Aspek-aspek Etik Skrining Prekonsepsi

Sumber: http://abovethelaw.com/wp-content/uploads/2015/03/ethical-dilemma.jpg

Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan nilai manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau salah (Jones, 1994). Masalah etik tak lepas dari setap tindakan yang dilakukan oleh dokter, tentunya karena segala tindakan dokter berhubungan langsung dengan kehidupan manusia. Seringkali, dalam melakukan suatu tindakan, dokter dihadapan oleh dilema etik. Apakah suatu tindakan sesuai dengan nilai dan moral etik yang berlaku di masyarakat? Pasalnya, nilai etik yang beredar di masyarakat dapat berbeda antara suatu daerah dengan daerah lainnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan budaya, ras, dan juga disesuaikan dengan nilai-nilai agama yang berlaku.

Prof. Dr. Ali Baizad, SpOG(K), dalam simposium Flow yang diadakan pada Sabtu, 23 Jui 2016 di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, menjelaskan mengenai aspek-aspek etik skrining prekonsepsi. Simposium yang diselenggarakan oleh Pelantikan Lulusan Dokter (PLD) FKUI bekerja sama dengan BFM dan MA ini mengambil tema pendekatan yang komprehensif pada pengelolaan masalah kehamilan dan kelahiran.

Salah satu masalah umum yang terjadi sebelum kehamilan adalah ditemukaannya cacat pada bayi, baik disebabkan karena kondisi kesehatan bayi tersebut maupun karena kondisi genetik kedua orang tua. Masalah dapat pula terjadi sebelum pernikahan, ketika ditemukan kemungkinan keturunan cacat pada dua orang yang akan menikah. Apakah harus melanjutkan ke tahap yang lebih tinggi? Hal ini yang kemudian menjadi bahasan etik skrining prekonsepsi atau sebelum kehamilan.

Ketika skrining prekonsepsi atau pemeriksaan kehamilan dijalankan dan ditemukan sebuah kelainan, seringkali muncul sebuah pertanyaan, apakah pada pemeriksaan tidak ada kesalahan? Lalu bagaimana tindakan yang disarankan oleh dokter? Dalam kasus ini, apabila kondisi ibu sudah tidak memungkinkan, negara-negara maju mungkin menyarankan untuk membeli embrio milik orang lain. Hal ini dapat berbeda di negara berkembang, dengan kondisi budaya yang berbeda pula.

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan ketika janin telah berkembang menjadi blastosit. Apabila ternyata benar terjadi kelainan sehingga janin tidak dapat diselamatkan dan dapat membahayakan ibu, dapat dilakukan aborsi genetik. Hal ini hanya dilakukan pada kelainan genetik yang mayor. Tentu saja, hal yang sangat penting adalah melakukan informed consent kepada pihak yang terkait. Dr. Ali menuturkan, “Harus melakukan informed consent. Dengan informed consent, sebuah tindakan yang dilakukan oleh dokter diizinkan oleh pasien.”.

Pada informed consent tersebut, dokter juga sebaiknya menjelaskan bahwa pemeriksaan dapat dilakukan, namun tidak dapat menjamin hasil yang didapat 100% benar. Selain itu, baik tindakan maupun pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter yang telah terbukti kompeten.

Dilema etik akan sering sekali dijumpai dalam setiap tindakan dokter. Oleh karena itu, dokter diharapkan mampu mengambil keputusan yang bijak dan sesuai dengan etika yang berlaku dan dapat diterima. Penting bagi dokter untuk memberikan informasi sejujurnya kepada pasien terkait kondisi yang ada, seperti biaya pemeriksaan, kemungkinan kesalahan, serta konsekuensi lainnya. Namun, bukan berarti tindakan yang menyebabkan dilemma etis harus dihindarkan. (Nayla)

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr