Berbagai teknik akupunktur yang dapat dilakukan sebagai terapi paliatif pada pasien kanker

Kanker merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia akibat besarnya morbiditas dan mortalitas yang ditimbulkan bagi penderita. Salah satu gejala yang umum dikeluhkan pasien adalah nyeri. Terapi umum yang digunakan untuk mengatasi nyeri kanker adalah terapi farmakologis atau obat-obatan. Akan tetapi, penggunaan obat-obatan dapat menimbulkan efek samping berupa gangguan pencernaan serta ketergantungan opiat jika digunakan terus menerus. Selain penggunaan terapi farmakologis, terdapat alternatif baru yang dapat menjadi pilihan yaitu akupunktur, seperti simposium yang disampaikan Dr. dr. Adiningsih Srilestari, M.Epid, M.Kes, Sp.Ak(K) di acara PIT PDAI-InaSMAC 2019. Akupunktur merupakan perangsangan titik-titik pada permukaan tubuh yang memiliki potensial listrik lebih tinggi dan merupakan kumpulan komponen saraf dan neuroaktif yang disebut neural acupuncture line. Akupunktur dapat menghilangkan nyeri melalui beberapa mekanisme, yaitu induksi pelepasan opioid endogen yang berperan sebagai analgesia fisiologis, modulasi sistem adrenergik yang berujung pengeluaran beta endorfin, modulasi sistem sinyal 5-Hydroxytriptamine (HT), modulasi sistem persinyalan N-methyl-D-aspartate/AMPA/Kainate, modulasi dari sistem neurotransmitter lain, mekanisme anti-inflamasi dari mikrotrauma yang ditimbulkan, dan aktivasi sistem diffuse noxious inhibitory control.

Penyampaian materi oleh Dr. dr. Adiningsih Srilestari, M.Epid, M.Kes, Sp.Ak(K)

Dalam mengatasi nyeri pada kanker, terdapat modalitas akupunktur terbaru yaitu akupunktur telinga. Materi akupunktur telinga ini dibawakan oleh dr. Dwi Rachma Helianthi, Sp.Ak. Akupunktur telinga bermula melalui map yang dibuat oleh Paul Nogier dengan mengkorelasikan telinga dengan bagian tubuh lainnya. Kemudian HsiangLai Wen mengembangkan protocol NADA yang memanfaatkan telinga yang ditusuk jarum untuk mengatasi gejala withdrawal dari opium. Kemudian, pada tahun 2001 dilakukan pengembangan BFA, semacam bentuk aurikuloterapi pada lima titik spesifik di kedua telinga. Hasil penelitian menunjukan bahwa akupunktur telinga aman dan memiliki efek positif mengurangi intensitas rasa nyeri dan juga dapat digunakan dalam mengurangi nyeri kanker.

dr. Dwi Rachma Helianthi, Sp.Ak saat menyampaikan materi

Akupunktur juga memiliki potensi dalam pengobatan kanker selain mengurangi rasa nyeri seperti yang disampaikan oleh Dr. dr. Hasan Mihardja, M.Kes, Sp.Ak(K). Sebuah penelitian terbaru dilakukan untuk mengetahui manfaat akupunktur pada terapi kanker payudara selain dalam hal mengurangi rasa nyeri. Mekanisme kerja akupunktur melalui neurohormonal dan immunomodulator diduga memberikan efek langsung sebagai terapi kanker. Mekanisme tersebut akan meningkatkan sekresi interferon gamma, molekul adhesi sel, molekul sitotoksik, dan faktor nekrosis tumor (TNF) superfamili yang berperan dalam imunitas melawan kanker. Kanker payudara seperti kanker lainnya memiliki kemampuan proliferasi tinggi melalui mitosis berlebihan sel. Penelitian dilakukan pada hewan coba oleh dr Hasan, yang kemudian didapati bahwa jumlah sel mitosis mengalami penurunan pada tindakan akupunktur pertama dan kedua kemudian mengalami peningkatan pada tindakan akupunktur ketiga. Namun, masih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Penelitian akupunktur terhadap mitosis juga dilakukan oleh Huang et al tahun 2013 dan Yin 2013. Penelitian ini dapat mencerminkan potensi akupunktur dalam menurunkan proliferasi sel kanker disamping sebagai terapi untuk mengurangi anti nyeri.

Penyampaian materi oleh Dr. dr. Hasan Mihardja, M.Kes, Sp.Ak(K)
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr