http://images.agoramedia.com/everydayhealth/gcms/photogallery_breaking_bad_habits_for_a_better_immune_system_06_full.jpg

http://images.agoramedia.com/everydayhealth/gcms/photogallery_breaking_bad_habits_for_a_better_immune_system_06_full.jpg

Di era modern ini, remaja akhir perempuan yang berumur 17-25 tahun (Depkes RI, 2009), cenderung untuk mengikuti trend, terutama untuk memiliki postur tubuh dan berat badan yang ideal. Berbagai usaha dilakukan untuk mengikuti postur tubuh dan berat badan yang diinginkan, sehingga terbentuk perilaku makan yang buruk. Perilaku makan ini secara langsung berdampak buruk terhadap status gizi para remaja dan dewasa muda perempuan, yang juga merupakan para calon ibu. Lalu, adakah hubungan antara perilaku diet tersebut terhadap bayi berat lahir rendah?

Perilaku Diet yang Buruk

Remaja perempuan berada di fase perkembangan psikologis yang masih cukup labil. Sehingga mereka lebih mudah menyerap dan mengikuti lingkungannya. Pengaruh keluarga, media, peer group sosial dan aspek lainnya, membentuk image bahwa postur tubuh yang ideal bagi perempuan adalah yang kurus. Berbagai perilaku makan yang buruk pun terjadi. Perilaku makan yang buruk tersebut dapat memungkinkan terjadinya eating disorder, yang merupakan keadaan lebih lanjut setelah perilaku diet yang buruk. Eating disorder merupakan gangguan psikiatrik yang disertai dengan komplikasi medis yang signifikan dan perubahan psikososial (Eldestein, 2015). Perilaku diet yang buruk secara langsung mengurangi status gizi remaja sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan remaja.

Kebutuhan Gizi, Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja Akhir

Standar angka kebutuhan gizi remaja telah ditetapkan oleh WHO, Depkes RI, IOM dan pihak lainnya. Namun, standar angka tersebut masih harus disesuaikan dengan kebutuhan individu, karena bergantung dengan faktor indeks massa tubuh dan intensitas aktivitas fisik masing-masing. Kebutuhan gizi pada remaja perempuan sangat penting untuk dipenuhi, agar pertumbuhan dapat tercapai dengan maksimal. Zat gizi yang substansial pada perkembangan remaja perempuan adalah energi, karbohidrat, protein, lemak, zat besi, asam folat dan kalsium. Remaja yang melakukan perilaku diet yang buruk, cenderung mengalami defisiensi zat-zat gizi tersebut karena berasal dari sumber makanan hewani seperti daging dan susu.

Pubertas mendorong terjadinya kenaikan kebutuhan gizi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan remaja. Pertumbuhan yang cukup signifikan antara lain adalah pertumbuhan massa skeletal, massa tubuh (otot) dan massa lemak tubuh. Pada remaja perempuan, pertumbuhan massa skeletal penting untuk dicapai secara maksimal untuk mendukung kelangsungan kehamilan. Jumlah massa lemak tubuh juga harus dijaga, karena lemak berperan dalam sekresi hormon.

Potensi Melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah

Remaja akhir perempuan yang menjadi calon ibu, hendaknya memiliki status gizi yang baik. Perilaku diet yang buruk, apabila tidak diatasi, akan menjadikan tubuh menjadi kurus dan mengalami defisiensi zat gizi tertentu. Padahal, calon ibu hendaknya memenuhi standar lingkar tangan dan pinggang. Hal tersebut penting sebagai suatu tolak ukur kecukupan kadar lemak dan ukuran pinggang yang sesuai untuk keberlangsungan kehamilan. Selain itu, individu yang melakukan perilaku diet yang buruk, cenderung mengalami anemia karena kekurangan zat besi. Anemia zat besi dapat mengurangi kapasitas darah untuk mengangkut oksigen dan zat makanan bagi janin. Apabila kekurangan zat gizi besi terus terjadi, maka bayi cenderung dapat mengalami lahir dalam keadaan berat yang rendah. Bayi dengan berat lahir rendah memiliki risiko yang buruk terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan fungsi fisiologis di masa depan, apabila tidak ditanggulangi dengan baik.

Bagaimana Mencegahnya?

Dampak perilaku diet dan potensi melahirkan bayi berat lahir rendah sejatinya dapat dicegah. Hal yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  1. Bersyukur dan memiliki rasa percaya diri terhadap kondisi tubuh saat ini
  2. Memiliki daftar kebutuhan gizi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing (indeks massa tubuh dan aktivitas fisik)
  3. Memantau berat badan
  4. Berolahraga dengan teratur
  5. Tidak memilih-milih makanan (bersifat picky eater)
  6. Tidak menghindari sumber makanan hewani
  7. Melakukan pengecekan kesehatan sebelum menikah
  8. Mengkonsultasikan diri pada dokter atau ahli gizi apabila ingin melaksanakan diet

 

Pengetahuan sejak dini tentang dampak perilaku diet dan pentingnya memiliki status gizi yang baik, penting untuk dimiliki para remaja perempuan. Oleh karena itu, hendaknya para remaja perempuan mengetahui dan mengetahui standar kebutuhan gizi mereka agar pertumbuhan dan perkembangan mereka dapat tercapai dengan maksimal.

REFERENSI:

Brown JIsaacs J. Nutrition through the life cycle. Belmont, CA: Wadsworth, CENGAGE Learning; 2011.

Edelstein, Sari. Life cycle nutrition. Sudbury, Mass.: Jones and Bartlett Publishers; 2015.

Chyntia Aryanti Mayadewi
Undergraduate Student of Nutrition Department, FKM UI.
Put her concern on maternal and child’s health.
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr