Tuberkulosis (TB) harus diberantas bersama. Belakangan memang kita boleh berbangga menurunkan peringkat prevalensi di posisi keempat dunia. Namun, dengan adanya evolusi TB, patutkah kita hanya berpangku tangan memantau perkembangan?

Usaha Indonesia menurunkan angka TB tampak tidak sia-sia. Selama hampir satu dekade memegang peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus TB, kini Indonesia berada di peringkat keempat setelah India, China, dan Afrika Selatan. Namun, kasus TB belum bisa dipandang sebelah mata. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) memperkirakan terdapat 430.000 kasus TB baru per tahun dan 169 orang meninggal karena TB setiap harinya. TB bahkan telah dinobatkan sebagai pembunuh nomor dua di Indonesia setelah stroke.

Kenyataan tersebut seakan menjadi tembok penghalang Indonesia untuk melangkah memenuhi target bebas TB pada 2050. Kesulitan ini tidak terlepas dari faktor-faktor seperti mudahnya penularan dan pengobatan yang sering kali tidak tuntas.

Penyakit TB ditularkan melalui dahak penderita yang terhirup atau tertelan. Basil akan berkembang biak, menyebar melalui pembuluh darah dan kelenjar getah bening, serta menginfeksi organ dalam tubuh seperti otak, ginjal, paru, dan tulang. Namun, tidak semua orang mengalami gejala. Hanya orang dengan daya tahan tubuh lemah saja yang secara klinis berisiko termanifestasi.

Dewasa ini, penularan TB semakin banyak ditemukan bersama beragam koinfeksi dengan HIV/AIDS sebagai penyakit penyerta tersering. Lemahnya sistem pertahanan tubuh membuat penderita HIV/AIDS lebih rentan tertular TB, dan berlaku sebaliknya. Pengidap TB dijumpai lebih banyak yang menderita HIV/AIDS. Tidak hanya koinfeksi, resistensi obat pun kini muncul sebagai tantangan eradikasi TB.

Sejatinya, TB merupakan penyakit yang dapat diobati. Penderita harus mengonsumsi beberapa jenis obat setiap hari dalam rentang waktu minimal enam bulan. Hal ini tentu membutuhkan kedisiplinan penderita dan bantuan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Gejala TB yang dapat hilang setelah 2-3 pekan pascamulai konsumsi obat sering membuat penderita TB menjadi malas melanjutkan pengobatan. Tidak jarang, sebab merasa sudah sembuh dan sehat penderita TB tidak lagi mengambil obat di fasilitas layanan kesehatan yang sebetulnya bisa didapatkan cuma-cuma.

Kejadian pasien TB putus obat berpotensi menyebabkan bakteri TB  berevolusi menjadi kebal obat. Terdapat kondisi Multiple Drug Resistance (MDR) TB yang terjadi apabila kuman kebal terhadap minimal dua obat lini pertama, yakni isoniazid (INH) dan rifampisin. Kondisi tersebut membuat penderita harus diberikan obat TB lini kedua dalam jangka waktu yang juga lebih lama. Apabila kuman sudah kebal terhadap obat lini kedua, evolusi kuman TB pun dapat dikatakan telah berkembang menjadi Extensive Drug Resistance (XDR) TB.

Indonesia kini menempati urutan 9 dari 27 negara dengan beban MDR TB.  Delapan kasus XDR TB bahkan sudah ditemukan di Indonesia. Pengobatan MDR TB di Indonesia sendiri sudah dimulai sejak 2009 dan kini semakin berkembang. Akan tetapi, pengobatan MDR TB lebih sulit, mahal, dan banyak efek samping. Angka kesembuhan pengobatan TB kebal obat pun masih relatif rendah.

Melihat kondisi tersebut, edukasi yang tepat perlu terus dibangun agar kesadaran berobat kian meningkat. Tidak cukup jika hanya menunggu pemerintah menggelontorkan anggaran untuk pengobatan MDR TB yang saat ini masih demikian mahal. Selain itu, dukungan penuh dari masyarakat berupa perilaku hidup sehat juga sangat diperlukan untuk melakukan pencegahan TB. Menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang dahak sembarangan, dan mengatur agar sinar matahari bisa cukup masuk rumah ialah beberapa hal yang dapat diupayakan.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr