Kerap menjadi pelarian nomor satu ketika orang menderita sariawan, kini Albothyl hilang dari peredaran. Bagaimana nasibnya selanjutnya?

albothyl

Albothyl merupakan obat yang sudah dikenal luas oleh masyarakat umum sebagai obat ampuh yang dapat mengatasi sariawan (stomatitis aftosa) dalam sekejap walau disertai dengan sakit yang luar biasa ketika tetesannya menyentuh sariawan. Selain itu, Albothyl juga dikenal atas penggunaannya dalam mengobati bau mulut dan pada vagina. Selama 35 tahun terakhir, obat ini sudah beredar di masyarakat. Albothyl dijual bebas terbatas dan dapat ditemukan di berbagai apotek. Akibatnya, ketika mengalami sariawan, mayoritas masyarakat langsung memilih obat “ajaib” ini sebagai solusinya. Namun, per Februari 2018, izin peredaran Albothyl dibekukan sementara oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Mengapa?

BPOM sebagai badan yang mengawasi beredarnya obat dan makanan di Indonesia secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat melalui sistem farmakovigilans. Melalui sistem ini, BPOM secara berkala mengamati efek samping maupun masalah lain yang terkait dengan penggunaan obat. Dengan demikian, BPOM dapat menjamin keamanan, kemanfaatan, serta mutu dari obat-obat yang beredar.

Terkait dengan kasus Albothyl, BPOM telah menerima 38 laporan dari berbagai tenaga kesehatan yang mendapati pasien dengan keluhan efek samping serius dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Laporan yang diterima umumnya terkait efek samping pengobatan Albothyl untuk sariawan. Keluhan paling banyak yaitu sariawan membesar dan berlubang serta menyebabkan infeksi yang menampilkan gejala lesi seperti noma.

Konsentrat utama pada Albothyl adalah policresulen, suatu obat topikal turunan fenol. Selama ini, Albothyl digunakan untuk hemostatik (penghenti darah) dan antiseptik ketika pembedahan dan pada kulit, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), gigi, vaginal (ginekologis), serta untuk kasus sariawan. Policresulen bekerja secara selektif pada jaringan mati atau jaringan patologis dengan menghasilkan koagulasi (penggumpalan), dilanjutkan dengan eliminasi jaringan terkait.

Setelah mendapatkan laporan-laporan tentang efek samping serius dari Albothyl, terutama untuk sariawan, BPOM akhirnya membekukan sementara izin peredarannya. Bersama dengan ahli farmakologi serta klinisi dari profesi terkait, BPOM memutuskan bahwa cairan obat luar konsentrat yang mengandung policresulen tidak diizinkan untuk digunakan sebagai antiseptik dan hemostatik untuk pembedahan, penggunaan pada kulit, THT, gigi, dan sariawan. Untuk itu, pembekuan izin edar ditetapkan hingga adanya perbaikan indikasi Albothyl yang disetujui oleh BPOM. Selain itu, ada pula beberapa obat lain yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat, seperti Medisio, Prescotide, dan Aptil. Obat-obat tersebut kini juga ditarik dari peredaran.

Sejak surat keputusan pembekuan izin edar terbit pada 15 Februari 2018, Albothyl hanya memiliki satu bulan untuk beredar sebelum secara resmi dibekukan. Saat artikel ini terbit, Albothyl sudah tidak dapat ditemukan lagi di apotek-apotek maupun toko obat lainnya. Namun, pastinya masih banyak orang yang memilikinya di tempat tinggal masing-masing. BPOM tetap mengimbau para tenaga kesehatan dan masyarakat untuk menghentikan penggunaan obat yang indikasinya tidak diizinkan oleh BPOM. Untuk pengobatan sariawan, BPOM menganjurkan masyarakat untuk mengobatinya dengan obat lain yang mengandung benzydamine HCL, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium klorida dan vitamin C.

Penggunaan Albothyl untuk beberapa indikasi yang disebutkan di atas memang tidak diizinkan. Namun, penggunaan untuk indikasi lainnya masih diperbolehkan. Penggunaan obat ini pada kelamin wanita masih tergolong aman. Indikasinya yaitu servisitis, hemostasis pascabiopsi dan pascapengangkatan polip servikal, dan vaginitis. Pada indikasi tersebut, obat digunakan dalam bentuk ovula dengan dosis 90 mg. Ovula dimasukkan ke dalam vagina sebelum tidur setiap hari selama 1—2 minggu. Selain itu, obat ini juga digunakan pada kauterisasi sebagai larutan 360 mg/g yang tidak diencerkan. Larutan tersebut digunakan 1—2 kali seminggu. Terakhir, obat ini dapat juga digunakan sebagai pembersih vagina dalam bentuk larutan dengan pengenceran 1:1 hingga 1:5.

Kini, Albothyl harus mengubah indikasi obatnya agar dapat beredar kembali. Indikasi penggunaan yang ternyata tidak tepat, terutama sariawan, harus segera dihentikan oleh masyarakat yang masih memiliki Albothyl di tangan mereka. Saat ini, kita tinggal menantikan kembalinya Albothyl dengan indikasi yang lebih tepat.

 

Referensi:

  1. MIMS Indonesia. Policresulen [Internet]. 2018 [cited on 2018 Jun 27]. Available on: http://www.mims.com/indonesia/drug/info/policresulen/?type=brief&mtype=generic
  2. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Penjelasan BPOM RI terkait isu keamanan obat mengandung policresulen cairan obat luar konsentrat [Internet]. 2018 Feb 15 [cited on 2018 Jun 27]. Available on: https://www.pom.go.id/mobile/index.php/view/klarifikasi/80/PENJELASAN-BPOM-RI–TERKAIT-ISU-KEAMANAN-OBAT-MENGANDUNG-POLICRESULEN-CAIRAN-OBAT-LUAR-KONSENTRAT.html
Mahasiswa FKUI
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr