Apa itu ADB?

Anemia defisiensi besi adalah keadaan defisiensi zat besi yang menyebabkan produksi sel darah merah yang abnormal secara struktural dan fungsional. ADB menyebabkan kemampuan sel darah merah untuk mengikat oksigen menurun. Fungsi utama zat besi adalah mensintesis hemoglobin sebagai protein transpor oksigen di sel darah merah. Defisiensi besi menyebabkan deplesi hemoglobin sehingga jaringan tubuh tidak mendapatkan perfusi oksigen yang cukup untuk melakukan metabolisme. ADB sangat umum di populasi rentan seperti bayi, balita, remaja perempuan dan ibu hamil.

Peran Zat Besi dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Terpenuhinya kebutuhan zat besi dalam 2 tahun pertama kehidupan anak sangatlah penting demi perkembangan kognitif. Jika terjadi ADB jangka panjang, kemampuan kognitif anak menurun permanen. Anak menjadi lamban dalam memproses informasi dan pembentukan memori. Perubahan perilaku seperti lekas marah dan kesulitan interaksi sosial mulai terjadi. Selain itu, sistem imunitas yang membutuhkan zat besi dalam pembentukan sel radang tidak mampu melawan infeksi viral maupun bakterial.

Penyebab dan Gejala Umum ADB

Secara umum, penyebab ADB adalah asupan besi yang rendah, laju pembuangan besi yang tinggi dan kebutuhan besi yang meningkat.

Kurangnya konsumsi makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah, ikan, hati, dan bayam adalah penyebab utama ADB . Gangguan penyerapan besi akibat kelainan saluran cerna menyebabkan asupan yang rendah. Selanjutnya, kondisi berupa infeksi TB, keganasan, perdarahan saluran cerna yang mendorong laju pelepasan besi dari tubuh. Kondisi khusus seperti anak-anak, kehamilan dan laktasi memiliki kebutuhan besi yang meningkat dibandingkan kondisi normal.

Gejala yang paling sering ditemukan adalah pucat yang berlangsung lama, mudah lelah berlebihan, mudah terkena infeksi, penurunan prestasi belajar, depresi, pica (kecenderungan mengunyah benda selain makanan), syndrome restless leg (anak secara tidak sadar selalu menggerakan kaki untuk mengurangi rasa tidak nyaman), rambut rontok, perubahan kuku menyerupai sendok, ulcer di sekitar mulut, pusing, dan kehilangan kemampuan mendengar secara tiba-tiba.

Penanganan ADB

Penanganan ADB sangatlah mudah yaitu konsumsi zat besi elemental secara oral dengan dosis 3-5 mg/kgBB setelah makan dibagi dalam 2 dosis. Durasi konsumsi zat besi minimal 3 bulan setelah kadar hemoglobin darah kembali normal. Absorpsi zat besi di saluran cerna meningkat signifikan jika diberikan bersamaan dengan vitamin C sebanyak 2 x 50 mg/hari. Hindarilah teh, kopi, susu, makanan berserat tinggi serta obat-obatan seperti antasida karena substrat tersebut dapat menganggu penyerapan besi.

Mudah bukan mengenali tanda-tanda ADB? Perhatikan selalu anak-anak Anda dan berikan makanan kaya zat besi demi pertumbuhan optimal sang buah hati!

 

living a life 🙂
FKUI 2015
LineFacebookTwitterGoogle+PinterestTumblr