Kualitas hidup memberikan persepsi yang berbeda pada tiap pasien kanker

Dewasa ini, penyakit kanker menjadi momok menakutkan bagi masyarakat karena tingginya angka kematian akibat kanker. Salah satu pendekatan untuk penanganan pasien kanker secara holistik adalah menggunkan metode akupunktur. Salah satu topik besar pada acara PIT PDAI-InaSMAC 2019 adalah Kualitas Hidup pada Kanker. Pada topik ini, terdapat tiga seminar yang membicarakan tentang kualitas hidup pasien kanker serta pengaruh akupunktur terhadap kualitas hidup pasien. Kualitas hidup merupakan persepsi individu terhadap keberadaannya dengan standar serta harapan dalam hidupnya. Setiap individu akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap kualitas hidup mereka.

            Seiring berkembangnya teknologi dan ilmu kedokteran, berbagai metode terapi untuk mengatasi kanker mampu untuk membuat penderita terbebas dari penyakitnya. Namun, sejumlah metode terapi tersebut tidak datang tanpa resiko. Dampak negatif seperti distress, keletihan, anorexia, dan nyeri dapat dialami pasien, yang nantinya dapat mengganggu kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, diperlukan penanganan secara holistik dan pengobatan yang adekuat menjadi kunci utama meningkatkan kualitas hidup pasien kanker.

“Pasien kanker perlu diberikan sejumlah pendekatan komprehensif, dimana akupunktur berperan penting dalam pendekatan tersebut” ujar dr. Vera Abdullah, Sp.PD.

dr. Vera Abdullah, Sp.PD dan dr. Christina Simadibrata, M.Kes, Sp.Ak(K) sebagai pembicara

Permasalahan penurunan kualitas hidup pasien kanker timbul karena adanya gangguan fisik dan psikologis, dampak dari pengobatan yang diberikan, berkurangnya kemandirian, serta meningkatkan kebutuhan akan bantuan orang lain. Pengukuran kualitas hidup pasien dilakukan menggunakan sejumlah metode seperti WHOQoL-BREF, EORTC-QLQ-C30 ver 3.0, dan HFRDIS. Pentingnya penilaian kualitas hidup adalah untuk mendukung interaksi antara pasien dan dokter, mendapatkan pengobatan yang adekuat, serta memonitor pelayanan yang diberikan ke pasien.

Saat ini, WHO telah merekomendasikan penggunaan akupunktur sebagai terapi supportif dan paliatif pasien kanker selama dan sesudah pemberian terapi kanker. Hal ini didasarkan pada penelitian yang menyatakan bahwa akupunktur dapat menekan rasa nyeri serta menurunkan metastasis (penyebaran) sel kanker. Sejumlah titik yang banyak digunakan dalam penelitian adalah ST36 dan SP6 untuk mengatasi nyeri pada kanker.

Penelitian juga telah mampu menjelaskan mekanisme kerja akupunktur dalam mengatasi nyeri. Melalui penekanan proses peradangan, aktivasi kelenjar adrenal, peningkatan sejumlah hormon, modulasi denyut jantung, serta memperbaiki gangguan mukosa mulut (xerostomia pasca radiasi kepala-leher), akupunktur dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi fisik pasien. Tidak hanya itu, akupunktur juga mampu mengurangi rasa mual muntah dan myelosupresi pasca kemoterapi.

“Akupunktur sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker” ujar dr. Christina Simadibrata, M.Kes, Sp.Ak(K).

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr