Indonesia sedang dihebohkan dengan merebaknya wabah difteri di berbagai wilayah. Pendataan Kementerian Kesehatan (kemenkes) RI menunjukkan jumlah kasus kesakitan dan kematian terbanyak ditemui di Pulau Jawa. Sebenarnya seberapa pentingkah isu ini sampai-sampai kemenkes mengeluarkan data epidemiologi dan rencana penanganan nasional?

Sebelum melangkah lebih lanjut, penulis ingin sekilas membahas difteri. Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Tidak seperti serangan bakteri pada umumnya, gejala-gejala di penyakit difteri ditimbulkan oleh toksin bakterinya. Gejalanya beragam tergantung bagian tubuh yang diserang, bisa berupa demam, gejala mirip flu biasa, nyeri menelan, hingga sesak napas. Gejala-gejala yang tidak spesifik itulah yang membuat banyak orang sulit membedakannya dengan penyakit lain, padahal penyakit ini sangat mudah menular melalui percikan di udara. Dengan penjelasan gejala-gejala tersebut, mungkin ada beberapa pembaca yang berpikir penyakit ini bukan penyakit berat karena gejala-gejalanya cukup ringan. Sayangnya, komplikasi atau pemberat difteri masih bisa muncul bahkan pada pasien yang gejala awalnya ringan. Di antara berbagai komplikasinya, ada tiga penyebab kematian tertinggi pada pasien difteri.

  1. Sumbatan jalan napas

Infeksi difteri menyebabkan sumbatan jalan napas karena membran putih (pseudomembran) dan pembesaran kelenjar getah bening (KGB). Membran putih yang cukup luas menyebabkan sumbatan jalan napas terutama jika terlepas. KGB mengalami pembesaran karena sistem imun tubuh sedang aktif dan biasanya yang mengalami pembesaran saat difteri adalah KGB daerah leher, misalnya tonsil dan servikal. Bisa dibayangkan tentu bagaimana jadinya jika ada membran putih dan pembesaran KGB yang menutupi jalan napas seperti pada gambar 1 di bawah ini.

2. Miokarditis dan gagal jantung

Penyulit bagian jantung ini biasanya terjadi pada pasien-pasien yang terlambat diberi antitoksin (karena seperti yang telah dijabarkan di atas bahwa penyebab gejala-gejala difteri adalah toksin bakteri). Ada penelitian di India yang menyebutkan miokarditis dan gagal jantung akibat difteri paling banyak diderita anak-anak usia <10 tahun. Pasien-pasien dengan keterlibatan jantung bisa bergejala atau tidak bergejala. Gejala-gejala yang muncul biasanya mulai muncul sejak minggu ke-2 (bahkan bisa lebih dini) hingga minggu ke-6 sejak sakit difteri. Awalnya gejala yang muncul terlihat biasa-biasa saja, seperti kelelahan, rasa tidak enak badan (malaise), nyeri dada, atau berdebar-debar. Namun, dengan semakin banyaknya sel-sel otot jantung yang bengkak lalu terdegenerasi dan menjadi jaringan parut (fibrosis) maka kerja jantung akan semakin menurun hingga pasien dapat mencapai tahap gagal jantung.

3. Paralisis diafragma

Penyulit bagian saraf biasanya terjadi di penderita usia dewasa; salah satu bentuk penyulit saraf adalah paralisis diafragma. Bagian saraf yang terkena biasanya pusat  saraf bulbar (saraf di batang otak) atau polineuropati (saraf-saraf tepi). Gejala akibat gangguan saraf bulbar biasanya muncul pada minggu ke-3 sampai minggu ke-6 sejak awal infeksi sedangkan polineuropati biasanya muncul di minggu ke-8. Gejala gangguan saraf bulbar bisa berupa sulit menelan, suara serak, atau pandangan ganda (misalnya akibat kelainan bola mata pada gambar 2 di bawah). Salah satu jenis polineuropati di difteri adalah paralisis saraf frenikus, yaitu saraf yang bertugas mengatur otot diafragma untuk pernapasan. Jika saraf frenikus sampai terkena, henti nafas bisa terjadi hingga pasien harus diberi bantuan ventilator agar bisa bernapas.

Polineuropati difteri menyebabkan kelainan bola mata pada pasien di gambar.

Gambar 2. Polineuropati difteri menyebabkan kelainan bola mata pada pasien di gambar. Sumber: http://www.atmph.org/article.asp?issn=1755-6783;year=2012;volume=5;issue=4;spage=302;epage=306;aulast=Kole

Setelah membaca penjelasan di atas, seharusnya pembaca sudah paling tidak mampu mencurigai penderita difteri dari gejalanya serta memahami bahayanya. Sebagai warga negara yang baik, pembaca dapat berkontribusi mengatasi wabah ini dengan mendukung program pemerintah, yaitu outbreak response immunization dan memberikan atau menyarankan vaksinasi pada anak, saudara, atau teman pembaca sendiri. Mari kita dukung anak Indonesia sehat!

 

Pesan tambahan: Penulis ingin mengajak pembaca menyarankan vaksinasi, terutama pada anak-anak di sekitar pembaca, tidak hanya vaksin difteri tapi juga vaksin-vaksin lain agar wabah serupa tidak terjadi juga di Indonesia.

 

Referensi

  1. Diphtheria, the disease [Internet]. World Health Organization. http://www.who.int/immunization/topics/diphtheria/en/index1.html
  2. Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI. Buku ajar infeksi & pediatri tropis. Edisi ke-2. Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2008.
  3. Kole AK, Roy R, Kar SS. Cardiac involvemenet in diphtheria: study from a tertiary referral infectious disease hospital. Annals of Tropical Medicine and Public Health; 2012. 5(4): 302-6. DOI: 10.4103/1755-6783.102031
  4. Samdani S, Jain A, Meena V, Meena CB. Cardiac complications in diphtheria and predictors of outcomes. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology; 2017. 104(2018): 76-8.
  5. Sanghi V. Handbook of Clinical Neurology. Elsevier; 2014. Bab 92, Neurologic manifestations of diphtheria and pertussis.
Shierly Novitawati
Reporter Senior Media Aesculapius.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr