Kenali Generalized Anxiety Disorder (GAD), atasi dengan tepat!

Simposium Anxiety Disorder

Sumber: Dokumen pribadi

Banyaknya pasien yang mengeluhkan gangguan mental di pelayanan kesehatan primer mendorong Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Kalimantan Barat mengadakan Simposium dan Workshop “Anxiety Disorder” di Pontianak. Kegiatan ini diadakan di Hotel Mercure pada Sabtu, 30 Juli 2016. Mengangkat tema gangguan kecemasan, penyelenggara berharap melalui kegiatan ini ilmu mengenai gangguan kecemasan dapat dibagikan kepada para peserta, terutama dokter umum.

Sesi seminar dibuka dengan sebuah keynote speech oleh dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K) sebagai ketua PDSKJI Pusat. Topik yang dibawakan adalah generalized anxiety disorder (GAD). “Kita sebagai manusia setiap saat dihadapkan dengan perubahan-perubahan,” ungkap Danardi sebagai pembuka presentasinya, “…yang barangkali dapat mengubah atau mengaduk-aduk emosi kita.” Situasi yang dihadapi sehari-hari bisa saja membuat seorang individu cemas. Selama masih sesuai dengan stressor yang dirasakan, kecemasan itu bersifat fisiologis. Keadaan GAD baru terjadi jika terjadi gangguan emosi dan gangguan fisik.

Bagaimana membedakan cemas yang normal dengan cemas patologis? Cemas patologis terjadi jika sudah terjadi penurunan fungsi tubuh. Lalu, apakah cemas patologis perlu langsung diberikan obat? “Tidak harus! Terapi itu bisa farmakoterapi dan juga behavioral therapy.” Terapi perilaku yang bisa dilakukan contohnya menarik napas panjang.

Dalam menghadapi gangguan mental, pasien sering kali terlambat konsultasi dengan orang yang tepat. Gejala-gejala yang telah muncul biasanya diabaikan dan jika diobati hanya secara simptomatik. “Gangguan mental itu jika penderitanya tidak mengeluh maka lingkungannya yang akan mengeluh.” Faktor lain yang membuat pasien enggan ke psikiater adalah masih adanya stigma negatif di masyarakat tentang berobat ke psikiater. Karena itu, dokter sebaiknya menggunakan istilah yang baik ketika berkaitan dengan gangguan jiwa seperti “gangguan psikis” atau “gangguan pola pikir”.

dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K)

dr. Danardi Sosrosumihardjo, SpKJ(K)
Sumber: Dokumen pribadi

Selain permasalahan dengan pasien, masalah pengobatan dari sisi psikiater juga sering muncul. Masih ada pemikiran bahwa pemberian obat dalam jangka panjang untuk pasien GAD dianggap sebagai ketergantungan obat. Untuk mencegah terjadinya ketergantungan obat, psikiater tidak boleh meng-iter resep psikotropika berlebihan. Pasien GAD harus sering melakukan kontrol agar dosis obat diharapkan dapat dikurangi. Pasien GAD harus diingatkan bahwa terapi GAD tidak hanya dengan minum obat, namun juga terapi perilaku. Dalam memberikan terapi nonfarmakologis, tidak semua psikiater memiliki kemampuan yang optimal dalam memberikan konseling, psikoterapi, atau cognitive behavioral therapy. Selain itu, pasien yang terlalu banyak menyebabkan waktu konsultasi psikiater untuk setiap pasien menjadi tidak optimal. “Kalau sehari pasien yang datang 130, kira-kira terjadi psikoterapi tidak?”

Sebagai dokter, pasien GAD harus dapat dibedakan dari pasien kasus adiksi. Pasien GAD memiliki indikasi medik sedangkan kasus adiksi tentunya tidak. Selain itu, dosis obat untuk pasien GAD sesuai dengan dosis terapi dan cenderung menurun. Hal ini berbeda pada kasus adiksi karena dosis yang diminta tinggi dan malah semakin meningkat. Pasien yang menyalahgunakan obatnya sering kali memperoleh obat secara illegal. Terakhir, pasien kasus adiksi semakin lama akan bertambah buruk keadaannya.

LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr