Maraknya bunuh diri di Indonesia diakibatkan oleh menurunnya kesehatan mental masyarakat Indonesia. Sudah lupakah dunia kesehatan saat ini akan salah satu anggota tubuhnya?

 

gangguan kesehatan mental

Gambar 1. Bunuh diri akibat gangguan kesehatan mental (Sumber : http://altpress.cz/konec-pani-bunove-aneb-psi-v-lomu-vyji-da/)

 

Saat ini, bunuh diri bukan lagi sekadar judul berita di media massa yang kita dengar atau baca. Bunuh diri merupakan suatu isu kesehatan yang sangat dekat dengan kita dalam tingkatan personal. Pasalnya, menurut organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), sehat berarti suatu keadaan utuh yang mencakup aspek fisik, mental, dan sosial. Hal ini berarti seseorang dikatakan sehat tidak serta-merta karena ia terbebas dari suatu penyakit atau kecacatan. Stigma sehat yang muncul dalam masyarakat lebih menekankan pada kesehatan fisik. Pengabaian aspek lainnya yang tidak kalah penting, seperti kesehatan mental, acapkali dilakukan. Hal ini juga terbukti dari banyaknya program eradikasi penyakit, namun sedikit sekali bahkan tidak adanya perhatian yang diberikan pada ranah kesehatan mental.

Indonesia termasuk negara penyumbang angka yang besar dalam kejadian bunuh diri di seluruh dunia. Fenomena bunuh diri di Indonesia kian meningkat mencapai angka 82 orang melakukan bunuh diri per harinya.

Ternyata, isu bunuh diri tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di dunia. Berdasarkan data yang dilansir WHO,  setiap 40 detik terdapat 1 orang di dunia yang meninggal karena tindakan bunuh diri. Kasus kematian bunuh diri bahkan menghasilkan angka lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah korban perang dan pembunuhan.

Ironisnya, bunuh diri yang kian marak ini mayoritas terjadi pada usia produktif. Data dari WHO pada tahun 2015 mencatat bunuh diri sebagai penyebab kematian nomor dua pada kaum usia 15-29 tahun. Penduduk dengan golongan usia tersebut sebagian besar merupakan remaja, mahasiswa, dan pemuda yang sejatinya merupakan generasi penerus bangsa.

Bunuh diri bukanlah hal yang tidak dapat dicegah. Hal tersebut berkaitan erat dengan kebimbangan. Setiap manusia melakukan peperangan antara sisi self dan sisi anti-self . Sisi self meyakinkan manusia bahwa ia ditempatkan di dunia ini untuk memainkan suatu peran tertentu. Sebaliknya, sisi anti-self  membuat manusia berpikir bahwa dirinya tidak berharga, tidak layak, dan tidak seharusnya berada di dunia ini. Peperangan antara kedua sisi ini dapat dimenangkan jika jiwa yang bimbang ini teraih dengan tepat.

Bunuh Diri dan Kesehatan Mental di Indonesia

Kembali melihat pada Indonesia. Berbicara mengenai masalah kesehatan mental dan kasus bunuh diri masih dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Masyarakat Indonesia menganggap bahwa gangguan kesehatan mental, apalagi tindakan bunuh diri, merupakan sesuatu yang memalukan dan menjadi aib keluarga. Hal ini menjelaskan masalah kesehatan mental di Indonesia menjadi seperti bongkahan es. Terlihat kecil di atas, tetapi jika dilihat ke dasar, begitu banyak hal yang tidak diketahui masyarakat Indonesia hingga masalah kesehatan mental ini tak kunjung usai dan malah bertambah marak.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan masalah kesehatan mental ini tidak terlepas dari kurangnya pemaparan dan kebijakan terkait oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah sudah seharusnya mulai memberikan perhatian pada ranah kesehatan mental ini agar masyarakat pun bisa ikut diperkenalkan terhadap pentingnya kesehatan mental. Seperti yang telah disebutkan di atas, jika orang-orang yang memiliki gangguan pada kesehatan mentalnya dapat diraih dengan tepat, maka kematian yang sia-sia pun dapat dihindari. Pertanyaannya adalah masih perlukah angka kematian generasi muda akibat bunuh diri meningkat demi mendapatkan sedikit perhatian pemerintah terhadap salah satu aspek kesehatan yang sering terabaikan ini? erin

 

Referensi:

  1. Behalf V, Karim S. Sosiolog UNM: 82 kasus bunuh diri di Indonesia dalam sehari. Rakyatku News [Internet]. 2016 [cited 2016 July 12]. Available from: http://news.rakyatku.com/read/4628/2016/05/14/sosiolog-unm-82-kasus-bunuh-diri-di-indonesia-dalam-sehari
  2. Maharani D, Dewi BK. Bunuh diri salah satu penyebab kematian tertinggi usia produktif. Kompas.com [Internet]. 2015 [cited 2016 July 12]. Available from: http://health.kompas.com/read/2015/09/11/160000723/Bunuh.Diri.Salah.Satu.Penyebab.Kematian.Tertinggi.Usia.Produktif
  3. BBC Indonesia. Bunuh diri di kalangan remaja meningkat. BBC Indonesia [Internet]. 2015 [cited 2016 July 12]. Available from: http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/09/150922_majalah_bunuh_diri
  4. Bunuh diri penyebab utama kematian remaja. CNN Indonesia [Internet]. 2014 [cited 2016 July 12]. Available from: http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20140910124240-255-2933/bunuh-diri-penyebab-utama-kematian-remaja/
  5. Health Definition. Preamble to the Constitution of the World Health Organization as adopted by the International Health Conference, New York, 19-22 June, 1946; signed on 22 July 1946 by the representatives of 61 States (Official Records of the World Health Organization, no. 2, p. 100) and entered into force on 7 April 1948. Definition has not been amended since 1948.

 

Joanna Erin
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) 2015
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr