Tentu Anda pernah mendengar kata “malaria”. Namun apakah Anda sudah kenal lebih dekat dengan malaria?

EPIDEMIOLOGI MALARIA

Malaria merupakan penyakit yang masih menjadi masalah di Indonesia. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2010, prevalensi nasional malaria sebesar 0.6% dimana ada sebelas provinsi yang memiliki Annual Parasite Incidence/API (angka morbiditas per 1000 penduduk yang berisiko dalam satu tahun) diatas angka rata-rata nasional yaitu (1) Nusa Tenggara Barat (2) Maluku (3) Maluku Utara (4) Kalimantan Tengah (5) Bangka Belitung (6) Kepulauan Riau (7) Bengkulu (8) Jambi (9) Sulawesi Tengah (10) Gorontalo dan (11) Aceh. Selain itu, ada tiga provinsi yang memiliki tingkat prevalensi tertinggi dan ditemukan di wilayah timur Indonesia, yaitu (1) Papua Barat (10.6%), (2) Papua (10.1%) dan Nusa Tenggara Timur (4.4%). Oleh karena itu, daerah-daerah tersebut dikenal dengan daerah endemis malaria.

Referensi gambar: www.cdc.gov

Referensi gambar: www.cdc.gov

PENYEBAB MALARIA

Malaria disebabkan oleh parasit yang dikenal dengan nama Plasmodium sp. Hingga saat ini dikenal lima spesies plasmodium yang diketahui dapat menyebabkan penyakit pada manusia yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi. Parasit-parasit tersebut dapat masuk kedalam tubuh manusia diperantarai oleh nyamuk Anopheles. Jadi, malaria disebabkan oleh Plasmodium sp dan diperantarai oleh nyamuk Anopheles.

Nyamuk anopheles merupakan vektor dari malaria. Ciri khas nyamuk ini adalah berposisi menungging saat sampai diatas kulit manusia atau menghisap darah. Siklus hidup nyamuk anopheles termasuk siklus hidup sempurna yang mencakup telur (1-2 hari), jentik (6-8 hari), kepompong (1-2 hari) dan nyamuk (2-3 bulan). Habitat perkembangbiakan nyamuk ini dapat terjadi di tambak terbengkalai, bak benur terbengkalai, kolam, lagun, rawa-rawa, parit, sungai, sawah, saluran irigasi, sumur, kubangan, kobakan, kolam pascatambang, bak air dan mata air.

Nyamuk Anopheles

Referensi gambar: www.everythingessential.me

KELUHAN KLINIS MALARIA

Ketika seseorang menderita penyakit malaria, biasanya terdapat keluhan-keluhan khas berupa trias malaria yang dapat dikenali yaitu demam, menggigil dan berkeringat. Selain itu, keluhan lainnya meliputi sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal. Tanda klinis yang biasa didapat oleh seorang dokter adalah demam (suhu diatas 37,5oC saat pengukuran suhu di ketiak), telapak tangan pucat, pembesaran limpa (splenomegali), pembesaran hati (hepatomegali), bahkan pada kasus yang berat dapat terjadi gangguan kesadaran hingga urine berwarna coklat kehitaman.

Referensi: www.mayoclinic.org

Referensi gambar: www.mayoclinic.org

DIAGNOSIS MALARIA

Berdasarkan panduan tentang malaria dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, kecurigaan malaria dapat dipertimbangkan berdasarkan keluhan klinis semata. Namun penegakkan diagnosis pasti malaria adalah adanya keluhan klinis malaria dan harus dikonfirmasi dengan diagnosis parasitologis (ditemukan parasit malaria didalam darah melalui pemeriksaan mikroskop).

PENCEGAHAN MALARIA

Tentu pencegahan sangat berperan penting agar tidak menderita penyakit malaria. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah mencegah gigitan nyamuk dan mengonsumsi obat kemoprofilaksis.

CEGAH GIGITAN

Kementerian Kesehatan menyarankan pengendalian komprehensif terhadap vektor nyamuk meliputi (1) Pengendalian fisik mencakup penimbunan kolam, pengangkatan tumbuhan air, pengeringan sawah berkala minimal dua minggu sekali dan pemasangan kawat kasa pada jendela (2) Pengendalian biologi mencakup penebaran ikan, bacillus thuringiensis dan predator larva lainnya (3) Pengendalian kimia yang dapat dilakukan adalah penggunaan kelambu berinsektisida, indoor residual spray, repellent/penolak nyamuk, insektisida rumah tangga dan penaburan larvasida. CDC (Centers for Disease Control and Prevention) juga menyarankan hal yang sama dengan tambahan berupa selalu menggunakan baju lengan panjang, celana panjang dan topi saat pergi ke daerah endemis

KEMOPROFILAKSIS

Kemoprofilaksis adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terinfeksi malaria dan gejala klinisnya tidak menjadi berat walaupun akhirnya terinfeksi. Biasanya kemoprofilaksis diberikan pada seseorang yang pergi menuju daerah endemis malaria dalam waktu singkat seperti peneliti dan turis.

Kemoprofilaksis diberikan terutama untuk menurunkan risiko terinfeksi dari Plasmodium falciparum karena virulensinya dianggap tinggi. Oleh karena Plasmodium falciparum sudah banyak dilaporkan mengalami resistensi terhadap klorokuin, disarankan untuk tidak menggunakan klorokuin sebagai profilaksis. Pengganti dari klorokuin yang dapat digunakan sebagai profilaksis adalah doksisiklin. Penggunaan doksisiklin diberikan satu hari sebelum pergi ke daerah endemis dengan dosis 2 mg/kgBB setiap hari selama tidak lebih dari 12 minggu. Sayangnya ada beberapa kontraindikasi dari penggunaan doksisiklin yaitu riwayat hipersensitif terhadap tetrasiklin, anak berusia kurang dari 8 tahun, ibu hamil dan menyusui, dan pasien dengan disfungsi ginjal. Jika ibu hamil ingin pergi ke daerah endemis malaria, pemberian obat antimalarial yang aman untuk kehamilan seperti klorokuin dan meflokuin sangat penting untuk mencegah terinfeksi oleh malaria.

Efektivitas obat profilaksis sudah banyak diteliti. Studi yang dilakukan oleh Ohrt et al pada tentara Indonesia yang non-imun dan menjaga daerah perbatasan membuktikan bahwa efektivitas proteksi doksisiklin sebesar 99% dan efektivitas proteksi meflokuin sebesar 100%. Dari studi ini, terlihat bahwa kedua obat profilaksis tersebut memberikan proteksi yang baik bagi individu non-imun.

Sudah mengenal lebih dekat dengan malaria, bukan? Ayo kita berjuang bersama-sama untuk menurunkan kejadian malaria dengan menerapkan prinsip-prinsip pencegahan! Salam sehat untuk Bangsa Indonesia 🙂

Referensi: wecare.standardbank.co.za

Referensi gambar: wecare.standardbank.co.za

Referensi

  1. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2013 Tentang Pedoman Tata Laksana Malaria.
  2. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman penatalaksanaan kasus malaria di Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2008.
  3. Ohrt, et al. Mefloquine compared with docycycline for the prophylaxis of malaria in Indonesian soldiers: a randomized double-blind, placebo-controlled trial. Ann Intern Med. 1997; 126:963.
Apri Haryono Hafid
Anggota Desk Buku – Direksi Media Aesculapius 2014-2015

FKUI 2012

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr