terhadap makanan yang dipilihnya, sehingga dapat dilakukan penambahan kurikulum mengenai kesehatan dan keamanan pangan serta nutrisi – nutrisi yang baik mereka konsumsi untuk sehari – hari.

Pangan dan gizi merupakan unsur yang sangat berperan dalam peningkatan produktivitas serta kualitas anak – anak Indonesia. Dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak untuk mewujudkan makanan yang aman, sehat, dan bermutu bagi anak – anak. Peran serta orang tua, anak – anak sekolah, guru, pengelola kantin, penjaja makanan dan juga pemerintah harus bersama – sama dalam memberantas rantai buruk jajanan makanan anak sekolah yang selama ini masih sulit diberantas. Bahaya yang senantiasa mengancam kesehatan anak usia sekolah harus segera diperhatikan mengingat setiap anak berhak memperoleh pangan yang berkualitas sebagai wujud langkah peningkatan produktivitas nasional dan mencetak generasi berkualitas di masa yang akan datang.

Daftar Pustaka :

1.Infodatin 2015. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi Pangan Jajanan Anak Sekolah.

2 Judarwanto Widodo. Perilaku Makan Anak Sekolah. [Internet].[5 September 2019]. https://gizi.depkes.go.id

3. Anggriarini AN. Hanim Lathifah. Ma’ruf Umar. Pelaksanaan Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Bahan Tambahan Pangan Pada Jajanan Anak Sekolah Menurut Permenkes No. 033 Tahun 2012. Jurnal Hukum Khaira Ummah.2018;Vol(13): hal 1- 3

4. Judarwanto Widodo. Perilaku Makan Anak Sekolah. [Internet].[5 September 2019]. https://gizi.depkes.go.id

5. Pedoman Pangan Jajanan Anak Sekolah Untuk Pencapaian Gizim Seimbang. Badan POM RI. 2013

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr